Prabowo Subianto di Lapangan Kridosono,Yogyakarta.

Dua Jawa Dua Api Satu Podium

Seorang teman wartawan mengirimi saya video kampanye Prabowo (02) di Yogyakarta. Tentu dibarengi pertanyaan: “Dalam perspektif semiotika, bagaimana Anda menilai kemarahan 02 yang menggebrak podium saat kampanye tersebut? Apakah itu mencerminkan pribadi yang temperamental? Bagaimana kemungkinan akibatnya jika 02 menjadi presiden?, Sejauh mana itu bisa berbahaya?”

“Saya tidak melihat kemarahan,” jawab saya. Sejurus mata, tampak teman wartawan tersebut keheranan. Karena itu, seterusnya saya jelaskan begini.

Sehari sebelumnya Anda tentu meliput juga pidato 02 di GBK, bukan. Coba perhatikan, struktur pidato di Yogya itu sebangun dengan yang di GBK. Gesture, penguasaan panggung, pengaturan tempo bicara, bahkan beberapa diksi yang digunakan juga sama. Tuturan diksi baru Prabowo di GBK, “ndasmu!”, diulang pula di situ. So, itu adalah bagian dari retorika, semacam “kemarahan” yang direncanakan. Itu sebabnya tetap terkontrol.

Penanda lainnya. Perhatikan beberapa menit sebelum tindakan menggebrak podium itu dilakukan. 02 balik badan dan meminta pertimbangan kepada yang duduk berderet di latar belakang: “Apa boleh saya bicara agak keras di sini?”, demikian kurang lebih ujarnya.

Jadi, pertanyaan penting yang mesti dikemukakan, “mengapa kemarahan yang direncanakan itu dilakukan di Yogya?” Saya pikir ada dua jawaban. Pertama, 02 ingin membawa “suasana GBK” ke panggung tersebut. Jejak “auratik” pidatonya di GBK harus tetap melekat di benak publik. Dan itu secara politis memang penting.

Kedua, ini yang barangkali Anda lupakan. Beberapa pekan sebelumnya, Jokowi (01) juga kampanye di tempat yang sama, dan mengumbar “kemarahan terencana” pula, yakni tentang dirinya yang akan melawan tuduhan-tuduhan miring terhadapnya. Dan Anda tahu, saat itu peserta kampanye pun histeris menyambutnya. Nah, 02, saya pikir, juga hendak merespons itu.

Hal lain yang menarik, motif yang dimainkan dua calon orang nomor satu dalam lima tahun kedepan di negeri ini berbeda. 01 mengelola motif yang berkaitan dengan urusan pribadinya, yakni soal tuduhan-tuduhan tadi. Sedangkan 02 mengelola motif yang berhubungan dengan urusan sosial-kemasyarakatan, yakni soal “agresi aseng”, elit yang memperkaya diri, aparat yang mengintimidasi rakyat, dan seterusnya.

Dengan itulah keduanya “menyulut api”. Dan Anda bisa melihat hasilnya. Dengan motif pribadi, api itu seperti melenggang sentimental-melankolia. Sedangkan dengan motif sosial-kemasyarakatan, sang api tampak membara-mengangkasa. Padahal kita tahu, podiumnya sama. Keduanya berasal dari tanah Jawa pula. Bedanya, satu dari Solo yang lembut, satu lagi dari Banyumas yang lugas.

“Jadi, tidak usah khawatir dengan gebrakan podium 02. Tidak ada yang berbahaya”, demikian saya akhiri keterangan saya. Teman wartawan itu mengucapkan terima kasih sebelum kemudian pamit. Saya mengantarnya sampai ke pintu. Saya tidak tahu, ia akan pulang ke kubu mana.

Acep Iwan Saidi
Pakar Semiotika ITB Bandung

BACA JUGA!

FPI dalam Sorotan, Akankah Ada Keadilan?

20 Juni 2019 adalah tanggal habisnya masa SKT (Surat Keterangan Terdaftar) milik FPI (Front Pembela …