Derita Ibu di Era Neoliberalisme

Kondisi perempuan di era sekarang ini masih jauh dari sejahtera. Masih banyak perempuan yang tidak mendapatkan haknya dan juga tidak bisa menjalani kewajibannya. Terutama kaum ibu, yang notabene adalah orang pertama yang akan menghantarkan generasi penerus bangsa ini. Masih kita temukan maraknya penindasan, pelecehan, serta kekerasan, pemerkosaan dan juga pembunuhan pada kaum perempuan. Eksploitasi perempuan di berbagai aspek, terutama aspek ekonomi masih sangat kentara.

Menjalani peran ibu sebagai pengatur urusan rumah tangga, mendidik anak-anaknya, dan juga menjadi seorang istri pada saat ini begitu sulit. Seorang ibu yang seharusnya berada di tengah-tengah keluarganya, tapi sebaliknya kita dapatkan mereka berada di pabrik-pabrik, di pinggiran jalan, mengais receh untuk sesuap nasi. Membanting tulang agar dapur bisa selalu ngebul. Terkadang tak sedikit mereka berperan ganda menjadi ibu sekaligus menjadi ayah. Mengelap peluh yang tak hentinya mengalir, lantaran mengangkat beban berat sebagai kuli panggul agar anak-anaknya tetap memakai seragam sekolah.

Buah dari rezim neoberalisme

Era neolib seperti saat ini, kaum perempuan termasuk para ibu digiring untuk mengikuti arus neolib. Dimana dalam neoliberalisme ini, semua aspek dibebaskan tanpa peduli lagi dengan norma apalagi agama, kebijakan-kebijakan yang diterapkan adalah semua berpihak pada kebijakan asing dan menguntungkan pihak asing.

Neoliberalisme adalah neoimperialisme atau penjajahan gaya baru. Negara-negara barat yang dipelopori oleh AS membidik negeri-negeri muslim dan juga negara berkembang agar mengikuti arus neoliberalisme ini. Yang pada akhirnya akan menguasai sumber daya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Menggiring negeri ini agar tunduk pada kebijakan asing yaitu taat pada nilai-nilai universal barat. Jelas neoimperialisme ini bertentangan dengan Islam. Yaitu tentang penguasaan orang kafir terhadap kaum muslim yang dalam Alquran disebutkan:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?.” (QS. An-Nisa ayat 144)

Sebagai contoh, kebijakan menaikan harga BBM yang berdampak kenaikan harga-harga kebutuhan terutama kebutuhan pokok, menjadikan kaum perempuan tak terkecuali para ibu terpaksa bekerja agar kebutuhan terpenuhi. Kebijakan ikut serta dalam MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) juga memaksa kaum perempuan untuk berkontribusi di dalamnya. Dalam persaingan pasar bebas, sangat jelas kiprah perempuan di berbagai sektor akan semakin besar dieksploitasi. Pekerja perempuan akan semakin menjamur dimana-mana. Ide kesetaraan gender pun semakin bergema.

Wajar jika kita temukan banyak problem akibat eksploitasi perempuan ini. Hilangnya identitas perempuan dan ibu sebagai pendidik generasi. Ricuh rumah tangga, baik karena pertengkaran yang dipicu oleh ekonomi maupun perselingkuhan makin marak adanya. Kenakalan remaja, seks bebas dan anak-anak yang bermasalah semakin bertambah banyak.

Khilafah Islam melindungi hak dan kewajiban perempuan termasuk para ibu

Syariat Islam sangat memperhatikan urusan kaum perempuan. Baik hak-haknya maupun kewajibannya. Ada aturan yang sangat jelas yang ditujukan untuk perempuan atau pun ketika menjadi seorang ibu. Ibu adalah pencetak generasi yang pertama dan utama. Pada era kejayaan Islam, banyak sekali bukti bahwa kaum perempuan termasuk kaum ibu mendapat perlakuan yang sangat baik. Perlindungan terhadap hak-hak mereka begitu luar biasa.

Sebagai contoh, pada masa khalifah Umar, hak-hak perempuan juga dijamin keberadaannya. Seperti kasus penentuan besarnya mahar ketika akan menikah. Khalifah Umar begitu memperhatikan dan mengapresiasi pendapat muslimah tersebut. Pada masa khalifah Mu’tashim Billah penjagaan terhadap kehormatan perempuan sangat dijaga.

BACA JUGA!

Menggapai Kebangkitan Hakiki

Wacana perubahan, menjadi topik hangat belakangan ini. Masyarakat menginginkan perubahan yang lebih baik. Kehidupan sulit …