Apapun Masalahnya, China Solusinya?

Apapun masalahnya China solusinya. Menjadi jurus ampuh bagi Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) mengatasi berbagai problematika negeri. Mulai dari kereta api cepat, infrastruktur, listrik, tenaga kerja hingga yang terbaru BPJS Kesehatan.

Sebagaimana diberitakan cnnindonesia.com, 23/8/2019, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan Ping An Insurance, perusahaan asuransi China, menawarkan bantuan untuk mengevaluasi sistem Teknologi dan Informasi (TI) BPJS Kesehatan. LBP mengisyaratkan sistem BPJS Kesehatan lemah tercermin dari tidak patuhnya peserta dalam membayarkan iuran program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sehingga dengan menggandeng Ping An Insurance dianggap sebagai solusi untuk menyelamatkan BPJS Kesehatan defisit.

Pernyataan LBP ini pun mengundang kritik keras. Salah satunya dilayangkan Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu. Ia mempertanyakan sikap pemerintah yang selalu menjadikan China sebagai solusi semua masalah. Dalam salah satu cuitannya, di akun pribadinya, Sabtu, 24/8/2019, Said Didu menulis, “Bagi Pak Menko Maritim, sepertinya setiap masalah yang dihadapi bangsa solusinya hanya satu, yaitu minta “bantuan” dari China. Sudah nyerah sehingga semua minta ke China?”

Masih menurut Said Didu, ia menduga LBP telah kecanduan dengan China. Sehingga negeri Komunis di bawah pimpinan Xin Jinping itu menjadi satu-satunya obat dalam mengatasi semua sakit di negeri ini. Sehingga apapun masalah yang dihadapi, solusinya adalah serahkan ke China. Itulah resep tunggal Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

Cuitan Said Didu sejatinya sulit ditolak kebenarannya. Mengingat berbagai proyek hingga mega proyek OBOR semua diteken dengan China. Ketergantungan Indonesia kepada China seolah menjadi rahasia publik yang tidak terbantahkan. China seolah menjadi obat mujarab berbagai penyakit kronis dalam tubuh Indonesia.

Padahal obat tersebut adalah racun mematikan yang disuntikan ke tubuh Indonesia. Lewat bantuan maupun investasi yang sebenarnya jebakan beracun yang mendorong Indonesia masuk dalam perangkap utang. Bukan kesembuhan yang seperti yang diharapkan tapi justru penjajahan gaya baru yang didapatkan.

Miris. Melihat fakta bahwa Indonesia merupakan negara pengekor yang segalanya tergantung kepada uluran tangan asing dan aseng. Indonesia seolah tidak berdaya dengan berbagai gempuran masalah. Dan ketidakberdayaan ini adalah hasil dari ketidakjelasan landasan ideologi yang diembannya.

Tidak hanya bergantung kepada bantuan (baca utang) asing dan aseng. Bahkan ideologi pun bergantung kepada pihak pemberi utang. Hari ini, menjadi rahasia publik, Kapitalisme seolah mendominasi warna ideologi negeri ini. Benarlah apa kata Ketum Nasdem, Surya Paloh, Indonesia negara Kapitalis yang Liberal. Bukan hanya hari ini tapi sudah sejak lama. Indonesia memang negara Kapitalis yang Liberal sesuai arahan Kapitalis Barat dan Merah.

BACA JUGA!

Ijtima’ Ulama IV, Angin Segar bagi Umat

Inilah jawaban dari segala penasaran yang menggelayut di benak umat. Kemanakah arah alumni 212 akan …