Sampul buku "Ayat-ayat yang Disembelih" karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon.

Jeritan Para Korban Kekejaman PKI dari Tanah Santri

Gedung Balai Kartini yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, siang di awal Juni 2016 itu, cukup tegang. Suasana keharuan begitu terasa ketika sosok perempuan berusia 87 tahun yang duduk di atas kursi rodanya, berbicara dengan terbata-bata. Di hadapan sekitar empat ratus pasang mata yang hadir di ruangan itu, Asiah, mengisahkan bagaimana ayahnya, Kyai Dimyati, dibunuh dengan kejam oleh kawanan PKI, kaki tangan Muso, pada September 1948.

Ia berbicara dengan Bahasa Jawa, yang kemudian diterjemahkan oleh anak lelakinya, Sobri. Asiah menceritakan dengan detil bagaimana ayah angkatnya, KH Dimyati, saat ditipu dan kemudian ditangkap oleh sekelompok orang yang membunuhnya dengan tragis. Sebelum dibunuh, Kyai Dimyati di bawah ke rumah Lurah Mulyatin, yang ternyata orang PKI.

Tak cukup sampai di situ, rumah Kyai ini juga dibakar oleh PKI. Saat kejadian itu, Asiah berumur 16 tahun. Ia sudah cukup dewasa untuk mengetahui peristiwa sejarah yang tak pernah ia lupakan sampai hari ini.

Asiah, hanya salah satu dari enam saksi dan korban kekejaman PKI pada tahun 1948 dan 1965 yang dihadirkan di acara Simposium Nasional bertajuk “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan Partai Komunis Indonesia dan Ideologi Lain”. Mereka bersaksi pada hari ke dua dari perhelatan yang berlangsung pada Rabu dan Kamis, 1-2 Juni 2016.

Hadirnya enam orang saksi itu berkat penelusuran dua orang penulis muda, Anab Afifi dan Thowaf Zuharon, yang hari itu sekaligus memandu kesaksian mereka. Kesaksian enam saksi mata dan korban ini, mewakili 35 saksi yang telah mereka wawancarai dan kemudian mereka tulis dalam sebuah buku Ayat-ayat yang Disembelih: Sejarah Banjir Darah para Kyai, Santri, dan Penjaga NKIR oleh Aksi-aksi PKI.

Berkat penerbitan buku tersebut pada November 2015 lalu, dan telah tersebar di berbagai penjuru Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia yang telah membaca buku tersebut, menginginkan kehadiran para korban kekejaman PKI dalam Simposium Balai Kartini.

Buku ini cukup mengehentak dan mengejutkan banyak pihak. Sebab, saat ini sangat jarang buku yang menulis seputar aksi-aksi PKI secara gamblang detil-detil kejadiannya. Sebuah buku yang mengangkat fakta sejarah kekejaman PKI dalam rentang waktu sangat panjang, 1926 – 1968. Membentang dari ujung Pulau Sumatera hingga Pulau Bali. Disajikan dengan gaya bercerita (story telling) sehingga tidak membosankan.

Kekuatan buku ini terletak pada penggambaran situasi detil secara naratif pada masa kejadian yang tidak hanya bersumber dari referensi teks. Tetapi juga disertai wawancara penulis dengan 35 saksi-saksi hidup yang terdiri dari korban, kerabat, dan keluarga korban keganasan PKI di Jakarta, Solo, Ngawi, Madiun, Magetan, Ponorogo, Kediri, Blitar, dan Surabaya.

Disajikan dengan gaya narasi yang renyah dan indah, menjadikan buku ini sangat hidup dan tidak membosankan. Hal ini diakui oleh wartawan senior Dahlan Iskan yang dikenal sangat piawai menulis feature. “Gaya tulisannya bagus sekali. Prolog dengan menjadikan Felicia Gunawawan sebagai tokoh, sangat kreatif”, demikian komentar Dahlan.

Memang, buku ini dibuka dengan sebuah tulisan prolog bergaya surat yang ditunjukan kepada seorang gadis bernama Felicia Gunawan. Tokoh muda keturunan Tionghoa yang menjadi pasukan pengibar bendera merah putih pada 17 Agustus 2015. Prolog itu berjudul: Merah Putih itu Nyaris Berganti Palu Arit.

“Secara keseluruhan penulisannya bagus sekali”, puji Dahlan untuk kedua kalinya atas buku yang juga dikenal dengan sebutan AAYD ini.

Buku ini berisi 45 tulisan yang urutannya disesuaikan dengan kronologi sejarah aksi-aksi PKI sejak tahun 1926 hingga 1968. “Meskipun buku ini kami kemas dalam gaya narasi, tetapi memiliki benang merah kronologis sejarah yang runtut. Fakta dan sejarahnya dapat dipertanggungjawabkan”, demikian diungkapkan Anab, sang penulisnya.

Anab juga menjelaskan bahwa sejak pertama diluncurkan pada 10 November 2015, buku ini diedarkan secara independen dan tidak mengandalkan toko buku. Anab yang juga sekaligus membiayai riset, penulisan, sampai penerbitan buku ini, mendistribusikan buku secara jejaring atau direct marketing.

Selain itu, Anab yang juga praktisi komunikasi ini, mengandalkan penjualan secara online dan media sosial. Satu-satu nya toko buku yang mendistribusikan buku ini adalah http://aksikejipki.com yang didukung akun twitter dan Facebook.

Nyatanya, buku ini cukup mendapat sambutan hangat. Hingga tulisan ini diturunkan, buku AAYD telah cetak ulang untuk ke tiga kalinya. Walau ditulis dalam waktu yang cukup singkat, yaitu September-Oktober 2015, buku ini tidak lahir tiba-tiba. Anab yang kelahiran Madiun dan sempat bersekolah di Madrasah Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM) Takeran pada tahun 1975-1976 ini, sudah merencanakan penulisan kisah kekejaman PKI terhadap para Kyai itu sejak lama.

Bahkan, Anab mengaku pernah mondok beberapa hari di surau di komplek PSM Takeran, tempat di mana dulu Kyai Imam Mursyid Muttaqin berada. Dan di surau itulah, pemimpin PSM itu pada hari Jumat, 17 September 1948, diculik oleh PKI. “Sejak kecil, saya dan juga orang-orang Madiun, sudah sangat lekat dengan kisah kekejaman PKI di tahun 1948. Sampai saat ini, kisah itu seolah hanya menjadi peristiwa lokal yang kurang diketahui masyarakat luas”, ujar Anab.

Meski demikian, papar Anab pula, Ia berusaha menceritakan peristiwa demi peristiwa secara utuh yang menggambarkan sejarah kekejaman PKI sejak 1926 sampai 1965. Hal itu, bisa dibaca secara lengkap buku setebal 255 halaman ini.

Memang dalam buku ini, pembaca akan dibuat terkejut. Dimulai dari gerakan pemberontakan pada tahun 1926 oleh para tokoh PKI, Alimin, Muso, dan kawan-kawannya. Peristiwa itu sejatinya hanya menjadikan rakyat sebagai korban. Mereka tidak tahu atau paham apa itu komunis. Tapi, mereka berhasil ‘dikomuniskan’ dan menjadi korban.

Hanya berselang beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, para aktivis PKI berjuluk Ubel-ubel sudah memakan korban keganasan pertama di Mauk, Tangerang, dengan memenggal kepala seorang pejabat negara RI definitif bernama Otto Iskandar Dinata. Kejadian ini, terkait dengan keberadaan tokoh PKI Tan Malaka, yang saat itu yang berada di Banten.

Tak lama berselang, terjadi pembantaian di tiga daerah yaitu Tegal, Brebes, dan Pekalongan, yang dipimpin oleh tokoh PKI bernama Kutil. Dua kejadian tersebut mengawali narasi dalam buku ini. Selanjutnya, dapat kita lihat beberapa judul dalam buku ini yang cukup menghentak dan mengaduk-aduk emosi.

Diantaranya: Dua Hati Mengikat Janji, Kepala Kekasih Tersembelih; Kyai Soelaiman Tetap Berdzikir Meski Dikubur Hidup-hidup; Banjir Darah di Loji Rejosari Setinggi Mata Kaki; Wangi Pucuk Kenanga itu Tak Kan Hapuskan Bau Anyir Darah Para Kyai Kami; Muso, Kau Buang Ke mana Kyai Kami?; Rindu Ingin Pulang, Ayah Malah Diseret ke Hutan dan Dijatuhkan Jurang; Tiga Warga Desa Disate, Dipancang dan Dijadikan Orang-orangan Sawah; Kepala Ditindih Batu, Dibunuh Usai Mengimami Salat Subuh; PKI Bilang,” Gusti Allah Kawin, Mantu, Bingung, dan Mati’;Tanpa Busana Gerwani Serang Tentara; Racun Gerwani Habisi Para Santri; Usai Salat Tarawih, Ayah Dihabisi PKI.

Setelah membaca buku AAYD, ahli sejarah Ahmad Mansur Suryanegara menyatakan dengan jujur bahwa belum ada buku sejarah yang ditulis seperti ini. “Ini dalah buku terlengkap yang mengungkap kekejaman PKI sejak 1945 hingga 1968. Buku ini luar biasa”, ujarnya.

Sementara itu, sastrawan dan budayawan senior Taufiq Ismail menyampaikan kesannya setelah membaca buku ini. “Dua kali membaca buku ini, saya menangis”, paparnya dalam sebuah ceramah dihadapan sekitar 200 aktivis pemuda dan ormas saat acara silaturahim dengan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, awal Mei silam.

Jika buku ini dibuka dengan prolog yang terasa demikian emosional, tapi dalam epilognya justru bernada sebaliknya yang berjudul: Belajar Dari Keluarga Mbah Saryo Saat Lebaran.

“Dalam prolog itu, kami ingin mengajak membangun kesadaran untuk membuka lembaran baru. Bahwa sejarah tak bisa dilupakan. Namun, kami-kami ini sebagai keluarga korban sebetulnya telah memaafkan mereka. Maka, jangan justru malah kami disuruh meminta maaf atas apa telah lebih dulu mereka lakukan dengan kejam dan mengerikan jauh sebelum peristwa 1965 itu”, ujar Anab.

[Redaksi Tabloid Suara Islam]

BACA JUGA!

Mantan Danjen Kopassus Ditahan dengan Tuduhan Makar, Eks Kepala BAIS: Kok Tega-teganya

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI Letjen TNI (Purn) Yayat Sudrajat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *