Selasa , 26 September 2017
Home / HEALTH / Jangan Baper, Jaga Kesehatan dengan Mudah Tersenyum
Peserta Seminar dan Workshop Neuro Linguistic Parenting, di Auditorium FH-UI, Ahad (30/10).

Jangan Baper, Jaga Kesehatan dengan Mudah Tersenyum

PIKIRAN UMAT – Banyak kita lihat atau bahkan terjadi pada anggota keluarga kita sendiri tentang adanya penyakit-penyakit berbahaya yang mereka derita. Seperti kanker, hepatitis-B, dan diabetes, yang mana penyakit itu tak jarang mengakibatkan kematian

Penyakit-penyakit berbahaya tersebut sebenarnya tidak hanya terjadi karena pola hidup yang kurang sehat. Banyak faktor yang ternyata dapat mempengaruhi kesehatan fisik, diantaranya faktor genetik, perilaku, sarana dan pra-sarana, serta lingkungan sosial.

Selain itu, ada faktor lain yang ternyata jauh lebih berpengaruh terhadap kondisi kesehatan fisik, yakni kondisi kesehatan jiwa.

Dr Bintang Bayu Ariandi yang merupakan dokter Rumah Sakit Jiwa mengatakan, bahwa emosi merupakan penentu kesehatan.

“Emosi dan perasaan jiwa seseorang merupakan penentu status kesehatan, bukan lagi higienis atau pola hidup bersih,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam Seminar dan Workshop Neuro Linguistic Parenting yang diselenggarakan oleh Gemma Insani Indonesia Foundation, di gedung Auditorium Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Ahad (30/10/2016).

Lebih lanjut ia mengatakan, bagi mereka yang selalu merasa senang, tentram dan bahagia dalam hidupnya , tidak merasa terbebani oleh masalah-masalah yang dihadapi, maka hormon dopamine meningkat sehingga membuat semangat dalam menjalani kehidupan lebih tinggi.

“Berbeda dengan mereka yang memiliki perasaan yang tidak tenang, merasa terbebani dengan masalah-masalah yang dihadapinya, sehingga hormon dopamine menurun, diiringi dengan menurunnya semangat untuk menjalani kehidupan yang akhirnya berpengaruh juga pada fisik atau organ-organ dalam tubuhnya,” kata dokter yang juga seorang Trainer Pemberdayaan Diri berbasis Neuroscience ini.

Ia kemudian memberikan contoh perbandingan antara bos di suatu perusahaan dengan mereka yang bekerja sebagai relawan kemanusiaan.

“Dari raut wajah si bos terlihat jauh lebih tua dan si relawan terlihat lebih muda. Hal ini dikarenakan orang yang membahagiakan orang lain, sudah pasti bahagia dalam hidupnya. Senyum yang ia buat tidak terpaksa, rasa bahagia inilah yang menyebabkan hormon kesenangan meningkat,” ujar dokter Bintang.

“Sedangkan si bos sebaliknya, setiap hari berkutat dengan masalah dan ia merasa masalah yang dihadapinya adalah beban dalam hidupnya. Sehingga tak jarang ia marah-marah kepada karyawannya. Inilah yang menyebabkan hormon kebahagian menurun. Dan mempengaruhi kesehatan dan kerja organ lain menjadi tidak maksimal,” lanjutnya.

Ia juga menambahkan, bahwa kontraksi otot wajah juga berpengaruh pada kesehatan fisik. Sehingga mereka yang sering tersenyum memiliki wajah yang terlihat lebih muda dibandingkan dengan mereka yang selalu cemberut.

Maka benarlah hadits Rasulullah yang melarang kita marah,

“Laa taghdob walakal jannah” janganlah marah maka bagimu surga.

Marah selain merupakan sifat yang didatangkan oleh syetan, ia juga merupakan sumber kejahatan. Ketika Marah tekanan darah kita menjadi naik, sistem kerja jantung tak baik, dan tak jarang inilah penyebab terjadinya serangan jantung.

Maka, jika ingin hidup sehat, berbahagilah lebih banyak, kurangi kesedihan dan “baper” yang berlebihan. Karena senyum yang dihasilkan dari rasa bahagia, selain membuat kita terlihat lebih manis, juga merupakan sedekah yang insya Allah mendapatkan ganjaran pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala. (DM)

Baca Juga

YLKI: Waspadai Makanan Mi Kuning Mengandung Formalin

Medan (SI Online) – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Sumatera Utara minta kepada masyarakat agar mewaspadai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *