Ilustrasi: Aksi mahasiswa 1998.

Isu Radikalisme Jegal Pemuda Pelopor Perubahan

Agustus hingga September adalah momen-momen diterimanya mahasiswa baru di perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Mahasiswa baru para pemuda pemudi harapan bangsa ini kini telah memulai langkah-langkah panjangnya dalam lingkungan intelektualitas di kampus.

Lingkungan yang terbilang baru untuk mereka. Dimana di kampus mereka dapat lebih proaktif dalam menggapai ilmu. Membangun kecerdasan pikiran dan ikut serta meniti jalan membangun bangsa menuju kebangkitan dari keterpurukan.

Kampus memang telah lama menjadi tempat bagi para pemuda kita untuk mengekspresikan jiwa muda mereka. Tidak hanya dalam bakat-bakat yang biasa tapi juga peran mereka dalam mengawal dunia perpolitikan kita.

Kita tentu tidak pernah lupa akan peran para mahasiswa dalam dimulainya babak baru pemerintahan kita yang bernama ‘era reformasi’ pada tahun 1998. Tidak bisa dipungkiri bahwa para pemuda, mahasiswa, senantiasa menorehkan peran sertanya dalam perjalanan bangsa kita.

Akan tetapi, akhir-akhir ini kampus beserta para mahasiswa bahkan para rektor dan dosennya telah memperoleh label ‘miring’ sebagai tempat tumbuh suburnya paham radikalisme bahkan terorisme.

Sungguh sangat disayangkan. Terlebih ketika tudingan ini tidak memiliki landasan yang kuat. Hanya berdasarkan asumsi dan bukti yang dibuat-buat.

Sebagaimana kita ketahui bahwa terorisme, yang kini berafiliasi dengan radikalisme, tidak pernah benar-benar terbukti keberadaannya secara benar dan pasti. Bahkan di pengadilan-pengadilan kita bukti atas kasus terorisme sangat kabur dan cenderung mengada-ada.

Seperti halnya ibu terorisme di dunia internasional yang digagas oleh Amerika, yang terbukti penuh dengan rekayasa. Namun sayangnya, banyak negara, termasuk Indonesia, yang menelan mentah-mentah doktrin ini. Dan ‘membebek’ dengan semua kebijakan Amerika.

Isu radikalisme dan terorisme di kampus ini mengemuka setelah Densus 88 menangkap 3 orang terduga teroris di Universitas Riau (detik.com, 11/7/2018). Konon ketiganya adalah alumni yang memanfaatkan kampus sebagai tempat untuk mengkoordinir aksi mereka. Ditemukan barang bukti berupa bom rakitan dan peralatan pembuatnya.

Sebagai tindak lanjut atas penangkapan tersebut, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir menyatakan bahwa akan dilakukan monitoring kepada para dosen dan mahasiswa. Salah satu pengawasan yang dilakukan yaitu dengan mendata nomer HP dan akun media sosial milik dosen dan para mahasiswa.

Tidak hanya itu, pemerintah pun kini semakin gencar melakukan kampanye anti radikalisme di kampus-kampus di seluruh Indonesia. Salah satunya dengan memanfaatkan momen masa orientasi mahasiswa baru-baru ini. Tidak tanggung-tanggung, Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius M.H. pun terjun langsung ke lapangan.

Di kampus Universitas Widyatama misalnya. Beliau menyampaikan agar para mahasiswa mampu mengidentifikasi radikalisme yang ada di lingkungan kampus. (bnpt.go.id, 12/9/2018)

Kampus atau perguruan tinggi telah dianggap sebagai tempat munculnya bibit-bibit radikalisme dan juga terorisme muncul. Asas kebebasan berpikir di kampus-kampus dianggap telah digunakan untuk menumbuhkembangkan dua paham ‘berbahaya’ tersebut.

Bahkan penunjukkan rektor kini pun harus melalui persetujuan presiden. Hal ini, menurut pemerintah, adalah sebagai upaya mengeliminir tokoh-tokoh yang pro radikalisme di lingkungan kampus.

Jika kita melihat fakta-fakta ini dengan jeli. Sesungguhnya dihembuskannya isu radikalisme dan terorisme di kampus adalah sebuah upaya untuk mengintervensi kehidupan kampus. Untuk kemudian dijadikan sebagai dalih untuk memonitor para mahasiswa bahkan juga rektor dan para dosennya.

Tindakan ini dilakukan oleh penguasa untuk meminimalisir gejolak-gejolak yang timbul dari kalangan mahasiswa. Bahkan bisa jadi untuk mengkebiri peran mahasiswa dalam mengawal jalannya pemerintahan seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya.

Di mana mahasiswa aktif menyampaikan aspirasi bahkan kritik atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap kontraproduktif dan tidak berpihak pada rakyat. Melalui berbagai aksi di seluruh penjuru negeri, para mahasiswa telah menorehkan andilnya dalam mengusung perubahan demi kemajuan bangsa.

Aksi-aksi inilah yang agaknya membuat gerah pemerintah dan menjadikan dalih radikalisme di kampus sebagai upaya untuk mengerdilkan peran mahasiswa dalam mengkritisi kebijakan penguasa. Dan semakin menjauhkan para pemuda dari kebangkitan pemikiran Islam. Hal ini dengan melabeli ‘radikal’ pada tiap pemikiran Islam yang dianggap mengancam keberadaan penguasa.

Hal ini tentu sangat disayangkan. Usia muda adalah usia di mana manusia memiliki potensi yang sangat optimal. Potensi fisik juga pemikiran sedang berada dalam masa keemasannya. Semangat yang mereka miliki pun sedang berada di puncaknya.

Potensi ini seharusnya bisa difasilitasi secara optimal. Dengan demikian, para pemuda bisa berperan sesuai porsinya dalam membangun peradaban. Sehingga energi dan potensi yang mereka miliki dapat tersalurkan dengan optimal.

Sejarah mencatat bagaimana para pemuda senantiasa berperan besar dalam perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Sejarah kemerdekaan Indonesia pun tidak terlepas dari peran para pemudanya kala itu.

Begitu pula sejarah kejayaan Islam yang pernah melingkupi 2/3 wilayah dunia ini selama ribuan tahun. Para pemuda senantiasa menjadi motor penggerak peradaban. Semangat mereka dalam memperjuangkan tegaknya agama Allah di muka bumi patutlah menjadi teladan.

Sejak masa-masa awal kemunculan Islam di jazirah Arab pun, para pemuda telah menjadi garda terdepan sebagai pengembannya. Para sahabat nabi yang tercatat sebagai assabiqunal awwalun, orang yang pertama masuk Islam, pun terdiri dari para pemuda-pemuda pilihan. Usia mereka berkisar antara belasan hingga 30-an tahun.

Sahabat Ali bin Abi Thalib baru berusia 8 tahun saat pertama memeluk Islam. Umar bin Khathab berusia 26 tahun saat memutuskan mengucap dua kalimat syahadat. Sementara Utsman bin Affan dan Abu Bakar ash Shidiq masing-masing berusia 34 tahun dan 37 tahun saat pertama kali menerima dakwah Rasulullah.

Kemudian sejarah masa keemasan peradaban Islam juga mencatat nama Muhammad Al Fatih yang berhasil menaklukan Konstantinopel, ibu kota Byzantium, pada saat beliau berusia sangat muda yaitu 22 tahun.

Ada pula Abdurrahman An Nashir yang membawa Andalusia mencapai puncak keemasannya dan mencetuskan kebangkitan sains yang tiada duanya. Usia beliau ketika itu baru menginjak 21 tahun.

Demikianlah ketika para pemuda dengan segala potensinya diberikan ruang untuk mengaktualisasikan diri semaksimal mungkin. Peradaban Islam telah terbukti dapat melahirkan para pemuda hebat pengukir sejarah keemasan Islam.

Namun, sayangnya di era demokrasi saat ini yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih diberi ruang untuk berpartisipasi menggagas perubahan, para pemuda, khususnya mahasiswa, justru dikebiri kebebasannya dengan dalih radikalisme dan terorisme.

Padahal sejatinya yang dilakukan penguasa hanyalah upaya meredam tiap api gejolak yang dapat menggoyang keberlangsungan rezim penguasa. Terlebih di tahun politik jelang Pileg dan Pilpres 2019.

Maka, ibarat pepatah, jauh panggang dari api, jika berharap kebangkitan negeri dalam kungkungan demokrasi. Sebab demokrasi hanya bertujuan melanggengkan kekuasaan bukan mengusung perubahan demi kesejahteraan umat.

Maka sudah saatnya umat, terlebih lagi pemuda dan mahasiswa, untuk cerdas dalam melihat fakta. Isu radikalisme yang dihembuskan penguasa sejatinya adalah upaya menjauhkan kita dari kebangkitan pemikiran Islam yang sesungguhnya. Sudah sepatutnya isu ini tidak menyurutkan langkah kita sedikit pun guna menggagas perubahan dan menyongsong kebangkitan Islam.

[Mukhya Aisyarfa]

BACA JUGA!

Pertemuan IMF-WB di Bali, Heroisme yang Antiklimaks

“Jokowi Sebut Asia-Afrika Tak Butuh Bank Dunia dan IMF” demikian judul yang dibuat Tempo.co, pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *