Jam Tiga Pagi Ditangkap Polisi, Mustofa Baru Pulang Ceramah Itikaf

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Pegiat media sosial sekaligus Koordinator Relawan IT Prabowo-Sandi, Mustofa Nahrawardaya ditangkap polisi di rumahnya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Ahad dini hari 26 Mei 2019 sekira pukul 03.00 WIB.

Penangkapan aktivis Muhammadiyah itu dibenarkan Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri Kombes Pol Rickynaldo Chairul. Menurut Chairul, penangkapan Mustofa terkait cuitan Mustofa di akun twitternya.

Chairul mengklaim, penangkapan itu dilakukan untuk memudahkan pemeriksaan. “Bener banget. Cuitannya buat onar. Lagi pemeriksaan yah (mustofa diperiksa),” tuduh Chairul seperti dilansir ANTARA, Ahad 26 Mei 2019.

Baru Pulang Ceramah

Sementara itu istri Mustofa Cathy Ahadianti mengatakan, suaminya yang merupakan Anggota Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pengurus Pusat Muhammadiyah itu ditangkap polisi di rumahnya, usai pulang menyampaikan ceramah Itikaf di Masjid di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Mustofa sampai di rumahnya di kawasan Pasar Minggu, Jaksel, sekira jam dua dini hari. Lalu ia beristirahat sebentar. Rencananya, ia bersama sang istri akan bangun sahur sekitar pukul empat pagi.

“Jam dua pagi, Bapak baru istirahat sebentar, kebetulan Bapak masih agak sakit. Rencananya mau bangun sahur jam empat, tapi jam tiga pagi bel rumah kami, dibel terus. Ternyata ada Pak RT sudah bersama polisi,” ungkap istri Mustofa Cathy Ahadianti seperti dilansir Rmol.co, Ahad 26 Mei 2019.

Cathy bercerita, polisi yang datang ke rumahnya sangat banyak padahal hanya untuk menangkap seorang Mustofa. Koordinator Relawan IT Prabowo-Sandi itupun kemudian dibawa tanpa perlawanan.

“Karena Bapak kooperatif jadi nggak diborgol. Mereka bawa surat lengkap, ada surat penangkapannya juga. Ini saya bawa kopi-nya,” jelas Cathy.

Dalam surat itu hanya dijelaskan Mustofa yang juga politisi PAN itu disangkakan pasal pemberitaan bohong di media Twitter pada 24 Mei di Jakarta Selatan. Cathy mengaku tidak tahu detail ihwal penangkapan Mustofa.

“Saya kurang tahu. Di surat tidak tercantum apa-apa. Tapi saya sempat mendampingi Bapak di sana, infonya terkait 22 Mei,” pungkas Cathy

Terkait penangkapan Mustofa ini, BPN Prabowo-Sandi menilai penangkapan itu mencederai kebebasan berpendapat di Indonesia.

“Miris rasanya melihat kejadian kejadian belakangan ini, di saat rakyat akhirnya menjadi takut untuk berpendapat di negara demokrasi ini,” ujar Wakil Direktur IT BPN Prabowo-Sandiaga, Vasco Ruseimy, kepada wartawan, Ahad (26/5/2019).

Disebutkan, Mustofa dilaporkan seseorang terkait unggahan di akun twitternya tentang Harun, seorang remaja yang tewas dalam kerusuhan 21-22 Mei di Jakarta. Laporan itu tertulis dalam LP/B/0507/V/2019/Bareskrim tanggal 25 Mei.

Dalam surat penangkapan Nomor: SP Kap/61/V/2019/Dittipidsiber yang beredar di media sosial, status Mustofa sudah dinyatakan sebagai tersangka. Polisi diperintahkan untukmenangkap sekaligus melakukan penggeledahan.

Mustofa ditangkap terkait dirinya sebagai pemilik/pengguna/pengakses/pengelola akun Twitter @AkunTofa dan @TofaLemonTofa.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu disangka melanggar pasal 45 ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE atau Pasal 14 ayat (1) dan (2) atau Pasal (15) UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana yang diketahui terjadi pada 24 Mei 2019 di Jakarta Selatan.

Cuitan Mustofa yang diklaim polisi telah membuat onar itu adalah sebagai berikut: “Innalillahi-wainnailaihi-raajiun. Saya dikabari, anak bernama Harun (15) warga Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang disiksa oknum di Komplek Masjid Al-Huda ini, Syahid hari ini. Semoga almarhum ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi Allah SWT, Amiiiiin YRA,” tulis Mustofa dalam akun twitternya.

Pantauan Pikiranumat.com, hingga Ahad siang 26 Mei 2019, cuitan itu telah diretweet 1618 kali, dan 4908 like. [Asyakira/dbs]

BACA JUGA!

Mantan Danjen Kopassus Ditahan dengan Tuduhan Makar, Eks Kepala BAIS: Kok Tega-teganya

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI Letjen TNI (Purn) Yayat Sudrajat …