Peserta Reuni Akbar 212

Bukan Sekadar Nostalgia, Reuni 212 Momentum Bangkitnya Kesadaran Politik

Mendengar kata reuni, apa yang terbesit dalam pikiran kita?. Kumpul-kumpul kembali di sebuah tempat dengan orang-orang yang sama. Sama-sama pernah satu sekolah, satu kampus bahkan satu rasa dan misi. Aksi 212 bukanlah peristiwa biasa. Tahun lalu, umat Islam berkumpul menyatukan perasaan dan pemikiran mereka karena dorongan keimanan dan ketakwaan membela Alquran dan Islam dalam Aksi 212. Jutaan kaum muslim tumpah ruah di kawasan Monas. Umat Islam merasa dihinakan agamanya dan dinistakan kitab sucinya sehingga mereka dari berbagai penjuru pertiwi pun ikut berpartisipasi di dalamnya.

Wajar jika banyak orang yang kontra dan kepanasan ketika aksi ini digelar. Banyak yang melemparkan tudingan keji terhadap ulama yang menjadi motor pelaksanaan serta fitnah kepada para peserta yang datang. Itu karena kekuatan bersatunya Islam. Gema takbir yang diteriakkan mampu menggetarkan hati kaum munafikun. Hentakkan kaki para mujahid terasa kuat mendobrak benteng hati yang tertutup kekuasaan.

Tahun ini, Reuni 212 kembali digelar. Jutaan umat Islam kembali berkumpul di Lapangan Monas. Banyak tudingan negatif dari berbagai pihak namun tak pernah menyurutkan keimanan dan ketakwaan mereka dalam membela Islam. Dari sinilah umat seharusnya sadar, bahwa Islam memiliki kekuatan besar ketika seluruh umatnya saling bergandeng tangan menyatukan perasaan, pemikiran serta peraturan yang berasaskan Islam. Islam tidak lagi hanya dijadikan sebagai din spiritual tapi juga dijadikan landasan dalam setiap kebijakan, baik dalam politik, ekonomi maupun pertahanan. Karena Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Mulai dari bangun tidur hingga membangun negara, Islam memiliki aturannya.

Generasi Bela Islam dari 212 dan munculnya kesadaran politik ini mengingatkan kita pada sosok Muhammad Natsir dan nuansa Masyumi dahulu. Artawijaya dalam buku “Belajar dari Partai Masjumi” (2014) mencantumkan kisah keberhasilan politik Islam melalui Masyumi.

Yang menarik, ada kesamaan tentang frasa “Bela Islam”. Diceritakan, Muhammad Natsir, tokoh Masyumi adalah turut serta dalam pembentukan Komite Pembela Islam (1929). Komite inilah yang mencounter pergerakan zending Kristen, sekularisme dan penghinaan pada Quran. Hingga pada akhirnya, Natsir berjuang di bidang politik melalui parlemen via partai Masjumi.

Di era Presiden Sukarno, Masyumi berjaya memperoleh sekitar 7,9 juta suara (20,9 persen) pada Pemilu 1955 sehingga mendapatkan 57 kursi di DPR—jumlah kursi terbanyak di DPR dan setara yang dimiliki partai berhaluan nasionalis, Partai Nasional Indonesia (PNI). Sedangkan partai Nahdlatul Ulama (NU) menduduki peringkat ketiga dengan 6,9 juta suara (18,4 persen atau 45 kursi).

Reuni 212 pada tahun 2018 ini menjadi menarik sebab berada di tahun politik. 2019 adalah momentum yang akan menentukan arah bagi negeri ini minimal untuk lima tahun ke depan.

Berbedanya, saat ini umat Islam tidak punya “satu kendaraan resmi” seperti Masjumi di masa Natsir.

Reuni 212 tahun 2018 edisi bela tauhid kian membakar semangat umat islam. Jutaan manusia berkumpul di Monas.tidak memandang ormas, kelompok,madzab,suku semua bersatu dengan tujuan yang sama yaitu bela tauhid dan menerapkanya syariat islam. Tak kalah juga bendera al-rayah dan al-liwa tampak gagah berkibar di langit pagi Monas jakarta. Pekikan takbir umat islam semakin membakar semangat perjuangan umat islam dalam memperjuangkan simbol dan syariat.

Tidak kekuatan apapun yang bisa mennggerakkan, menghimpun dan menyatukan 8-10 juta umat manusia, mulai dari tua, muda, anak-anak, laki, perempuan, Muslim, non-Muslim, rakyat jelata, pejabat hingga selebriti, yang berjilbab, yang belum, yang bertato, yang rider, pesedea, pejalan kaki, hingga disable, tentara dan semuanya dalam satu aksi Reuni 212, Aksi Bela Tauhid, Bendera Rasulullah, kecuali Allah. Allah lah Yang Maha Menggenggam hati mereka semua, Muslim dan non-Muslim, yang telah bersyahadat maupun belum, untuk bergerak, berhimpun dan melakukan aksi damai. Semuanya tampak bangga dengan Rayah dan Liwa’, yang bertuliskan kalimat suci, “La Ilaha Ill-LLah Muhammad Rasulullah”. Kalimat suci ini adalah kunci keislaman seseorang Muslim, tetapi hari ini kita menyaksikan orang-orang non-Muslim pun bangga mengangkat dan memakainya. Subhanallah.

Apa kekuatan yang bisa menggerakkan, memanggil dan menghimpun mereka?

Bayangkan, ketika panitia, peserta, PO Bis, tiket kereta api, dan jalur transportasi semuanya menghadapi tekanan, intimidasi, hingga pembatalan, nyatanya massa yang hadir membludak. Tidak bisa dibendung. Tak hanya sampai di situ, di beberapa titik dan daerah dibuat acara tandingan, dengan menghadirkan penceramah kondang, agar umat tak datang ke Reuni 212, nyatanya semuanya itu gagal membendung gelombang massa. Lalu siapa yang bisa menggerakkan massa sedemikian banyaknya itu? Kekuatan apa yang menggerakkan mereka? Mereka bukan hanya dari Jakarta, tetapi dari seluruh penjuru Indonesia. Tidak ada yang membiayai. Mereka membiayai diri mereka sendiri. Semuanya itu bisa terjadi karena panggilan akidah, iman dan keyakinan mereka, bukan karena yang lain.

Reuni 212 yang membela kalimat tauhid, membela bendera tauhid sebagai simbol Islam adalah bukti berbedanya pilihan Penguasa dan umat. Jika Penguasa memilih yang lain, maka sah juga umat menentukan pilihan yang lain. Ini adalah hukum besi politik yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Aksi Kali ini memang unik, selain mengulang heroisme aksi bela Islam 212 tahun 2016, aksi bela tauhid kali ini semakin mengokohkan ide ‘persatuan umat Islam di bawah naungan bendera tauhid’ mulai menampakkan keyakinan baru ditengah benak umat. Persatuan Umat Islam bukanlah mitos, sebagaimana hadirnya puluhan juta umat menyemut ke Jakarta. Sungguh bendera tauhid telah kembali ke pemilik aslinya, yakni umat Islam. Wallahu a’lam bisshowab.

Ahsani Ashri, S.Tr.Gz
(Nutritionist, Pemerhati Sosial)

BACA JUGA!

Persatuan Kaum Muslim itu Pasti Bukan Utopia

Bak banjir bandang yang tak tertahan deras alirannya. Reuni Akbar 2 Desember 2018, membuktikan kekuatan …