Selasa , 12 Desember 2017
Home / INSPIRASI / Sandiaga Uno dan Kemenangan Sang Ibu
Calon wakil gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno saat meminta restu kepsda ibunya, Mien Uno sebelum mengikuti acara debat pada Jumat (13/1/2017). [foto: Kompas.com]

Sandiaga Uno dan Kemenangan Sang Ibu

PIKIRAN UMAT – “Bang Sandi, kenapa sering sekali menunduk di panggung saat debat?” tanya Ahmad, salah satu tim pemenangan, dalam salah satu diskusi. Pasangan Calon Anies-Sandi selalu datang ke debat yang diadakan televisi, karena mereka menganggap bahwa menghadiri debat merupakan hak warga Jakarta untuk mengetahui visi misi dan program kerja nomor urut 3 ini.

“Ya, karena panggungnya tinggi, kursinya tinggi pula, dan posisi ibu saya ada di bawah. Ya, risih saja,” katanya, sambil melempar senyum.

Sebentar, ini Sandiaga Uno? Dia yang lulusan Amerika dan satu dari 40 orang kaya di Indonesia, melemparkan jawaban seperti itu. Para peserta rapat pada malam itu hampir tak pernah ada yang membayangkan jawaban itu keluar dari Sandi. Meski saat di Amerika dia memprakarsai kegiatan mengaji Al-Quran sebulan sekali bersama warga Indonesia, Sandi terkesan jauh dari agama. Namun, kali ini dia melemparkan jawaban yang sangat kental pesan agama.

Jawaban pendek ini merupakan satu dari sekian bukti betapa orang tuanya berhasil mendidiknya; orang tuanya berhasil menumbuhkan sikap agar anaknya memikiliki sikap birr terhadap orang tua. Dalam bahasa Arab, berbuat baik itu ada berbagai macam: hasan, ma’ruf, khayr, dan birr.

Hasan bermakna kebaikan dalam artian fisik, seperti senyum; ma’ruf bermakna kebaikan yang sudah disepakati umum, seperti membantu orang miskin; khayr berarti kebaikan universal, seperti kejujuran dan keadilan. Namun, birr melampaui semua itu. Wujudnya adalah akhlak yang baik. Karena itu, orang yang sudah pergi haji disebut sebagai haji mabrur, dengan mengandaikan bahwa sepulang haji orang tersebut berakhlak baik, mengikuti teladan Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam.

Mungkin bukan tanpa alasan kebaikan kepada orang tua disebut sebagai birrul walidain. Karena sepanjang usia seorang anak pasti akan melihat sisi baik dan buruk orang tuanya; selain persamaan, tentu banyak perbedaan antara orang tua dan anak dalam keseharian. Semua itu tertutupi karena kasih sayang, betapa kita sering mendengar kisah seorang ibu atau ayah yang rela mundur sebentar dari keinginannya demi mendidik anak-anak mereka.

Seperti yang dilakukan Mien Uno ketika memiliki dua putranya, Indra dan Sandi. Kita tahu bahwa Mien Uno memiliki kesempatan untuk berkarir saat itu. Suaminya, Henk Uno, pun memberikan kesempatan kepada Mien. Namun, Mien memilih menghabiskan waktunya untuk mendidik anak-anaknya.

Dan kini, di usianya yang 76 tahun, Mien Uno sedang melihat hasil dari upayanya saat dia mundur sejenak tersebut. Sandi yang risih di atas panggung karena posisi ibunya berada di bawahnya bukan perasaan yang tiba-tiba datang. Ia merupakan dorongan dari bawah sadar, sikap seorang anak yang sangat menghargai orang tuanya, sangat mencintai ibunya. Tentu, ini akhlak, ini akhlak yang baik.

Ini adalah kemenangan seorang ibu. Jelas, ini kemenangan seorang ibu yang telah berhasil mendidik anaknya.

Selamat menjalani proses politik ini Bang Sandi. Mohon kabarkan kepada Ibunda, agar merelakan anaknya menjalankan perintah Nabi Muhammad Saw yang lainnya: khayru al-nas anfauhum li-annas (manusia terbaik adalah dia yang bermanfaat bagi banyak orang). []

Baca Juga

Kita Pay Hadir untuk Umat

Jakarta (PIKIRANUMAT) – Data dari Bank Dunia tahun 2016 menyebutkan, angka kemiskinan penduduk indonesia, yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *