Bang, Saya Cuma Ambil Duitnya Aja

Belum lama ini, seorang kepling (kepala lingkungan) di kota saya buru-buru memasang spanduk paslonpres 01, Jokowi-Ma’ruf (Ko-Ruf). Kemudian, buru-buru juga dia mencopot dari pagar bagunan rumahnya.

Saya tak sempat melihat Pak Kepling memasang spanduk itu. Hanya sempat saya tengok ketika seseorang bergegas melipat kembali spanduk Ko-Ruf itu. Tak sempat 10 menit terpajang. Langsung saya tanya mengapa spanduk itu dilipat lagi.

“Bang, saya cuma ambil duitnya aja,” kata Kepling.

“Maksudnya bagaimana,” tanya saya.

Dia jelaskan bahwa spanduk Ko-Ruf itu dipasang sebentar saja di pagar. Cuma mau ambil fotonya. Foto itu dikirim ke si pemesan. Setelah itu pekerjaan selesai.

“Yang penting saya ambil foto-fotonya, terus saya WA-kan ke ‘koordinator’ paslon Ko-Ruf setempat.” Begitu kata kepling. Dia tidak mengatakan berapa ‘honor’ untuk pemasangan spanduk itu.

Yang menarik, tapi tidak mengejutkan, adalah orang yang meminta pak kepling memasang spanduk Ko-Ruf. Mau tahu siapa? Pasti Anda geleng kepala. Dia adalah oknum polisi yang bertugas sebagai Binmas. Pak Kepling mengatakan bahwa pemasangan spanduk itu adalah instruksi dari seorang kepala kepolisian. Pangkatnya sangat tinggi untuk ukuran daerah.

Dari penjelasan Pak Kepling itu saya semakin yakin bahwa polisi tidak netral di dalam pilpres ini. Tidak semua, tentunya. Tetapi, keberpihakan polisi kepada paslonpres petahana, terasa demikian kental.

BACA JUGA!

Liberalisasi, Generasi Semakin Rusak

Baru-baru ini ada pemberitaan yang membuat miris yakni MT, mantan Kepala Sekolah di Kabupaten Soppeng, …