Reuni Akbar Pejuang 212, 2 Desember 2018.

Gelora Reuni 212: Kokohkan Ukhuwah Islamiyah, Tepis Ashabiyah

Masyaallah, dari penjuru daerah lintas negara kaum Muslim berduyun-duyun menuju tempat yang dituju yaitu Monas. Walau berbagai halang rintang menghadang tak menyurutkan mereka untuk berkumpul di titik temu.

Peserta aksi damai yang luar biasa. Ada yang datang dengan naik bis, sengaja booking pesawat karena dihambat lewat armada darat. Bahkan ada yang ramai-ramai mengendarai sepeda motor juga mengayuh sepeda, berjalan kaki pun ada. Semua dilakukan untuk sebuah perjuangan. Ya sebagai upaya berkumpul merekatkan ukhuwah Islamiyah yang bertempat di Ibu Kota Negara Indonesia, Jakarta.

Allah ciptakan Muslim itu ibarat satu tubuh. Saat tubuh yang satu kesakitan maka bagian yang lain ikut menggigil. Bersatunya kaum Muslimin adalah sebuah kekuatan yang menggentarkan.

Tabiatnya Muslim itu bersatu dalam ukhuwah Islamiyah. Adanya satu padu meraih tujuan mulia, yaitu menjadikan Islam sebagai landasan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat juga bernegara.

Sebuah keniscayaan jika ukhuwah Islamiyah adalah temali sakral yang mesti tetap dijaga dan dikokohkan. Ini adalah bagian dari perintah Allah dan Rasulullah. Mewujudkannya membuahkan pahala. Bukti taat yang nyata sebagai seorang hamba.

“Sungguh orang-orang Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian dirahmati.” (Q.S. Al-Hujurat, 49: 10).

“Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan satu bangunan; sebagian menguatkan sebagian lainnya.” (HR Bukhari, At- Tirmidzi, An Nasa’i dan Ahmad).

Sementara ashabiyah atau fanatisme golongan merupakan hal yang rendah nilainya. Adanya hanya bersifat emosional dan temporal. Bahkan Rasulullaah saw. pun menegaskan ketidaksahihan ashabiyah untuk diadopsi kaum Muslim.

“Bukan dari golongan kami orang yang menyerukan kepada ‘ashabiyah (fanatisme kesukuan), bukan dari golongan kami orang yang berperang demi ‘ashabiyah, dan bukan dari go¬longan kami orang yang mati mempertahankan ‘ashabiyah.” (H.R. Abu Daud).

Sudah semestinya umat Islam merapatkan barisan, kian mengokohkan ukhuwah Islamiyah. Dalam buku “Merajut Benang Ukhuwah Islamiyah” karya Dr. Abdul Halim Mahmud diuraikan beberapa uslub atau cara menguatkan ukhuwah Islamiyah, yaitu sebagai berikut.

Pertama, ta’aruf atau saling mengenal. Saling mengenal secara baik karakteristik sesama Muslim akan membuka gerbang persaudaraan.

Kedua, ta’aluf atau saling mengikatkan diri. Mengobarkan semangat persatuan dengan saudara seakidah hendaknya menjadi ruh Muslim.

Ketiga, tafahum atau saling mengerti juga memahami. Esensi dari ini adalah mewujudkan kesepahaman dalam prinsip pokok ajaran Islam (ushuludin) lalu perkara cabang (furu’iyyah).

Keempat, ri’ayah dan tafaqud atau bersikap respek satu sama lainnya. Saling paham situasi yang menimpa saudaranya. Serta menjaga aib dari saudaranya.

Kelima, ta’awun atau saling membantu tentu saja dalam hal kebaikan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Keenam, tanashur atau tidak menjerumuskan saudaranya pada lubang kemaksiatan.

Sebenarnya masih ada satu poin lagi yang sangat untuk mengokohkan ukhuwah Islamiyah, yaitu tasamuh atau toleran. Namun, konsep toleran ini haruslah tetap ada dalam koridor syara.

Penjabarannya tidak boleh semata-mata diserahkan kepada logika manusia. Toleran pun hanya berlaku pada masalah yang sifatnya cabang yang berpotensi memunculkan perbedaan (ikhtilaf), bukan dalam cakupan perkara ushul atau akidah.

Dengan mengamalkan poin-poin tersebut, insyaallah umat Islam ada dalam barisan yang menguatkan. Mereka tidak mudah terpecah belah. Terlebih lagi saat umat Islam hidup dalam pemikiran, perasaan juga aturan yang satu, yaitu Islam. Mereka hidup di bawah naungan panji Rasulullah yang mengindahkan aturan Islam yang kaaffah.

Hidup berkah dalam kepemimpinan Islam. Kepemimpinan yang telah dicontohkan Rasulullah dan khulafaur rasyidin. Adanya kepemimpinan dan institusi negara berkewajiban menjaga akidah umat. Negara memakmurkan masyarakatnya secara paripurna. Aktivitas yang senantiasa dijalani tak lepas dari ibadah dan dakwah. Senantiasa menumbuhkan ruh perjuangan semata-mata karena ketundukkan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Tidakkah kita ingin merasakannya?. Wallahu’alam bishowwab.

Ammylia Rostikasari, S.S.
(Komunitas Penulis Bela Islam)

BACA JUGA!

Bukan Sekadar Nostalgia, Reuni 212 Momentum Bangkitnya Kesadaran Politik

Mendengar kata reuni, apa yang terbesit dalam pikiran kita?. Terkait