Aksi mahasiswa di Medan 2015 lalu. [Foto: merdeka.com]

Bohong yang Mengalahkan Pinokio

Joko Widodo itu orang sederhana. Setidaknya, begitulah persepsi dan opini yang telah dan terus dibangun. Sejak mengadu peruntungan di Pilgub DKI 2012 silam, mantan tukang mebel dari Solo ini dipermak habis-habisan. Upaya serupa dilanjutkan ketika lelaki gemar memelihara kodok ini maju pada Pilpres 2014.

Polesan sebagai lelaki sederhana benar-benar digarap amat serius. Maka di setiap sudut strategis Ibukota, terpampang baliho bergambar Widodo berkemeja putih yang lengannya digulung sebagian, bercelana dan sepatu hitam. Masing-masing benda itu dilengkapi keterangan harganya yang terbilang cukup murah. Bahkan, lengannya yang tidak memakai jam tangan pun diberi penjelasan yang menunjukkan betapa sederhananya lelaki ini. Pendeknya, dipermak habis gitu, lah.

Sukses? Ya, sepertinya begitu. Tim/konsultan komunikasi dan politik pria yang dulu ketika ditanya soal mencapresan doyan berkata “copras capres, ora mikir, ora mikir” ini sepertinya berjaya. Rakyat yang bak tersihir merasa menemukan sosok birokrat unik yang sama sekali berbeda dengan profil pejabat pada umumnya. Sederhana, jujur, merakyat, hobi bluskan, dan seterusnya dan seterusnya. Widodo pun berhasil menyingkirkan Prabowo Subianto, rivalnya dalam Pilpres 2014.


Widodo adalah orang baik. Setidaknya, begitulah opini dan persepsi yang dijejalkan ke benak rakyat Indonesia. Salah satu ciri orang baik adalah jujur, tidak (hobi) berbohong. Sampai di sini, rasanya publik mulai menemukan hal berbeda. Celakanya, rakyat disuguhkan fakta-fakta yang justru bertabrakan dengan citra jujur tadi.

Ingatan rakyat Indonesia, bisa jadi, memang terbilang pendek. Namun untuk sekadar mengenang janji Capres petahana 2019 yang oleh pendukungnya di Jawa Timur dijuluki Cak Jancuk, tentang tidak akan impor pangan, tentu bukan perkara sulit. Pada debat Capres 2014, Jancuk dengan gagah berjanji kalau terpilih sebagai Presiden, dia akan menyetop impor beras, gula, jagung, kedelai, buah-buahan, garam, daging, dan lainnya. Alasannya, Indonesia punya. Banyak!

Tapi dalam empat tahun lebih perjalanan kekuasannya, semua janji tadi itu ditabrak habis-habisan. Hebatnya lagi, impor justru dilakukan saat petani tengah panen raya. Tak pelak lagi, petani menjerit, beban hidup kian menghimpit. Widodo telah berbohong!

Saat kampanye Capres 2014, Jancuk juga berkata kalau terpilih jadi Presiden, dia akan stop utang luar negeri. Lagi-lagi yang terjadi justru sebaliknya. Hanya dalam tempo kurang dari empat tahun, dia telah menimbun utang Rp1.600 triliun lebih. Rekor utang terbesar dalam terpendek! Cak Jancuk bohong!

Bohong dan kebohongan sepertinya menjadi bagian dari ritme hidup lelaki yang satu ini. Masih segar dalam ingatan, bagaimana pada debat Capres Kedua 17 Februari silam, Jancuk mengguyur forum dengan bohong dan kebohongan. Ucapannya tentang jam 12 malam hanya berdua dengan supir ke perkampungan nelayan di Tambak Lorok, Semarang, jelas sebuah kebohongan. Bagaimana mungkin Presiden malam hari hanya pergi berdua dengan sopir? Lalu, pada kemana Paspampres pada waktu itu? Pensiun berjamaah?.

BACA JUGA!

Liberalisasi, Generasi Semakin Rusak

Baru-baru ini ada pemberitaan yang membuat miris yakni MT, mantan Kepala Sekolah di Kabupaten Soppeng, …