Selasa , 26 September 2017
Home / HEALTH / Penting, Ketahui Dampak Mengonsumsi Makanan Manis pada Otak
Ilustrasi: Makanan Manis

Penting, Ketahui Dampak Mengonsumsi Makanan Manis pada Otak

PIKIRAN UMAT – Jangankan anak-anak, kita pun tentu suka dengan makanan manis. Dari coklat hingga es krim, juga makanan-makanan lain yang di dalamnya mengandung gula. Belum lagi minuman kemasan yang kita beli di swalayan yang sudah mewarnai gaya hidup kita, semua tak lepas dari bahan yang megandung pemanis.

Namun di balik kenikmatan mengonsumsi yang manis-manis tadi, ada hal yang perlu kita waspadai, yakni dampak yang terjadi pada otak apabila terlalu sering mengonsumsi makanan dengan pemanis.

Dampak yang terjadi pada otak bila terlalu sering makan makanan bergula tinggi diantaranya yang pertama adalah dapat memengaruhi otak hingga kecanduan.

Sebagaimana orang yang kecanduan rokok maupun alkohol, makanan manis pun bisa membuat kita kecanduan.

Ketika makanan manis, seperti permen, coklat, atau es krim masuk ke dalam mulut, lidah akan mengartikan rasa manis yang ada di dalam makanan tersebut. Kemudian, saraf lidah langsung memberikan sinyal pada otak dan merangsang produksi hormon dopamin, yaitu hormon kebahagiaan.

Biasanya, hormon dopamin akan dihasilkan secara alami oleh tubuh jika kita mengalami sesuatu hal yang menyenangkan. Namun, apabila jumlah hormon ini terlalu banyak, dapat menyebabkan kecanduan dan keinginan mengonsumsi lebih banyak lagi makanan manis.

Bahkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada anak obesitas, makanan manis diketahui dapat mengaktifkan bagian otak yang mengatur respon food reward, yaitu sebuah keinginan untuk menerima imbalan, tapi dalam hal ini imbalan yang diinginkan adalah makanan yang mengandung gula tinggi itu sendiri.

Dampak kedua adalah Dapat Mengganggu Kemampuan Berpikir

Pada 2012 dari University of California, Los Angeles melakukan penelitian dengan memberikan fruktosa (salah satu jenis gula) pada hewan percobaan. Di akhir penelitian diketahui jika asupan gula yang tinggi tersebut menyebabkan kerusakan saraf yang menjadi pusat berpikir dan berkomunikasi pada tikus.

Tidak hanya itu, pada hewan percobaan tersebut juga ditemukan terjadinya resistensi hormon insulin, hormon yang berperan dalam mengatur kadar gula darah dan fungsi sel otak. Di dalam saraf pusat, hormon insulin memiliki tanggung jawab untuk menghubungkan sel-sel saraf dalam berkomunikasi. Sehingga, jika jumlah hormon insulin tidak normal akibat makanan manis, maka dapat menyebabkan sel saraf tidak berkomunikasi dengan baik dan banyak informasi yang tidak tersampaikan, dan kemampuan daya ingat pun menurun.

Meski penelitian ini dilakukan pada tikus, tetapi para peneliti percaya bahwa hal ini juga dapat terjadi pada otak manusia.

Yang Ketiga, Makanan Manis Menyebabkan Depresi

Respon pertama yang muncul ketika mengonsumsi makanan manis adalah peningkatan hormon kebahagiaan, yaitu hormon dopamin. Tetapi, jika kita terlalu sering makan makanan tersebut, yang kita rasakan bukanlah rasa senang atau bahagia, melainkan depresi dan rasa tertekan. Mengapa hal ini terjadi?

Gula dan semua makanan yang mengandung karbohidrat sebenarnya dapat merusak neurotranstimitter otak (zat yang menjadi perantara komunikasi antar sel saraf) yang berfungsi untuk menstabilkan mood. Sehingga, wajar jika setelah mengonsumsi makanan dengan gula yang tinggi, kita mengalami perubahan emosi.

Hal ini terbukti dalam sebuah penelitian yang menemukan bahwa kelompok orang yang sering makan makanan instan yang mengandung gula tinggi cenderung lebih mudah depresi dan memiliki kecemasan yang berlebihan.

Dampak Keempat adalah Memicu Penurunan Kognitif dan Meningkatkan Risiko Alzheimer

Banyak studi menemukan bahwa diet tinggi gula dapat menyebabkan penyakit Alzheimer. Sebuah studi yang dilakukan pada 2013 lalu menyebutkan bahwa kondisi resistensi insulin dan kadar gula tinggi tidak hanya menjadi tanda dari penyakit diabetes saja, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan jaringan otak yang dapat menyebabkan Alzheimer. Bahkan para peneliti menyebut penyakit Alzheimer sebagai diabetes tipe 3 karena penyakit ini muncul akibat seringnya mengonsumsi makanan manis.

Tentu boleh saja mengonsumsi makanan dan minuman manis. Tapi jauh lebih baik membatasinya. Sebab jika berlebihan, dampaknya sangat luar biasa. Baik bagi kita orang dewasa, terlebih untuk anak-anak. Yuk, mulai terapkan pola maka sehat, salah satunya dengan tidak berlebihan mengonsumsi yang manis-manis. (HR)

Baca Juga

YLKI: Waspadai Makanan Mi Kuning Mengandung Formalin

Medan (SI Online) – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Sumatera Utara minta kepada masyarakat agar mewaspadai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *