Selasa , 26 September 2017
Home / MUSLIMPRENEUR / Paytren, Halal atau Haram?
Direktur Utama Paytren Hari Prabowo, SE, (tengah) saat bertemu dengan para jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Muslim, Kamis (08/06).

Paytren, Halal atau Haram?

Satu dekade hingga tahun-tahun ke depan, bisnis microfinance sepertinya masih akan tetap legit di  industri keuangan. Tak hanya perbankan, lembaga keuangan lainnya pun ikut mencicipi legitnya.  Bahkan saat ini lembaga-lembaga keagamaan berbasis majelis taklim, pengajian, baitul mal wa tamwil  (BMT), dan perkumpulan-perkumpulan keagamaan juga banyak mulai melirik dan mengarahkan  kepala sendoknya untuk bisa ikut menikmati legitnya kue, bisnis microfinance.

Seperti yang dilakukan oleh PT. Verita Sentosa Internasional (VSI) yang sejak tahun 2013 tengah serius  menggarap bisnis microfinance di dalam sebuah jaringan yang dinamakan Tren-I dengan produk  microfinance yang ditawarkan bernama Pay Tren.

Pay Tren ini di kembangkan dengan sistem jaringan multi level marketing (MLM) yang dikelola secara  profesional layaknya MLM pada umumnya dengan skema bagi-bagi bonus antar anggota ketika produk pay tren usai ditransaksikan.

Besaran bonus tergantung pada besaran jumlah transaksi yang dihasilkan dan –tentu saja–  banyaknya jumlah downline yang dimiliki. Tak ubahnya seperti bisnis MLM lainnya. Meski, di Pay Tren  tidak mengenal istilah “tutup point” seperti yang dilakukan oleh MLM konvensional, namun  menggunakan sistem binary, namun tetap saja, transaksi Pay Tren hanya bisa dilakukan dalam jaringan –dengan berbagai skema– seperti MLM pada umumnya. Bukan pure microfinance.

Hal ini diakui oleh Direktur Utama PT. VSI Hari Prabowo, ketika jumpa pers dan bincang pagi dengan  para wartawan yang tergabung Forum Jurnalis Muslim (Forjim) di masjid rest area dalam perjalanan  menuju Bandung pagi tadi (08/06), yang menyampaikan bahwa core bussines dari dari pay tren  adalah bisnis microfinance, namun dilakukan dalam sistem jaringan berbentuk MLM. “Usaha kita microfinance namun dilakukan dalam sistem MLM,” tutur Hari.

Kunjungan Forjim ke kantor Paytren di Bandung, Kamis (08/06).

Menurut Hari, Pay Tren merupakan produk digital financial services yang melayani segala bentuk  pembelian dan pembayaran dalam segala aktivitas harian masyarakat, seperti pembelian pulsa, token  listrik, tiket pesawat hingga BPJS Kesehatan, dalam sebuah aplikasi berbasis sistem Android yang  interagratif.

Aplikasi ini, lanjut Hari, bisa didapatkan oleh masyarakat dengan membeli aplikasi tersebut, yang  secara otomatis menjadikannya anggota dari Pay Tren –mitra usaha sebutan dari Pay Tren.

“Kami menjual aplikasi ini. Bukan masyarakat diminta menyetor uang pendaftaran untuk menjadi  anggota Pay Tren. Jadi sifatnya, mereka menjual produk aplikasi kami, dan mereka membeli aplikasi  tersebut sebagai modal usaha mereka. Ini yang banyak disalah-pahami oleh masyarakat,” jelas Hari

Dengan miliki aplikasi Pay Tren, sambung Hari, masyarakat bisa melakukan kegiatan usaha dan bisnis  kapanpun dan di manapun mereka berada melalui ponsel pintar. Para mitra usaha bisa mendapatkan cashback dari setiap transaksi yang mereka lakukan

“Jadi sebenarnya, Pay Tren ini bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk tumbuh bersama dalam  usaha sehingga bisa maju bersama,” kata Hari.

Namun begitu, niat mulia yang dan cita-cita tinggi yang Pay Tren canangkan dengan platform  “Membeli Indonesia” ini masih menjadi polemik di masyarakat, karena dilakukan dalam sebuah sistem  jaringan, yakni MLM. Karena Pay Tren sendiri mengklaim mengusung label Syariah. Apalagi CEO dari  Pay Tren ini seorang ulama, pimpinan dari Pondok Pesantren Daarul Qur’an, KH. Yusuf Mansyur.

Bagi umat muslim, hukum bisnis MLM masih di ranah abu-abu (grey area). Sebagian ulama  menghukumi haram, dan sebagian lagi membolehkannya.

Grey area yang bagi sebagian umat muslim yang memahami hukum Syariah masih ragu untuk  menerabasnya, bahkan tidak berani melewatinya. Wilayah inilah yang kemudian memunculkan fatwa  haram oleh sebagian ulama, dengan meyakini bahwa Pay Tren hanya permainan uang (money games)  dalam pengelolaannya. Sehingga muncullah saat ini polemik “halal-haram” terhadap Pay Tren.

Forjim berfoto bersama dua orang manajer pemasaran Paytren.

Money games, yang dalam dunia usaha dan industri keungan dikenal dengan Skema Ponzi, disinyalir  dilakukan oleh VSI dalam bisnis Pay Tren oleh sebagian kalangan, dikarenakan sistem bisnis Pay Tren  berbentuk MLM, dengan memberikan bonus tanpa batas kepada anggota yang memiliki banyak  downline dan aktif mencari anggota baru untuk menjadi ‘kaki-kaki’ bisnisnya, dengan menggunakan  uang “pendaftaran” anggota baru serta deposito yang mereka simpan di Pay Tren sebagai bonus  transaksi dari upline yang berhasil “merekrut” anggota baru.

Hal ini dibantah oleh Hari. Pasalnya, menurut Hari, Pay Tren tidak memungut uang pendaftaran, melainkan menjual aplikasi yang bisa digunakan sebagai modal usaha anggota di Pay Tren.

“Bagaimana kami bisa dituduh melakukan money games, orang kami ini jualan aplikasi. Aplikasi yang  nantinya bisa digunakan untuk usaha. Para anggota ini membeli aplikasi senilai misalnya Rp.350 ribu, itu dijadikan sebagai modal usaha mereka. Modal usaha yang nantinya bisa kembali ke mereka dalam  setiap transaksi dilakukan,” bantah Hari

“Mengenai bonus turunan, para anggota ini mendapatkan sebagai keuntungan atas transaksi aktif  yang mereka lakukan. Ibaratnya begini, anda mau jual kamera, lalu teman anda berhasil menjualkan  kamera anda. Ya wajar dong kalau anda kemudian memberikan uang bonus, atau komisi, atau  anggaplah uang lelah kepada teman anda. Jadi wajar dong,” sambung Hari.

Benar atau salah, halal atau haram, polemik telah mengalir. Guncangan isu dan tiupan masalah telah menggelindingkan bola salju. Bila tidak segera diselesaikan dan tidak segera ditemukan titik temu,  maka bola salju akan menggelinding semakin liar dan menggumpal.

“Untuk itu, kami sangat berharap kepada pihak-pihak yang menganggap bisnis Pay Tren sebagai bisnis  haram, sebagai money games, agar berkenan menemui kami, berbicara dengan kami, duduk bersama  membahas hal ini, sehingga kami bisa menjelaskan tentang bisnis Pay Tren ini seperti apa, sistemnya  bagaimana, dengan jelas dan gamblang. Sehingga ditemukan titik temu dan hasil yang baik,” pungkas  Hari. [Nadeem]

Baca Juga

Kita Pay Hadir untuk Umat

Jakarta (PIKIRANUMAT) – Data dari Bank Dunia tahun 2016 menyebutkan, angka kemiskinan penduduk indonesia, yang …

2 Komentar

  1. kenapa paytren tidak meng gratiskan uang pendaftaran seperti mlm konvensional

    • kalau melihat penjelasan dari Dirutnya, paytren ini berjualan aplikasi. bukan membuka pendaftaran anggota, melainkan menjual produk aplikasi kepada masyarakat. ketika seseorang membeli aplikasi tsb, maka secara otomatis ia menjadi mitra usaha paytren (secara jaringan).
      wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *