A Man Called Ahok versus Hanum & Rangga: Kontestasi Idola Politik?

Hampir dua minggu dua film layar lebar yang “seolah” menunjukkan arah pandang politik berbeda nongkrong di bioskop-bioskop Indonesia. Film tersebut digadang-gadang menjadi pertandingan antara dua keberpihakan. Mengapa tidak, keduanya diangkat dari novel yang dikarang oleh masing-masing yang memiliki arah pandang politik yang bersebrangan untuk era sekarang. Film A Man Called Ahok diangkat dari novel karangan Rudi Valinka, yang konon merupakan pendukung dari rezim Joko Widodo. Sementara sesuai dengan judulnya “Hanum & Rangga: Faith and The City” diadaptasi dari novel bersambung karya Hanum Salsabilla Rais, putri dari Amien Rais yang saat ini mencalonkan diri sebagai anggota legislative dari Yogyakarta.

Konon dari segi cerita, kedua film ini tidak beraroma politik sama sekali. A Man Called Ahok menceritakan biografi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kecil yang semangat berjuang agar menjadi “Ahok” saat ini. Sementara Hanum & Rangga, masih seperti film mereka sebelumnya, menceritakan kisah perjuangan dan pengorbanan Hanum dan suaminya Rangga yang tinggal di luar negeri dengan segala perbedaan yang mereka hadapi. Nilai politis kemudian mencuat karena latar belakang masing-masing penulis. Sehingga di musim “panas” politik saat ini, pencapaian jumlah penonton masing-masing film dianggap setara dengan nilai elektabilitas kedua belah pihak tersebut. Dengan latar belakang politik masing-masing penulis, “pertarungan” dua film ini bisa jadi dianggap sebagai kontestasi tokoh politik idola di tengah-tengah masyarakat.

Jika memang benar demikian, saya sebagai penikmat film dan penyuka pentas politik Indonesia merasa kecewa. Jujur saja, jumlah penonton tidak bisa dianggap sebagai penentu kemenangan di tengah persaingan rezim berkuasa dan oposisi. Bahkan masih terlalu dini untuk menyimpulkan elektabilitas perkubu dengan jumlah tiket yang terjual. Para penonton bisa saja memang didasari atas kecintaan mereka terhadap dunia perfilman Indonesia, bukan berdasarkan sentimen tertentu terhadap kedua “idola politik” yang dikisahkan. Meskipun mungkin ada sebagian penonton yang memang datang ke bioskop atas dasar kecintaan pada masing-masing tokoh yang diperankan.

Berbicara soal idola politik, di musim pilpres saat ini masyarakat asyik disuguhkan drama-drama dari kedua belah pihak calon presiden dan wakil presiden. Saat ini, bahkan timbul nama-nama baru, tak hanya Ahok dan Hanum, masyarakat jadi mulai mengenal Tsamara dan Abu Janda dari kubu pro Jokowi atau Faldo Maldini dan Gamal Albinsaid dari tim Prabowo. Dari semua tokoh yang ada di antara kedua kubu, yang manakah yang layak disebut idola politik?

Umat Muslim sedunia, Indonesia khususnya, baru saja merayakan Maulid Nabi SAW pada tanggal 20 November lalu. Maulid ini merupakan sebuah momen penyemangat yang konon diawali oleh Salahuddin Al Ayubi agar umat muslim pada saat itu pantang menyerah melawan pasukan salib.

Jika dikaitkan dengan hal di atas, mungkin luput dari ingatan bahwa Rasulullah SAW merupakan tokoh politik pada masanya. Sebagai pembawa risalah terakhir, beliau berkeliling menyampaikan Islam hingga akhirnya Islam bisa menyebar ke seluruh dunia. Akhlak beliau yang indah dan dapat dipercaya sudah bukan hal yang perlu dipertanyakan lagi. Beliau SAW juga merupakan seorang pemimpin negara di Madinah Al Mukaromah. Sehingga rasa-rasanya memang pas jika sebaiknya umat muslim menjadikan Muhammad SAW sebagai idola politik dan menjadikannya teladan yang baik dengan menjalankan kehidupan sesuai dengan warisan yang Rasulullah Muhammad SAW yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.

Dyah Kania Pitaloka
Media Enthusiast, tinggal di Bandung

BACA JUGA!

Bukan Sekadar Nostalgia, Reuni 212 Momentum Bangkitnya Kesadaran Politik

Mendengar kata reuni, apa yang terbesit dalam pikiran kita?. Terkait