Sabtu , 20 Januari 2018
Home / BERITA / Guru Besar Fakultas Hukum Undip Heran Dirinya Dilarang Bahas Khilafah

Guru Besar Fakultas Hukum Undip Heran Dirinya Dilarang Bahas Khilafah

Semarang (PIKIRANUMAT) – Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, Prof Dr Suteki, M.Hum, mempertanyakan pelarangan diskusi ilmiah “Diskursus: Islam, Indonesia dan Khilafah” yang sedianya digelar pada Ahad, 4 Juni 2017 di Hotel Candi Indah, Semarang, Jawa Tengah. 

Suteki adalah salah satu calon narasumber dari kegiatan yang digelar Forum Studi Politik Islam Mahasiswa Undip itu.

“Mengapa acara seperti ini tidak boleh diselenggarakan? Apakah Guru Besar seperti saya pun ‘tidak berhak’ untuk mengupas, menyandingkan, menandingkan antara Islam, keindonesiaan serta khilafah?” ujar Suteki sambil menuliskan hastag #Intimidasi dan #InikahPersekusiIlmuan? di akun facebook pribadinya, Sabtu (3/6/2017). Status tersebut diunggah Suteki pada pukul 22.01 WIB.

Suteki mengaku heran atas pelarangan diskusi tersebut. “Kadang saya ini heran juga, wong saya ini bukan anggota HTI,” ungkapnya.

Suteki mengaku dengan diskursus tersebut dirinya hanya ingin mendudukkan bagaimana relasi antara agama dan negara secara keilmuan. Relasi antara kitab suci dan konstitusi. Bagaimana kedudukan Pancasila dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara.

“So… bisakah Indonesia dengan sistem khilafah.. Ini didiskusikan secara terbuka. Disaksikan orang banyak, tidak ada rencana makar juga.. laaah bahayanya di mana?” tanyanya heran.

Ia pun menuliskan kritik kepada pihak yang menyatakan ilmu itu bebas nilai, “Masihkah kita berani menyombongkan diri dan berkata: Sungguh ilmu itu bebas nilai!?”

Status Fb -nya pun ditutup dengan kritik puitis, “Pintu telah tertutup, tinggal jendela kecil untuk hirup segarnya udara berdebu. Masih adakah ilmuwan sejati bertahan di negeri ini?”. [JP/SR]

Baca Juga

Marah Besar pada AS, Abbas: Sialan Uang Anda!

Ramallah (PIKIRANUMAT) – Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mengatakan Israel telah membunuh Kesepakatan Oslo. Dia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *