Jalan Tol Versus Jalan Pikiran

Hendrar Prihadi selaku Wali Kota Semarang mengeluarkan pernyataan yang kontroversial. Dalam Pernyataan Hendrar soal jalan tol ini disampaikan saat gladiresik silaturahmi Jokowi dengan paguyuban pengusaha Jawa Tengah. Ia mengatakan bahwa masyarakat yang tak mendukung Joko Widodo alias Jokowi di Pilpres 2019 tak boleh menggunakan jalan tol. Hendrar menuturkan jalan tol merupakan hasil kerja keras Jokowi selama empat tahun memimpin. Sebab itu, Hendrar meminta masyarakat yang tidak mendukung Jokowi tidak perlu menggunakan jalan tol.

Terkait hal tersebut, Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, menilai jika ungkapan Hendrar tidaklah etis bahkan dapat dikatakan melanggar hukum. Menurut Fadli, sebagai Wali Kota, Hendrar tak berhak berbicara seperti itu. Sebab, ucap dia, Hendrar seperti melampaui kewenangannya dengan melarang masyarakat melewati jalan tol ketika berbeda pilihan dalam Pilpres 2019. “Jalan tol itu yang bangun siapa? emang jalan tol yang bangun nenek moyang dia?” katanya. (Tempo.co/4/02/2019).

Jelang Pilpres beberapa bukan mendatang, optimalisasi kampanye semakin ketat dilancarkan. Mulai dengan kunjungan-kunjungan sampai pada berlaku pamrih atas hasil kerja selama berkuasa.

Namun, ternyata masyarakat kini sudah mulai cerdas. Akal sudah semakin terasah dan rasanya sudah semakin peka atas segala realita negara yang semakin nestapa.

Jalan tol trans Jawa yang mulus tak cukup bisa merangkul masyarakat untuk bisa berpihak pada petahana. Apalagi pembangunan tol trans Jawa yang banyak menghabiskan anggaran. Dari total panjang ruas jalan tol, lahan yang harus dibebaskan seluas 4.145,15 hektar dengan dana pembebasannya Rp17,27 triliun (kompasproperti/27/08/2017).

Sementara, setiap yang melintas melalui jalan tol tersebut, setiap pengendara roda 4 harus mau merogoh kocek yang tak sedikit. Masyarakat sebenarnya butuh akses kemudahan, juga kemurahan kebijakan penguasa agar tak dihadapkan pada biaya dan biaya.

Belum lagi, akan ada berapa warung makanan yang tak lagi disinggahi di jalur Utara dan Selatan karena pengendara roda 4 lebih memilih untuk menggunakan fasilitas tol Trans Jawa yang dianggap lebih relatif dekat dalam menempuh jarak.

Jalan tol kini dihadapkan dengan jalan pikiran. Di mana calon penguasa yang akan datang harus mampu menyelesaikan segala problematik yang terjadi di negeri loh jinawi ini. Bukan sekadar pengadaan akses jalan yang dilengkapi, tetapi bisa lebih diefektifkan untuk memuluskan jalan-jalan desa atau daerah pedalaman yang masih belum beraspal. Atau bahkan untuk membenahi jembatan yang putus akibat terjangan banjir dan ini luput dari perhatian pemimpin negeri ini.

BACA JUGA!

Mengapa Kita Pilih Prabowo

Untuk saudara-saudara kami yang masih belum memastikan pilihan presiden, bapak-ibu sekalian, para guru dan kiai …