Selasa , 26 September 2017
Home / HEALTH / Guru Besar IPB: Pangan Lokal Terbukti Lebih Sehat
Ilustrasi: sayur lokal.

Guru Besar IPB: Pangan Lokal Terbukti Lebih Sehat

Bogor (PIKIRAN UMAT) – Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB, Prof Made Astawan mengatakan tanaman pangan lokal Indonesia secara alami mengandung berbagai komponen bioaktif, yang berkhasiat untuk kesehatan.

“Untuk hidup sehat, kita tidak hanya membutuhkan zat-zat gizi, tetapi juga zat-zat non gizi berupa berbagai senyawa fitokimia yang merupakan komponen bioaktif untuk mencegah berbagai penyakit,” kata Made Astawan, di Bogor, Ahad (16/10/2016).

Ia menjelaskan, beberapa pangan tradisional dapat digolongkan sebagai pangan fungsional, karena selain mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, juga mengandung berbagai komponen bioaktif uang berperan penting bagi kesehatan.

Seperti tempe, pangan tradisonal Indonesia telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan karena memiliki aktivitas seperti, hipoglikemik, hipotensifm imonumodulator, antioksidan, anti inflamasi, anti-alergi, anti-aterosklerosis, anti-trombosit dan antimikroba.

Begitu juga Dadih (susu sapi murni yang disimpan dalam bambu, makanan tradisional dari Sumatera Barat) menghasilkan berbagai peptida dari protein yang terhidrolasi.

“Peptida-peptida ini dapat berperan untuk meningkatkan penyerapan kalsium dan zat besi, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan tekanan darah, menekan sel tumor, antitrombotik,” katanya.

Menurut Prof Made, saat ini konsusmi pangan berbahan baku lokal Indonesia jumlahnya terus menurun. Sejak 2005, mayoritas masyarakat Indonesia bertumpu pada satu sumber karbohidrat utama yakni beras dan terigu.

Di satu sisi, data dari WHO menunjukkan proporsi kematian di Indonesia sebagai besar (71 persen)dikarenakan penyakit tidak menular (PTM) yakni kardiovaskuler 37 persen, kanker 13 persen, diabetes 6 persen, penyakit perfanasan kronis 5 persen, dan PTM lainnya 10 persen. Sedangkan kematian menular dan yanh terkait kekurangan gizi hanya sebesar 22 persen.

“Tingginya kematian akibat penyakit degeneratif menunjukkan pola makan penduduk yang tidak sehat, terutama akibat konsumsi bahan pangan yang kurang beragam, berimbang dan bergizi, serta masih tingginya penggunaan gula, garam dan lemak dalam pengolahan makanan,” katanya. [SR/ANTARA]

Baca Juga

YLKI: Waspadai Makanan Mi Kuning Mengandung Formalin

Medan (SI Online) – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Sumatera Utara minta kepada masyarakat agar mewaspadai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *