Gagalnya Operasi Politik dan Media di Akhir Tahun

Tak lama kemudian di beberapa wilayah Jabar seperti Sukabumi, dan Bogor, bahkan di beberapa titik di Jakarta beredar spanduk berlogo PAN, berisi penolakan mendukung Prabowo-Sandi. Tim advokasi PAN sudah melaporkan kasusnya ke Bawaslu.

Berita surat terbuka para pendiri PAN yang diplintir dan digoreng, membuka tabir adanya sebuah permainan besar di belakangnya. Mereka salah mengambil “pintu masuk,” untuk mengobok-obok PAN. Targetnya untuk menggoyah soliditas partai pendukung Prabowo-Sandi

Goenawan Cs bukan figur yang tepat untuk menggambarkan perpecahan PAN. Benar ada dua orang tokoh penting PAN yang mengundurkan diri atau non aktif. Keduanya adalah Bendahara Umum Nasrullah Larada, dan Sekretaris Dewan Kehormatan Putra Jaya Husin.

Nasrullah sudah cukup lama tidak aktif, tapi baru menulis surat tanggal 20 Desember. Sementara Putra Jaya sudah non aktif sejak bulan Juli lalu.

Keduanya juga tegas membantah, adanya perpecahan. Pengunduran diri itu hanya masalah ketidak-cocokan mereka secara pribadi dalam mengelola partai. Tidak ada kaitannya dengan dukungan dalam Pilpres.

Dengan tidak menjadi caleg dan pengurus partai, Putra Jaya malah mengaku bisa sepenuhnya fokus dalam Badan Pemenangan Pemilu Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Soal dukungan terhadap Prabowo-Sandi inilah yang menjelaskan mengapa PAN digoyang habis. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Sekjen Eddy Soeparno diketahui sangat aktif berkampanye. Keduanya sering terlihat mendampingi cawapres Sandiaga Uno berkeliling ke berbagai daerah.

BACA JUGA!

FPI dalam Sorotan, Akankah Ada Keadilan?

20 Juni 2019 adalah tanggal habisnya masa SKT (Surat Keterangan Terdaftar) milik FPI (Front Pembela …