Ilustrasi: Muslimah

Kesetaraan Gender Lemahkan Institusi Keluarga

“Perempuan hari ini lebih sadar tentang hak-hak mereka. Setiap perempuan modern suka melihat hidupnya menjadi bermakna. Jika ada hubungan (pernikahan dalam kasus ini) menjadi penghalang jalan dalam mencapai impian hidupnya, dia mungkin memilih untuk membebaskan diri.” (Farida Akhtar, Psikolog #Bangladesh Terkenal)

Setiap tanggal 8 Maret diperingati sebagai hari Perempuan Internasional atau International Woman’s day. Sejarah Hari Perempuan Sedunia ini bermula dari aksi unjuk rasa pada 8 Maret 1909 dan dirintis oleh kaum sosialis di Amerika Serikat. Hingga akhirnya, tanggal 8 Maret 1975. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai memperingatinya walaupun belum ditetapkan secara resmi.

Peresmian tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia terjadi dua tahun kemudian, tanggal 8 Maret 1977, dan terus diperingati hingga saat ini. Ide kesetaraan gender menjadi asas peringatannya. Maka para pengusung feminisme dengan ide-ide liberalnya menyambut baik dan ikut meramaikan.

Presiden Interim Bank Dunia Kristalina Georgieva mengatakan, kesetaraan gender merupakan komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi. Dalam laporan itu, dia mengatakan bahwa perempuan adalah setengah dari populasi dunia dan berperan untuk menciptakan dunia yang lebih makmur. Maka dengan dalih kehidupan yang lebih baik, perempuan didorong ke luar rumah.

Sejalan dengan hal tersebut, perempuan pengusung ide gender merasa hak mereka dikekang oleh pernikahan. Demi untuk kesejahteraan, mereka mengejar kesetaraan, agar bisa berkiprah di area publik. Tak dapat dihindari, hal ini yang memicu terjadinya perceraian. Kehidupan yang sempit, akses untuk kebutuhan dasar sulit dijangkau. Maka akhirnya terurailah mitsaqon gholizho.

Sebagaimana yang terjadi di Cirebon baru-baru ini. Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Kelas 1B Cirebon, Moch Suyana mengungkapkan, selama 2018 tercatat ada 1.066 perkara yang masuk. Dari jumlah tersebut, 983 perkara di antaranya terkait gugatan perceraian. Itu berarti, jika di rata-rata dalam satu bulan, ada sekitar 82 pasangan suami istri di Kota Cirebon yang bercerai.

Dengan kata lain, setiap bulan ada 28 janda dan duda baru.“Ada 601 kasus merupakan gugatan cerai dan 382 lainnya merupakan gugatan talak. Berdasarkan data tahun 2018, mulai dari Januari sampai dengan Desember tercatat ada 983 perkara terkait perceraian, baik cerai gugat maupun cerai talak. Artinya, ada kenaikan dari tahun sebelumnya yang hanya 858 perkara,” jelas Suyana.

Diungkapkan Suyana, beberapa faktor yang menjadi biang tingginya angka perceraian itu. Didominasi oleh alasan ekonomi, yakni sebanyak 214 perkara, perselisihan yang terus menerus 121 perkara, ditinggalkan pasangan 92 perkara, mabuk 83 perkara dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) 70 perkara (Radarcirebon.com 10/2/2019).

Sebelumnya, Menteri Agama Lukmanul Hakim Saifuddin juga pernah mengatakan bahwa inisiatif perceraian tersebut juga banyak yang datang dari kaum perempuan. Menurut dia, hal ini menunjukkan bahwa kaum perempuan sudah tidak terlalu tergantung kepada kaum laki-laki secara ekonomi. Kesetaraan membuat perempuan meninggalkan tugas utama mereka sebagai ummu wa robbatul baiyt.

BACA JUGA!

Kamu Suka Fotografi?, Begini Hukumnya menurut Islam

Gambar yang diambil dengan sinar matahari – sekarang dikenal dengan istilah fotografi – merupakan hal …