Guru Profesi Mulia

Seseorang bisa dikatakan mulia tatkala banyak orang merasakan kehilangan saat orang tersebut meninggal. Tatkala pemakamannya ramai dikunjungi orang dari berbagai kalangan dan latar belakang. Tatkala duka menyelimuti banyak orang ketika maut menjemputnya. Orang-orang akan beramai-ramai mengantarkan jenazah seseorang sampai ke pemakaman, karena jenazah tersebut telah berjasa besar bagi kehidupan mereka.

Jasanya telah membuat mereka mampu menyelesaikan permasalahan, mampu mengantarkan mereka meninggalkan kegelapan seraya menuju cahaya yang mendekatkan mereka kepada Allah swt. Orang yang telah meninggal tersebut adalah seorang guru yang memberikan ilmu sehingga seorang pelajar merasa menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Suasana duka menyelimuti Umat Muslim di Indonesia lantaran meninggalnya Ustaz Arifin Ilham, pengasuh Pondok Pesantren Az-Zikra pada hari Rabu, 22 Mei 2019, Pukul 23:20 waktu Penang, Malaysia pada usia 49 tahun karena penyakit kanker dan getah bening yang telah di deritanya sejak tahun 2018 lalu. (detik.com, 22/5/2019).

Ratusan pelayat terus berdatangan dari berbagai daerah ke lokasi pemakaman Ustadz Arifin Ilham yang berada di komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Az-Zikra, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Kamis (23/5/2019). Walaupun jenazah sang ustadz belum tiba, namun para pelayat tak segan untuk menunggu sembari melantunkan dzikir dan doa di dalam masjid. Salah satu jamaah pengajian Az-Zikra yang hadir dalam pemakaman tersebut mengaku turut bersedit dan merasa amat kehilangan sosok ulama yang istiqomah. (regional.kompas.com, 23/5/2019).

Puluhan karangan bunga ucapan belasungkawa atas meninggalnya Ustaz Arifin Ilham berjajar rapi di pintu masuk Pondok Pesantren Az-Zikra Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (news.okezone.com, 23/5/2019).

Inilah gambaran mulianya seorang ustadz. Dalam kamus “Al-Mu’jamul Wasith” kata ustaz memiliki makna pengajar, sedangkan di Indonesia, kata ustaz dipakai untuk menyebut dai, mubaligh, penceramah, guru ngaji Quran, guru madrasah diniyah, guru ngaji kitab di pesantren, pengasuh/pimpinan pesantren. Bisa dikatakan ustaz adalah seseorang yang berprofesi sebagai guru yang mengajarkan ilmu untuk mendekatkan diri para pelajar/ anak didiknya kepada Allah swt.

Guru mata pelajaran apapun, selama ia bisa mengajak muridnya mendekat kepada Allah dengan mengajarkan ilmu yang dimilikinya, maka ilmu tersebut akan sangat bermanfaat bagi murid. Sebab, Islam merupakan agama yang sempurna dan paripurna (syamilan wa kamilan), segala sesuatu permasalahan pasti dijumpai penyelesaiannya dalam Islam, yang apabila diterapkan secara keseluruhan maka akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Guru matematika misalnya mengajarkan perhitungan untuk mengingatkan muridnya akan kematian, bahwasanya kehidupan di dunia hanyalah sebentar, mengingatkan muridnya bahwa waktu yang dihabiskan semestinya untuk melakukan sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah, jangan sampai menjadi orang-orang yang merugi lantaran menyianyiakan waktu untuk hal-hal mubah yang melenakan dan melalaikan seseorang mendekat dari Allah.

Guru IPS misalnya bisa mengajarkan bahwasanya Islam mengatur batasan interaksi sosial antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhram, dengan tidak berdua-duaan di tempat yang sepi maupun ramai, diperintahkan untuk saling menundukkan pandangan. Dan bagi perempuan diperintahkan untuk menutup seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan.

Apapun, mata pelajaran yang di ajarkan seorang guru. Selama ilmu yang diberikannya mampu membuat peserta didiknya dekat kepada Allah, maka ketika kematian datang menjemput tentulah akan banyak orang yang merasa kehilangan dan berduka atas hal itu. Ini pun terjadi ketika kematian Ustaz Jefrry al-Buchori yang pemakamannya pun ramai dikunjungi ratusan orang dari berbagai kalangan dan daerah.

Selain itu, seorang guru yang mengajarkan ilmu Islam kepada peserta didik akan mendapatkan pahala yang tiada putus-putusnya, meskipun maut telah menjemputnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang digunakan, atau do’a anak yang sholeh “. (HR. Muslim no. 1631)

Sebaliknya, jika ilmu yang diajarkan seorang guru kepada muridnya adalah sekulerisme yang memisahkan kehidupan dunia dengan akhirat, maka dosanya pun akan mengalir kepada guru tersebut terutama ketika si murid mengamalkannya. Misalnya, mengatakan bahwa ibadah hanya di masjid saja sedangkan setelah keluar dari masjid manusia bebas menentukan pilihannya sendiri, sehingga si peserta didik mengikuti gaya hidup liberal dalam kesehariannya.

Begitupula seorang guru yang mungkin, ingin membuat candaan di kelas dengan seolah membolehkan pacaran ataupun berdua-duan antara yang bukan mahram, maka ketika si peserta didik pacaran yang dalam Qur’an Allah jelaskan bahwasanya dilarang mendekati zina, tetapi dengan pacaran seseorang telah mendekati zina. Dosanya pun akan mengalir kepada si guru tersebut.

Atau misalnya, seorang pencopet yang mengajarkan kepada orang lain cara mencopet, maka ketika orang lain itu mempraktikkan cara mencopet sebagaimana yang telah di ajarkan, dosanya pun akan mengalir kepada orang yang telah mengajarkan.

Profesi guru itu mulia ketika ilmu yang diajarkan adalah yang mendekatkan seseorang kepada Allah, tetapi menjadi hina ketika ilmu yang diajarkannya justru menjauhkan seseorang dari Allah. Wallahu’alam bishawwab.

Anisa Fitri Mustika Bela
Aktivis Dakwah BMIC dan Mahasiswa UNJ

BACA JUGA!

Save FPI!

Kezaliman itu makin menjadi. Tak puas dengan HTI, mereka menarget FPI. Ya, target pembubaran ormas …