Cerita Lara di Hari Anti Tambang

Sejumlah organisasi masyarakat sipil memasang segel di depan pagar utama Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jl Medan Merdeka, Jakarta, Selasa, 29 Mei 2019. Aksi ini untuk memperingati Hari Anti Tambang (HANTAM) 2019 (tempo.co, 28/5/2019).

Tidak hanya di ibu kota. Di beberapa kota lain di Indonesia, Hantam diwarnai aksi protes. Begitu pun sejumlah di Kalimantan Timur, sejumlah aktivis lingkungan mengadakan unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kaltim. (Kaltimkece.id, 30/5/2019)

Sehari setelahnya, tanggal 30 Mei 2019 kembali lara mengiringi. Bekas galian tambang menelan korban, merenggut nyawa seorang gadis kecil kelas V Sekolah Dasar di Simpang Pasir, Palaran. Ia menjadi anak ke-34 yang tewas di kolam sepanjang delapan tahun terakhir.

Lubang maut dipastikan sebagai kolam bekas tambang. Dari penelusuran Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim beberapa jam setelah kejadian, kolam ini diketahui sengaja ditinggalkan. Dibiarkan menganga. Tanpa pengamanan. Tak ditemukan pelang tanda bahaya maupun pagar pembatas. Pos keamanan pun tidak ada sama sekali.

“Dari rumah terdekat, kolam ini hanya berjarak 2 meter,” jelas Pradharma Rupang, dinamisator Jatam Kaltim. Terlalu dekat ke pemukiman warga. Menurut pemetaan yang Jatam lakukan, kolam ini diduga kuat masuk konsesi PT Insani Bara Perkasa (IBP). Natasya bukan korban pertama di areal PT IBP.

Pada 2012, seorang anak laki-laki bernama Maulana Mahendra juga tenggelam di areal yang dikuasai perusahaan tersebut. Peristiwa serupa terjadi lagi pada 9 April 2016, Muhammad Arham, seorang anak laki-laki terjatuh di limbah batu bara PT IBP yang tengah terbakar. Arham harus menjalani beberapa kali operasi luka bakar.

Tambang batubara disinyalir sebagai bentuk tambang tertua, paling lama dan primitif. Tidak hanya itu, keberadaan tambang ini kerap kali merampas hak rakyat atas tanah mereka. Juga menimbulkan banyak polusi udara dan air, serta daya rusak yang besar.

Narasi buruk tambang batubara di Indonesia. Puluhan anak kecil terjatuh dilubang bekas galian. Banyak yang meninggal. Padahal jelas, perusahaan penambang harus menutup kembali lubang galiannya. Ada jaminan agar mereka melakukan reklamasi dan dana pasca penggalian.

Laporan 81 perusahaan ke Dinas Pertambangan Kaltim, hingga Desember 2016, ada 314 lubang bekas tambang batubara. Temuan Dinas Pertambangan dua kali lipat. Hingga Agustus lalu, ada 632 lubang tambang dari pemotretan udara lewat satelit Landsat. Bekas tambang terbanyak di Kutai Kartanegara, 264 lubang. Di Samarinda, 164 lubang, Kutai Timur 86, Paser 46, Kutai Barat 36, Berau 24, dan Penajam Paser Utara, satu lubang. (Mongabay.co.id, 27/5/2017).

BACA JUGA!

People Power dan Perubahan Masyarakat

Tanggal 21 – 22 Mei 2019 menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia …