ilustrasi: Bendera PAN

Ketika Para Eyang Kehabisan Akal Sehat

Yuk kita lihat para personil toko sebelah. Saya sengaja tidak menyebut satu per satu, tapi mayoritas mereka adalah tokoh-tokoh yang tak lepas dari orde baru.

Mereka secara kasat mata juga sempat menikmati orde baru. Bisa kaya, bisa terkenal, bisa memiliki banyak media cetak dan elektronik, bisa jadi tokoh, ya karena orde baru. Lalu, mengapa sekarang quinted ini menuding Pak Amien sekeji itu?

Saya jadi teringat pada obrolan para alumnus SMA yang Sabtu (22/12) mendeklarasikan dukungan untuk Prabowo-Sandi, toko sebelah panik. Orang panik, pasti melakukan apa saja. Ibarat orang yang akan tenggelam, apa saja ditarik untuk dijadikan pegangan.

Kepada khusususnya Bang Albert dan GM, kita sana-sama wartawan meski mungkin para senior ini lebih hebat dari saya. Apa jawaban abang-abang ketika ditanya: “Kok ada belasan juta umat berkumpul (reuni Akbar 212), tidak terjadi apa pun, tidak diberitakan media-media mainstream?”

Lalu, ada petani di Jawa Timur diberi traktor, lalu begitu tokoh yang memberinya pulang, traktor-traktornya ditarik kembali? Begitu juga, ketika korban gempa di Lombok ingin mencairkan dana bantuan yang tertera di buku tabungan, ternyata tidak bisa dicairkan karena dananya tidak siap?

Dan, apa komentar abang-abang wartawan besar itu, melihat presiden malah asyik berpose di pinggir laut sementara rakyat yang menderita terkena dampak tsunami Selat Sunda justru ditemui oleh Gubernur DKI, Anies Baswedan?

Sudahlah, jika kalian ada di sebelah, tak usah mencampuri rumah tangga orang. Hitunglah dengan baik dan buatlah isue yang lebih menarik serta masuk akal. Atau, hmmmm …. jangan-jangan Eyang kakung dan eyang putri memang kehabisan akal ya? Hehehe mohon maaf lho eyang.

M. Nigara
Wartawan Senior, Mantan Wasekjen PWI

BACA JUGA!

Mahasiswa, Papua dan Perang Asimetris di Indonesia

Tanggal 23 September 2019, di Indonesia telah terjadi dua demonstrasi. Pada satu sisi adalah aksi …