Jadilah Generasi Quran, Bukan Generasi Mobile Legend

Seorang gamers online berinisial YS ditangkap oleh jajaran Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Perempuan berusia 26 tahun ini ditangkap setelah membobol bank sebesar Rp1,85 miliar lewat sebuah games online, Mobile Legend. “Dimana tersangka perempuan, YS, tidak bekerja, asal Pontianak, berhasil bobol bank sehingga salah satu bank ini mengalami kerugian Rp1,85 miliar,” kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Ade Ary Syam Indradi di Mapolda Metro Jaya, di Jakarta, Sabtu, 18 Mei 2019. (viva.co.id)

Miris! Adanya kasus tersebut membuat kita semakin sadar bahwa betapa sangat merusaknya permainan game online. Sudah bukan hal yang asing bagi anak-anak saat ini, bermain game online menjadi hobi baru yang digemari oleh banyak kalangan terutama anak-anak dan remaja. Perkembangan game online pun tak kalah pesat dari perkembangan media sosial, terbukti di awal kemunculan game online pertama kemudian diikuti dengan game online lainnya, seperti Nexia, Redmoon, Lagham dan saat ini yang sedang naik daun adalah permainan Mobile Legend.

Pada situs wikipedia.org tertulis, Mobile Legends: Bang Bang adalah sebuah permainan MOBA yang dirancang untuk ponsel. Kedua tim lawan berjuang untuk mencapai dan menghancurkan basis musuh sambil mempertahankan basis mereka sendiri untuk mengendalikan jalan setapak, tiga “jalur” yang dikenal sebagai “top”, “middle” dan “bottom”, yang menghubungkan basis-basis. Di masing-masing tim, ada lima pemain yang masing-masing mengendalikan avatar, yang dikenal sebagai “hero”, dari perangkat mereka sendiri. Karakter terkontrol komputer yang lebih lemah, yang disebut “minions”, bertelur di basis tim dan mengikuti tiga jalur ke basis tim lawan, melawan musuh dan menara.

Dari kutipan di atas, jelas game online merupakan budaya baru yang telah menghipnotis penggemarnya untuk mengahabiskan waktu berlama-lama di depan layar smartphone atau komputer ketimbang bergaul di kehidupan nyata. Ini karena para gamers bisa merasakan sensasi keseruan dan asyiknya bermain dengan puluhan lawan main yang berada di lokasi yang berbeda-beda. Para gamers pun bisa memainkan game dengan memilih jenis avatarnya sendiri. Terlebih lagi, seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat para gamers dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas penunjang dalam memainkan game online.

Tanpa disadari, game online telah membentuk budaya dan cara berpikir penggemarnya yang kebanyakan anak-anak. Hal itu akan memunculkan “interpretive community”, seperti dikutip dalam handbook of new media: children and new media: “The culture of games playing involves an ongoing construction of an ‘interpretive community’ (ef.Radway, 1984)—and this respect, as Jessen (1999) argues, it may be better suitted to the pattern of children’s play than older media such as books, which one is elone is consuming”. Kemunculan interpretive community dalam buku Littlejohn menurut Stanley Fish, yaitu kelompok-kelompok yang saling berinteraksi, membentuk realitas dan makna secara bersama-sama, dan menggunakannya dalam proses pembacaan mereka. Artinya, menurut Fish, pemberian makna bukanlah perkara individual.

Berdasarkan hal tersebut, anak-anak akan membentuk sebuah komunitas dan menafsirkan dunianya berdasarkan atas apa yang dia mainkan di game online. Mereka akan menganggap bahwa realitas sama dengan apa yang mereka lihat di game. Sedangkan, anak-anak hanya bisa langsung menelan mentah-mentah segala informasi ataupun adegan-adegan yang ditampilkan dalam game dan belum tahu makna sebenarnya.

Sebagai contoh, apabila anak-anak memainkan game dengan unsur kekerasan seperti game smack down, war rock, call of duty dsb, maka mereka akan menganggap kekerasan dalam dunia nyata suatu hal yang lumrah dan ekstremnya lagi game yang berunsur kekerasan tersebut dapat menjadikan karakter anak menjadi seorang pembunuh. Sudah banyak contoh kasus yang terjadi akibat meniru adegan kekerasan dalam game seperti yang dulu pernah menjadi sorotan yaitu kasus mengenai banyaknya anak-anak yang meniru adegan bergulat seperti dalam game smack down dan telah menghilangkan nyawa temannya.

Game online telah menjadi candu bagi anak-anak, sulit untuk menghilangkan kebiasaan itu, karena game online selalu menghadirkan pembaruan dan tentunya tidak akan membuat bosan para pemainnya. Kecanduan game pada anak-anak memang suatu hal yang miris. Kehidupan sosial di dunia nyata akan menjadi berantakan dan dapat menjadikan anak seorang yang introvert. Mereka lebih menyukai berlama-lama di depan komputer untuk bermain game karena adanya suatu level yang membuat gamers untuk selalu merasa tertantang meningkatkan level tersebut hingga mencapai kemenangannya.

Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh para pemilik modal (kaum kapitalis) untuk mencari keuntungan. Kasus pembobolan bank yang dilakukan gamers berinisial YS merupakan salah satu contohnya. Demi memuaskan hasrat dan sensasi permainan games online yang bisa jadi sudah menjadikan games tersebut bagian dari kehidupan gamers, gamers rela melakukan apa saja walaupun harus melakukan tindakan melanggar hukum.

Kehidupan di alam maya sudah mendominasi para gamers sehingga mereka lupa dengan kehidupan nyata. Pada akhirnya, permainan games online bukan sekedar hobi tapi sudah menjadi gaya hidup (lifestyle). Menjamurnya kasus-kasus berkaitan dengan games online merupakan buah dari liberalisasi lifestyle karena liberalisasi lifestyle menumbuhkan perilaku kriminal. Untuk menjaga eksistensi, orang-orang yang terjebak dalam liberalisasi lifestyle biasanya akan menghalalkan segala cara tanpa berpikir apakah yang dilakukan sesuai dengan aturan agama atau justru melanggarnya.

Idealnya, ketika orang terikat dengan aturan agama dia senantiasa berhati-hati dalam melakukan aktivitas dikehidupan sehari-harinya. Ketika manusia sadar bahwa waktu diibaratkan seperti pedang, dia tidak akan menyia-nyiakan waktu sedetik pun untuk hal-hal yang tiada guna. Karena kelak Allah swt. akan meminta pertanggungjawaban di yaumil hisab.

Harusnya ini juga disadari oleh para gamers yang rela menghabiskan waktunya yang berharga hanya untuk bermain dan bermain. Allah swt. berfirman dalam surat Luqman ayat 16.

“(Luqman berkata) wahai anakku! Sungguh jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau langit, atau bumi, niscaya Allah swt. akan memberinya balasan. Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.”

Namun, masalah yang disebabkan games online bukan sekedar masalah individual tapi merupakan masalah sistemik. Ini berawal dari pendidikan dasar yang salah yang diterima anak-anak di usia dini. Aqidah yang seharusnya menjadi pondasi dasar anak agar mempunyai jiwa yang kuat, cerdas, mandiri dan bervisi akhirat justru tidak menjadi prioritas dalam sistem pendidikan dewasa ini. Para orang tua yang kurang paham terhadap pendidikan agama juga abai akan kebutuhan dasar yang sejatinya menjadi fitrah yaitu pendidikan agama. Padahal dalam al-quran Allah swt. telah berfirman:

“Dan (ingatkalah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepada anknya, Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesunghunya menyekutukan Allah swt. adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman : 13).

Sejatinya ketika anak-anak sudah dipahamkan bahwa meraih ridho Allah swt. adalah sesuatu yang utama dan penting, in syaa Allah mereka tidak akan mudah terbawa arus zaman yang semakin tidak bersahabat. Anak-anak yang mendapat pendidikan agama secara baik, hatinya akan senantiasa terikat dengan aturan Allah, jiwanya tidak akan jauh dari alquran dan assunnah. Hari-harinya akan dihiasi dengan mempelajari alquran, ilmu agama dan tentunya tidak akan diragukan lagi ilmu pengetahuannya karena sejatinya alquran merupakan kunci utama ilmu pengetahuan.

Sesungguhnya, untuk memutus mata rantai agar generasi muda saat ini tidak larut dalam permainan games online sebenarnya tidak sulit. Hanya butuh satu perangkat kebijakan dari pemerintah dengan undang-undang yang mengatur peredaran games online. Namun sangat disayangkan, penguasa justru lalai melindungi generasi dari kerusakan akibat munculnya permainan games online.

Padahal, peran pemerintah dalam melindungi generasi dan menjaga aqidah anak-anak harapan masa depan merupakan kewajiban mutlak yang harus dipenuhi. Dan ini akan sangat mustahil bisa terwujud ketika sistem tidak memfasilitasi dan tidak memandang ini merupakan masalah urgent. Rasulullah SAW menyatakan bahwa kepemimpinan bisa jadi penyesalan di hari kiamat. Beliau berkata kepada Abu Dzar terkait kepemimpinan,

“Sesungguhnya (kepemimpinan) itu adalah amanah. Pada hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi mereka yang menunaikan amanah tersebut sesuai haknya dan menjalankan kewajibannya.” (HR Muslim).

Dari pemaparan di atas telah terang benderanglah bahwa hanya sistem Islam yang memungkinkan mewujudkan generasi berakhlak mulia, cerdas dan berjiwa kuat. Karena memang hanya sistem Islam yang akan menerapkan aturan Allah swt. dalam alquran dan assunnah secara kaffah agar rahmat Allah swt. turun menaungi alam semesta. Wallahu a’lam.

Anggun Permatasari
(Aktivis Dakwah)

BACA JUGA!

Kamu Suka Fotografi?, Begini Hukumnya menurut Islam

Gambar yang diambil dengan sinar matahari – sekarang dikenal dengan istilah fotografi – merupakan hal …