Jeritan Pilu Kaum Guru

Jeritan para guru honorer di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia kembali terdengar mengkhawatirkan, mereka melakukan aksi demo dan mogok ngajar. Aksi mereka pun berlanjut hingga ke depan istana negara. Pada selasa pagi (20/10/2018), sekitar 150 ribu massa guru honorer dari berbagai daerah di Indonesia melakukan aksi di depan istana negara. Namun, hingga petang, tidak ada perwakilan massa aksi yang ditemui oleh presiden maupun perwakilannya. Sehingga mereka terpaksa bermalam di depan istana negara. Hingga esok harinya aksi masih berlanjut, namun hasilnya tetap nihil. Padahal aksi mereka ini dalam rangka menuntut janji presiden saat kampanye pilpres 2014 yang akan mengangkat guru honorer menjadi PNS (Tribunnews.com, 31/10/18).

Gaji guru honorer sangat berbeda jauh dengan PNS. Padahal mereka memiliki tugas yang sama sebagai tenaga pengajar, hanya saja status yang membedakan mereka. Dalam detikfinance, gaji guru honorer berkisar di bawah satu juta. Inilah fakta miris di negeri ini, dimana guru sebagai pendidik moral anak bangsa mendapat gaji yang begitu minim dibandingkan dengan profesi lainnya.

Jika ketidakjelasan nasib guru honorer ini tidak diakhiri, maka praktik percaloan dengan iming-iming jalan pintas menjadi pegawai negeri akan terus marak. Begitu pula bila kesejahteraan nasib guru terus diabaikan dan tidak mendapatkan perhatian serius dari sistem saat ini, masa depan para guru penuh dengan ketidakpastian. Dampaknya, mereka pun tak bisa bekerja dengan sepenuh hati. Mereka juga tak akan kuasa mencurahkan waktu, perhatian, dan ikhtiar total untuk keberhasilan pendidikan siswa-siswanya. Ini tentu merupakan kerugian besar untuk kita semua.

Di dalam Sistem Islam, guru memiliki peran dan kedudukan yang penting dan mulia, karena ia sebagai perantara ilmu yang tak bertugas hanya mencerdaskan murid secara akademik saja, tapi juga membangun sisi spiritualnya untuk membentuk kepribadian Islam.

Guru dalam Sistem Islam mendapatkan penghargaan yang begitu tinggi dari negara termasuk pemberian gaji. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dari al-Wadl-iah bin Atha; bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak, dan Khalifah Umar bin Khaththab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63.75 gram emas), bila saat ini harga 1 gram emas Rp570.200, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar Rp36.350.250. Masyaa Allah, hanya dalam sistem pendidikan Islamlah kita bisa mewujudkan kesejahteraan guru dengan baik dan sempurna. Wallahu a’lam

Ajeng Pangestu, tinggal di Lembang

BACA JUGA!

Bukan Sekadar Nostalgia, Reuni 212 Momentum Bangkitnya Kesadaran Politik

Mendengar kata reuni, apa yang terbesit dalam pikiran kita?. Terkait