Islam Jalan Perubahan Hakiki

Masih belum reda pemberitaan di media sosial tentang aksi demonstrasi oleh mahasiswa dibeberapa kota di nusantara dan juga aksi umat Islam di depan Istana negara. Yang mana tujuan dari aksi-aksi ini adalah terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik bagi bangsa ini. Menjadi bangsa yang berdaulat, kokoh, bermartabat serta mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya.

Harapan kita akan aksi untuk perubahan ini jangan sampai gagal dan dibajak oleh kepentingan lainnya. Sehingga seperti seremonial tanpa makna. Maka agar perubahan yang kita inginkan itu mendasar, mengakar dan benar, maka penting bagi kita untuk memahami filosofisnya. Yakni yang pertama kesadaran adanya masalah dan apa akar masalahnya. Yang kedua mengetahui tentang kondisi ideal yang dicita-citakannya dan yang ketiga paham peta jalan perubahan.

Mengenai kesadaran adanya masalah yang mendera bangsa ini umat sudah merasakan sendiri buruknya sistem yang ada. Di semua sisi kehidupan digerogoti masalah yang belum teratasi. Di bidang ekonomi utang pemerintah makin menggunung tinggi, impor makin menjadi. Dibidang sosial kriminalitas, pergaulan bebas belum tuntas. Dibidang politik lahirnya undang-undang yang tidak berpihak pada rakyat, lobi-lobi jabatan makin telanjang. Dan dibidang lainnya pun tidak kalah bobroknya.

Namun umat belum paham akan akar masalahnya dan tidak paham pula ke mana arah perubahan serta bagaimana caranya agar tidak mengalami kegagalan. Inilah yang membuat resah sehingga aksi perubahan gampang ditunggangi dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang mencari keuntungan untuk kelompoknya sendiri.

Maka fokus yang saat ini harus kita lakukan yaitu menyadarkan umat bahwa masalah yang ada adalah masalah sistemik akibat penerapan sistem kapitalis dan tidak diterapkannya Islam dalam kancah kehidupan. Inilah sumber masalah terbesar yang harus disadari. Umat harus menyadari bahwa dengan penerapan sistem kapitalis yang mempunyai asas sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan telah nyata membuat negeri ini makin terpuruk. Para penguasa dan pejabat tidak takut terhadap halal haram, sehingga mereka menentukan kebijakan sesuai dengan kepentingan mereka dan kepentingan para kapitalis. Maka tidak heran undang-undang yang ada hari ini adalah undang-undang yang sarat akan kepentingan kelompok tertentu, selain itu undang-undang yang dibuat juga berpihak kepada para pemodal/kapitalis yang telah berjasa mengantarkan para pejabat ke kursi kekuasaan.

Semboyan demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat sejatinya hanya fatamorgana saja, dan yang ada adalah dari pemodal, oleh pemodal dan untuk pemodal. Maka tidak heran jika sistem kapitalis gagal sebagai sistem kehidupan karena sistem ini adalah buatan manusia yang tidak tau secara hakiki mana yang baik dna buruk untuk umat, untuk itu sistem buatan manusia tidak layak kita gunakan sebagai jalan perubahan.

Selain itu akar masalahnya adalah tidak diterapkannya hukum Allah, sehingga kedholiman dan kesengsaraan hidup dimana-mana. Padahal Allah Swt adalah sebaik-baik pembuat hukum sebagaimana dalam Alquran surat al Maidah ayat 50.

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Sungguh Allah Swt adalah sebaik-baik pembuat hukum, dan umat Islam tentu harus meyakini ini dan mengupayakam agar hukum Allah tegak serta tidak memakai hukum buatan manusia. Namun sayangnya sebagian kaum muslimin hari ini malah memilih hukum buatan manusia dan tidak menerapkan hukum buatan Allah Swt. Padahal kalau kita mencampakkan hukum Allah makan akan berdampak pada kehidupan manusia di dunia juga di akhirat. Di dunia membuat kehidupan manusia sengsara dan tercabutnya kerahmatannya. Sedangkan di akhirat akan mendatangkan azab Allah SWT karena telah mengabaikannya hukum yang bersumber dari-Nya. Allah SWT berfirman dalam surat Thaha ayat 124

“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh bagi dia penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (TQS Thaha: 124)

Kenyataannya kondisi hari ini jauh berbeda dengan kondisi ketika Islam diterapkan dalam kancah kehidupan. Maka kehidupan manusia akan dipenuhi oleh rahmat dan kebaikan dalam segala bidangnya. Karena Islam menyandang rahmatan lil’alamin yang tidak hanya memberi kesejahteraan hidup untuk umat Islam saja, tapi juga akan menjadi menyejuk bagi semua umat manusia. Bahkan juga makhluk yang ada di sekitarnya. Jadi Islamlah yang akan membukakan pintu kebaikan dan keberkahan dari langit dan bumi.

Marilah kita menengok sejarah kejayaan kepemimpinan Islam. Islam tampil memimpin dengan menguasai hampir 2/3 dunia. Tidak pernah ada keberatan atas kepemimpinannya. Islam adalah sistem yang bertanggung jawab, adil, dan membetikan kesejahteraan. Sistem Islam menempatkan orang miskin dan yang membutuhkan menjadi prioritas program ekonominya. Islam memiliki kapasitas untuk menyatukan rakyatnya sebagai warga negara yang setara, terlepas dari ras. Bahkan membuat non-muslim merasa aman. Islam akan mempertahankan tanahnya dari penjajahan dan eksploitasi negara-negara imperialis modern. Maka yang terjadi di dalam negeri makin produktifit, kesejahteraan merata, keadilan terwujud, keamanan terjaga. Sebab sistem Islam menghendaki penguasa untuk menetapkan kebijakan yang tidak diskriminatif dan zalim.

BACA JUGA!

Ilusi Pemberantasan Pornografi

Dalam sebuah talkshow di kanal youtube, Ganjar Pranowo berterus terang akan dirinya yang gemar untuk …