Anak Bicara Gagap, Ini Sebab dan Cara Mengatasinya

PIKIRAN UMAT – Sebagai orangtua tentu merasa cemas jika mendapati anak berbicara gagap. Selain menjadi bahan ledekan dan dikucilkan dalam pergaulan, dalam beberapa kasus, anak yang gagap bisa mengalami kecemasan dan ketakutan berbicara di depan publik.

Gagap dianggap sebagai akibat dari trauma fisik atau emosional. Meski ada beberapa contoh kasus anak bicara gagap setelah mengalami trauma, ada juga bukti yang mendukung gagasan bahwa gagap disebabkan oleh pergolakan emosional atau psikologis. Penelitian telah menunjukkan bahwa ada banyak faktor yang lebih berpotensi menyebabkan anak gagap.

Gagap umumnya terjadi tanpa alasan yang jelas, tetapi akan lebih sering timbul saat anak merasa sangat gembira, lelah, atau merasa terpaksa dan mendadak harus berbicara. Banyak anak yang mulai mengalami kesulitan dalam kelancaran berbicara ketika mereka baru belajar menggunakan tata bahasa rumit dan menempatkan sejumlah kata bersama-sama untuk membentuk kalimat utuh. Kesulitan ini mungkin terjadi akibat adanya perbedaan dalam cara otak mengolah bahasa.

Anak yang gagap memproses bahasa di daerah otak, menyebabkan kesalahan atau keterlambatan dalam pengiriman pesan dari otak ke otot-otot mulut saat ia butuh berbicara. Hasilnya, anak bicara tersendat.

Sebenarnya terdapat banyak faktor yang berperan dalam menentukan kelancaran anak berbahasa. Yang jelas, hingga saat ini penyebab pasti mengapa anak gagap tidak diketahui.

Saat Anak Gagap Perlu Dikhawatirkan

Tak selalu mudah untuk membedakan kapan gagap pada anak akan berkembang menjadi suatu masalah yang lebih serius. Meski demikian, ada beberapa tanda-tanda klasik yang wajib diwaspadai orangtua:

-Pengulangan suara, frase, kata, atau suku kata menjadi lebih sering dan konsisten; begitu pula dengan perpanjangan suara
-Cara berbicara anak mulai menunjukkan ketegangan, terutama di otot-otot mulut dan leher
-Anak gagap diikuti oleh aktivitas nonverbal, misalnya ekspresi wajah atau gerak-gerik otot tubuh yang menegang dan ketat
-Orangtua mulai memperhatikan ketegangan produksi suara yang menyebabkan anak mengeluarkan suara nyaring yang tertahan atau nada suara yang lebih tinggi
-Anak menggunakan berbagai macam cara untuk menghindari berbicara
-Anak menghindari menggunakan kata-kata tertentu atau mengubah kata tiba-tiba di tengah kalimat untuk menghindari gagapnya kambuh
-Gagap berlanjut setelah anak berusia lebih dari 5 tahun

Membantu Anak Atasi Bicara Gagap

Mengabaikan gagap (konon dipercaya dapat membuat gejalanya mereda) bukanlah langkah yang baik. Begitu pula dengan menganggap kondisi hambatan berbahasa ini sebagai sesuatu yang biasa dalam perkembangan bicara dan bahasa anak. Gagap umum terjadi pada anak, tapi bukan berarti ini merupakan kondisi normal.

Dilansir hellosehat, ada banyak hal yang dapat dilakukan orangtua bersama anggota keluarga lain untuk membantu anak yang gagap melalui masalah bicaranya. Misalnya:

-Mengakui gagapnya saat anak bicara tersendat (Misalnya, “tidak apa, mungkin apa yang kamu mau bilang nyangkut di kepala.”)
-Menciptakan peluang untuk berbicara yang santai, menyenangkan, dan bisa dinikmati.
-Libatkan anak dalam percakapan-percakapan tanpa interupsi TV atau gangguan lain, misalnya ajak anak mengobrol saat makan malam.
-Jangan paksa anak untuk terus berinteraksi verbal saat gagap menjadi masalah. Alihkan kegiatan mengobrol dengan aktivitas yang tidak memerlukan banyak interaksi verbal.
-Mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang anak katakan, mempertahankan kontak mata normal tanpa menunjukkan tanda-tanda tidak sabar atau frustrasi.
-Kurangi jumlah pertanyaan yang orangtua lontarkan untuk anak. Anak-anak akan berbicara lebih bebas jika mereka mengekspresikan ide-ide mereka sendiri daripada menjawab pertanyaan orang dewasa.
-Jangan takut untuk berbicara dengan anak tentang gagapnya. Jika dia bertanya atau mengungkapkan keprihatinannya soal masalahnya, dengarkan dan jawab dengan cara yang bisa membantu ia memahami bahwa gangguan berbahasa adalah hal yang umum dan bisa diatasi.

Di atas semua itu, yakinkan anak bahwa orangtua menerima dirinya apa adanya. Dukungan dan kasih sayang orangtua, terlepas anak gagap atau tidak, akan menjadi dorongan terbesar anak untuk menjadi lebih baik lagi.

BACA JUGA!

Untuk Pertama Kali Muslimah Berjilbab Ikut Kontes Kecantikan Inggris

PIKIRANUMAT-Untuk pertama kalinya dalam sejarah Inggris, seorang peserta kompetisi ajang kecantikan mengenakan kerudung. Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *