Jembatan kuning yang menjadi ikon Palu roboh akibat tsunami.

Bencana Bukan Fenomena Alam Semata

Belum selesai air mata diseka, duka masih menyelimuti hati masyarakat Indonesia sejak bencana Lombok beberapa saat lalu. Kembali bumi tanah air digoncang oleh gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018). Setelahnya, sejumlah gempa susulan terus terjadi di kawasan tersebut. Hingga tanah yang berubah menjadi lumpur, menelan begitu banyak bangunan dan manusia.

Tak terbayang duka dan derita yang dialami oleh korban. Rasa takut, sedih akibat kehilangan sanak saudara, porak-porandanya bangunan rumah dan aset perniagaan. Dalam hitungan detik itu semua terjadi tanpa peringatan dan persiapan. Inilah cara Allah SWT menyapa hamba-hambaNya. Musibah tak lain merupakan ujian bagi orang-orang yang taat. Juga teguran bagi orang-orang yang ingkar. Ujian agar keimanan, ketakwaan dan ketaatan kian meningkat. Semakin menyadari betapa besar kuasa Allah SWT. Manusia manapun tak akan sanggup menghadang apapun putusan yang telah Allah tetapkan. Teguran bagi siapa saja yang sedang terlena oleh dunia. Bahwasannya tak ada yang pernah tahu kapan dan dengan cara apa hela nafasnya akan terhenti. Saat mereguk manisnya imankah? Atau bahkan saat mengecap nikmatnya maksiat?

Seperti yang tertera dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 78-79: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini [datangnya] dari sisi kamu [Muhammad]”. Katakanlah: “Semuanya [datang] dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu [orang munafik] hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari [kesalahan] dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.”

Selain muhasabah dalam tataran individu, selayaknya pula introspeksi dilakukan terhadap skala masyarakat dan negara. Tanah air ini tempat berkumpulnya setiap individu yang merupakan makhluk sosial. Ada pengikat diantara satu dan yang lainnya yang kita sebut dengan aturan atau sistem. Apakah aturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat adalah aturan yang diridhoi oleh Allah SWT yakni aturan yang bersumber dariNya. Atau aturan yang tegak bukanlah menurut perintahNya, melainkan berbagai aturan yang dibuat oleh manusia sendiri. Sehingga melahirkan begitu banyak kerusakan.

Aturan yang memelihara perzinahan tumbuh subur, berdiri kokohnya tempat-tempat prostitusi, menjamurnya praktik ribawi, korupsi, kenakalan remaja, kesenjangan sosial antara kaum borju dan kaum papa, dan sederet kerusakan lainnya yang tak jua bermuara pada solusi. Begitu pula pada tataran negara, ini menjadi peringatan besar bagi para pemimpin di kursi tampuk kekuasaan. Sudahkah menjadikan Rasulullah Saw sebagai suri tauladan? Tak hanya sekadar sisi akhlaknya, tapi juga bagaimana dan apa aturan yang diberlakukan olehnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah Saw hanya menerapkan wahyu Allah SWT sebagai aturan kehidupan. Bukan seperti yang terjadi saat ini. Dimana begitu banyak ajaran dariNya yang digeser ketika tak sesuai dengan kehendak dan hawa nafsu.

Hendaklah Surat Ar-Rum ayat 41 ini menjadi pengingat bagi kita, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari [akibat] perbuatan mereka, agar mereka kembali [ke jalan yang benar] “

Sudah selayaknya kita memandang bencana ini bukan semata-mata hanya bagian dari fenomena alam. Namun, terselip begitu banyak peringatan. Akankah mata dan hati kita terus buta? Ataukah bersegera kembali kepada syariat-Nya. Menjemput keberkahan dengan menerapkan seluruh ajaran-Nya secara kaaffah. Tanpa sepotong-potong, tak hanya dipilih sebagian-sebagian bak menu prasmanan. Sehingga terwujud baldatun thayyibatun wa rabbhun ghaffur, negeri yang baik dengan Rabb Yang Maha Pengampun. Wallahu a’lam biashshawab.

Novita Sari Gunawan
(Aktivis Akademi Menulis Kreatif)

BACA JUGA!

Pertemuan IMF-WB di Bali, Heroisme yang Antiklimaks

“Jokowi Sebut Asia-Afrika Tak Butuh Bank Dunia dan IMF” demikian judul yang dibuat Tempo.co, pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *