Senin , 11 Desember 2017
Home / INSPIRASI / Anies Baswedan Lahir dan Besar dalam Keluarga Islami
Ditemani sang istri, Anies Baswedan melakukan kampanye.

Anies Baswedan Lahir dan Besar dalam Keluarga Islami

(Yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya  dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (al-Ra’d [13]: 28).

Anies Baswedan tumbuh sebagai sosok yang berkepribadian tenang dan santun karena memang terbiasamelantunkan dzikir di rumahnya sejak kecil. Dzikir bukan hanya dalam artian melafalkan kalimat-kalimat bagus atau membaca Al-Quran, tapi juga memaknainya secara positif dengan menyebarkan kata-kata yang baik. Karena itu, Anies takkan tega melontarkan kata-kata yang tak pantas diucapkan seorang pemimpin terhadap rakyatnya, apalagi terhadap umatnya.

Anies dididik dalam nuansa keagamaan yang kuat. Ketika kecil, Anies sangat aktif memakmurkan masjid Al-Ittihad, di dekat rumahnya di Yogyakarta. Selain itu, Ibu dan ayahnya: Aliyah dan Rasyid juga meminta bantuan ustadz untuk mengajari Anies dan adik-adiknya di rumah untuk mengaji. Saat remaja, di masa libur, Anies dikirim ke Pondok Pesantren Pabelan, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Di bawah bimbingan K.H. Hammam Dja’far, Anies mendapatkan nilai-nilai keislaman.

Rumah keluarga besar Anies di Gang Grompol, Karangwuni, Jalan Kaliurang KM 5, Yogyakarta menjadi tempat pengajian bagi warga di sekitar. Sang ibu, Profesor Aliyah Ganis, terbiasa secara istiqomah bakda Maghrib membaca Al-Quran satu juz setiap hari, jauh sebelum ada gerakan one day one juz. Di samping itu, Sang Ibu juga menjadi Ketua Umum Wanita Islam di Yogyakarta dan mengisi ceramah ke berbagai daerah dan tempat di Yogyakarta. Yang menarik, saat remaja Anies membuatkan sound system di rumahnya, agar pengajian warga sekitar yang diadakan di rumahnya menjadi semarak.

Terbiasa dalam pola keberagamaan seperti itu pula, tak aneh bila kini Anies menjadikan rumahnya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan sebagai tempat pengajian bagi warga sekitar. Anies memberikan keleluasaan kepada warga untuk menggunakan rumah bagian atasnya, joglo, untuk digunakan pengajian rutin.

Joglo yang menjadi rumah Anies saat ini bukanlah sembarang joglo. Ia joglo milik Kyai Kasan Besari yang  dibangun sekitar tahun 1763 di Desa Tegal Sari, Ponorogo, Jawa Timur. Kyai Kasan Besari merupakan seorang ulama dari abad 18. Ia guru dan ulama yang menjadi banyak rujukan pada masanya. Santri- santrinya datang dari kalangan biasa, dan banyak juga dari kalangan keraton. Salah satu muridnya adalah Pangeran Diponegoro. Konon, dari Pesantren Tegal Sari pula lahir pesantren besar dan berpengaruh di Indonesia.

Perjuangan Kyai Kasan Besari, selain diteruskan santrinya, Diponegoro, juga diteruskan cicitnya:  Tjokroaminoto. Dalam sejarah Indonesia, kedua orang itu dikenal sebagai pejuang yang juga sangat lekat dengan nilai-nilai keislaman. Perjuangan mereka dikenang sebagai perjuangan melawan kezaliman dan memperjuangan umat yang lemah. Jelas sekali, ini jenis perjuangan yang didorong oleh nilai-nilai Islam.

Dengan nuansa sejarah dan perjuangan Islam seperti ini, Anies ingin agar rumahnya yang merupakan milik  Kyai Kasan Besari ini juga menjadi tempat persemaian keagamaan bagi warga sekitar. Bukan tak mungkin  dari sini lahir pula generasi pejuang Indonesia yang berdasarkan keislaman kuat. Generasi pejuang yang  terbiasa melantunkan dzikir. [FR]

Baca Juga

Kita Pay Hadir untuk Umat

Jakarta (PIKIRANUMAT) – Data dari Bank Dunia tahun 2016 menyebutkan, angka kemiskinan penduduk indonesia, yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *