Aktif dalam Misi Kemanusiaan, Thoriquna: Kami Ingin Amalkan Perintah Nabi

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Sebagai lembaga sosial keagamaan, Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah Islam (LPPDI) Thoriquna mengaku dapat sejajar dengan lembaga-lembaga sejenis lainnya di Indonesia.

Kiprah Thoriquna dalam berkontribusi membantu masyarakat yang terkena bencana di wilayah Indonesia sudah diakui oleh banyak pihak.

Setelah sebelumnya berbulan-bulan terjun langsung membantu korban gempa di Lombok, sekarang aktivis Thoriquna juga ikut turun berpartisipasi meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana gempa, tsunami dan likuifaksi di wilayah Sulawesi Tengah.

Sebagai aktivis kemanusiaan yang juga aktivis dakwah, para anggota Thoriquna dalam membantu masyarakat yang terkena bencana sebagai bagian dari upaya mereka mengamalkan hadits nabi yang berbunyi: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

“Kami ada di Lombok, Palu dan juga di tempat-tempat bencana lainnya karena kami ingin bisa mengamalkan hadits Rasulullah Saw. Ingin berguna buat manusia lain. Tidak banyak yang bisa kami bantu tapi kami ingin berbuat dengan karya nyata yang bermanfaat buat manusia lainnya. Apalagi ketika manusia yang lainnya sedang mengalami kesulitan,” ungkap Pembina Thoriquna, Ustaz Haris Amir Falah dalam keterangannya, Senin malam 5 November 2018.

Bagi Haris, meskipun dengan kemampuan yang terbatas, kontribusi Thoriquna kepada sesama Muslim adalah bentuk ihtimam (perhatian) terhadap mereka yang tertimpa bencana.

“Dengan kemampuan yang terbatas, kami ingin memberikan ihtimam yang maksimal. Bukan hanya berita-berita mereka yang kami ikuti tapi juga doa bahkan kami turun ke lapangan untuk membantu mengurangi penderitaan mereka yang sedang tertimpa musibah,” ujar aktivis Islam ini.

Thoriquna berprinsip bahwa untuk menunjukkan empati yang mendalam terhadap korban bencana khususnya di Palu, Sigi dan Donggala maka aktivis dakwah Thoriquna harus bisa merasakan langsung bagaimana perasaan korban ketika harus kehilangan banyak hal. Kehilangan harta, keluarga dan tempat tinggal. Dan tinggal di tenda-tenda pengungsian dalam waktu yang lama serta berinteraksi dengan para pengungsi merupakan bagian dari wujud konkrit empati aktivis Thoriquna. Hal ini juga menjadi pelajaran berharga buat aktivis Thoriquna agar terus bisa mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan berupa kenikmatan keselamatan dan keamanan.

Mencontoh titik kebangkitan dakwah dan jihadnya Rasulullah Saw yang dimulai dari titik hijrahnya beliau ketika tiba di Yatsrib dengan membangun masjid, gerak langkah Thoriquna juga juga berasal dari masjid. Dan dari masjid diatur segalanya.

“Karena masjid adalah merupakan tempat perwujudan bersama seluruh kaum muslimin. Kami ingin meniru kesuksesan beliau bermula dari masjid. Mengembalikan fungsi masjid sebagaimana pada awalnya. Bahwa masjid bukan hanya tempat shalat tapi masjid juga menjadi markas pembinaan umat. Masjid menjadi tempat untuk mengatur perekonomian umat bahkan masjid adalah tempat yang ideal untuk bicara politik. Maka kami mulai dari masjid, rumah Allah,” tandas Haris. [MS]

BACA JUGA!

Mowilex bersama WMI Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Sulteng

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Musibah gempa yang disusul dengan tsunami serta likuifaksi yang melanda wilayah …