Ijtima’ Ulama IV, Angin Segar bagi Umat

Inilah jawaban dari segala penasaran yang menggelayut di benak umat. Kemanakah arah alumni 212 akan berpihak. Pasalnya, aksi 212 bukan semata berkumpul karena kepentingan politik praktis, melainkan ada motivasi juga kehendak untuk bangkit. Cerminan umat yang berpikir kian kritis. Mengingat kondisi negeri yang kian hari kian memprihatinkan dalam lini kehidupan.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap umat dan kondisi bumi pertiwi, para ulama kembali berkumpul dalam Ijtima’ Ulama IV di Sentul Bogor, Senin (5/8). Pertemuan ini menjadi penting adanya. Meninjau pemilu yang telah terlaksana penuh aroma kecurangan.

Jelas bukan tanpa alasan, jika adanya ijtima’ ulama ini tidak melibatkan partai-partai politik. Mengingat rekonsiliasi elite politik yang selama ini berseberangan dianggap sebagai sikap ketidaksetiaan terhadap perjuangan ulama. Sementara umat yang menggebu dalam perjuangan, menginginkan rezim anti-Islam untuk tak lagi memegang tampuk kekuasaan.

Para ulama pun telah menegaskan bahwa pemilu 2019 begitu kentara dengan aroma kecurangan yang terstruktur, sistematik nan pelik. Dengan demikian, perlu adanya pembentukan tim investigasi serta advokasi terhadap tewasnya lebih dari 700 petugas pemilu tanpa autopsi. Belum lagi ada lebih dari 11.000 petugas pemilu yang jatuh sakit serta dirawat di berbagai rumah sakit. Sebuah tragedi yang menuntut pengusutan tuntas agar tabir terungkap sebab musababnya.

Ulama adalah pewaris nabi, sikap empati begitu mendominasi dalam diri mereka. Perhatian besar pun tertuju pada tragedi berdarah 21-22 Mei yang mengakibatkan ratusan rakyat terluka. Ada yang ditangkap juga dianiaya, jiwa melayang tanpa alasan bahkan empat di antaranya masih terkategori anak di bawah umur. Subhanallaah. Inilah pelanggaran HAM yang sesungguhnya. Mesti dimintai pertanggung jawaban demi tegaknya keadilan.

Para ulama pun menghendaki rezim untuk mengakhiri kriminalisasi terhadap ulama. Mereka pun meminta agar rezim menghentikan agenda pembubaran Ormas Islam dan membebaskan semua ulama juga aktivis 212 beserta simpatisannya yang ditahan pasca 212 Tahun 2016 sampai sekarang dari segala tuntutan yang hakikatnya diada-adakan. Termasuk di dalamnya yang juga begitu urgen ialah mempersilakan kepulangan Imam Besar Umat Islam Indonesia, Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab ke negeri tercinta tanpa syarat apapun yang memperberat.

Kewajiban kembali pada penerapan syariat dan penegakkan khilafah pun menjadi poin penting dalam Ijtima Ulama IV: “ Bahwa sesungguhnya semua ulama ahlussunnah wal jamaah telah sepakat penerapan syariat dan penegakkan khilafah serta amar makruf nahi munkar adalah kewajiban agama Islam.” Urusan yang begitu urgen dan stategis, menyoal belakangan ini begitu santer dinarasikan jahat dan dimonsterisasikan pada konsep khilafah sebagai kepemimpinan Islam.

Sejatinya khilafah sebagai model kepemimpinan Islam yang telah disyaratkan dalam Al Quran dan As Sunnah. Jelas keberadaannya mengundang keberkahan, bukan sebagai ancaman. Lontaran pernyataan jika khilafah ditegakkan akan “men-Suriah-kan” Indonesia ini, hanyalah omongan dari orang-orang yang alergi terhadap ajaran Islam. Kalangan yang telah terhipnotis paham-paham menyimpang seperti halnya sekularisme juga liberalisme.

Sesungguhnya ancaman nyata itu telah diperingatkan oleh ulama. Belenggu kesengsaraan yang dihasilkan dari kapitalisme dan komunisme. Dalam keputusannya, ulama menegaskan untuk menolak segala bentuk tatanan ekonomi kapitalisme dan liberalisme dalam semua aspek kehidupan. Tak luput juga, ulama menolak penjualan aset negara kepada aseng dan asing. Termasuk mencegah geliat bangkitnya ideologi Marxisme, Leninisme, Komunisme, Maoisme dalam segala bentuk dan cara apapun.

Inilah angin segar bagi umat yang tengah dibuat sumpek oleh hawa ketidakadilan akibat eksistensi rezim anti-Islam. Umat sudah sangat berharap perubahan hakiki itu dapat terbukti. Tiada lain dengan kembali pada penerapan syariat dan penegakkan khilafah yang menjadi klimaks perjuangan umat. Peran ulama begitu khidmat dan sangat berpengaruh dalam menggerakkan umat. Ukhuwah dipererat, insyaallah pertolongan Allah segera didapat. Hidup penuh berkah di bawah naungan Islam rahmatan lil ‘Aamiin. Wallahua’lam bisshowab.

Ammylia Rostikasari, S.S.
(Komunitas Penulis Bela Islam)

BACA JUGA!

Save FPI!

Kezaliman itu makin menjadi. Tak puas dengan HTI, mereka menarget FPI. Ya, target pembubaran ormas …