Selasa , 26 September 2017
Home / HALAL / Sofyan Hotels tak Kehilangan Pasar Walau Jadi Hotel Syariah
Hotel Sofyan Menteng, Jakarta Pusat (foto: ezytravel)

Sofyan Hotels tak Kehilangan Pasar Walau Jadi Hotel Syariah

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Menjadi hotel dengan manajemen sesuai syariah dan membuat bisnis hotelnya jadi hotel halal pertama, tidak membuat PT Sofyan Hotels Tbk kehilangan pasar. Mengubah layanan yang semual tidak baik menjadi sesuai nilai Islam membuat bisnis Sofyan Hotels tetap bertahan.

Komisaris Utama PT Sofyan Hotels Tbk, Riyanto Sofyan, menceritakan, Sofyan Hotels berdiri di awal 1970an dan pada 1989 sudah jadi perusahaan publik. Pada 1990 bersama Brookshire Hotels AS, Sofyan Hotels meningkatkan manajemen dan pada 1992 mulai melakukan sertifikasi halal.

“Konsep kami inklusif, nyaman, bisa dinikmati dan ramah bagi semua. Karena itu, tamu kami juga ada tamu asing,” kata Riyanto dalam Indonesia International Halal Lifestyle Expo & Conference (IIHLEC) 2016 di Ciputra Artprenuer, Kamis (6/10/2016), seperti dikutip Republika.

Berada di level ini, Sofyan Hotels melalui beberapa tahap. Pada 1993 adalah masa pengkondisian. Pada 1998 kelab malam ditutup dan penjualan naik 19,55 persen.

Pada, 1999 menyusul diskotek tutup dan penjualan naik 10 persen. Penjualan minuman beralkohol dihentikan pada tahun 2000, tapi penjualan naik 13 persen. Dua tahun kemudian pada 2002, Sofyan Hotels mulai menyeleksi tamu, namun penjualan tetap naik 15 persen.

Pada 2003, dibuat standar prosedur dan manajemen jadi sesuai syariah. Di tahun yang sama pula dilakukan amandemen dasar perusahaan dimana di dalamnya terdapat pernyataan bisa memberhentikan direksi bisa terbukti melanggar syariat.

“Di tahun itu kami jadi lembaga bisnis syariah pertama Indonesia setelah mendapat sertifikat bisnis halal dari Dewan Syariah Nasional MUI. Pertumbuhan bisnis kami baik, rata-rata tumbuh 15 persen per tahun,” ungkap Riyanto.

Komitemen ini kemudian dibakukan dalam standar yang disertifikasi ISO dan DSN MUI, termasuk pembinaan SDM di Sofyan Institute.

Dengan berevolusinya industri halal dari pangan, ke keuangan, dan kini ke gaya hidup halal, mengikuti tren pariwisata halal tidak sulit. Karakter wisata yang ramah Muslim sebenarnya sederhana yakni makanan yang bersertifikat halal, toilet dengan fasilitas bersuci menggunakan air, fasilitas shalat, dan atraksi yang ramah untuk Muslim. [AF/ROL]

Baca Juga

Promo Wisata Halal Dongkrak Kunjungan Turis Asing ke Lombok

Mataram (PIKIRANUMAT) – Kunjungan wisatawan mancanegara di Nusa Tenggara Barat mengalami kenaikan hingga 65,5% atau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *