ilustrasi: Bendera PAN

Ketika Para Eyang Kehabisan Akal Sehat

Sungguh, saya sama sekali tidak terkejut. Saya justru tertawa sambil (maaf, berpikir lain). Kok, tiba-tiba quinted yang mengaku sebagai pendiri PAN membuat surat seperti itu?

Bagi saya ini benar-benar lucu. Mengapa? Sejak 2002 hingga 2018, saya tak sekali pun bertemu dengan keempat orang itu. Ya, hanya Abdillah Toha saja yang sempat saya lihat, meski demikian, kontribusi apa pun untuk PAN, maaf, tidak pernah terlihat.

Bahkan sekedar nasehat pun, tidak pernah tersirat. Kalau GM, tetap membayar iuran partai hingga 2014, itu pun tidak membuat dia berhak menuding Pak Amien demikian.

Kalau salah satu alasannya Pak Amien (memilih Prabowo) ingin mengembalikan kekuasaan orde baru, saya jadi bertanya, kok sempit sekali wawasan wartawan sebesar GM? Coba deh selami baik-baik, apakah Pak Ciputra orang yang memodalinya bukan bagian dari orde baru? Atau, sepahit apa sih orde baru menindasnya?

Rasanya ada, tapi tidak seperti sekarang. GM tetap bisa eksis, bisa kaya karena majalah yang dipimpinnya (meski pernah dibredel) tetap bisa terbit lagi dan malah tambah eksis. Tetap terjaga kehormatannya dan tetap dapat iklan. Lalu, apa pahitnya buat GM?

Selain itu, kalau quinted ini melarang Pak Amien mendukung Prabowo, seperti kata mas Drajat, yang otoriter itu siapa? Pak Amien atau para tokoh itu? Di samping itu, kelima orang ini meski tidak terdaftar sebagai timsesnya, tapi jelas ada di barisan toko sebelah.

Kata beberapa teman wartawan senior, maaf, mereka itu cebong juga. Jadi, mereka lupa tidak bisa bersembunyi seperti di zaman orde baru.

BACA JUGA!

Mahasiswa, Papua dan Perang Asimetris di Indonesia

Tanggal 23 September 2019, di Indonesia telah terjadi dua demonstrasi. Pada satu sisi adalah aksi …