Jembatan Kuning Kota Palu hancur.

Ketika Pariwisata Mengundang Malapetaka

Belum reda duka derita saudara kita di Lombok beberapa bulan lalu akibat gempa bumi kini bencana kembali menimpa saudara kita di Palu dan Donggala. Begitu banyak korban jiwa berjatuhan, bangunan dan pemukiman penduduk yang luluh lantak akibat goncangan gempa yang sangat dahsyat. Banyak terungkap kisah pilu serta mengerikan ketika bencana itu terjadi. Ketakutan, teriakan dan tangisan histeris telah mereka alami. Dua peristiwa besar ini sudah semestinya menjadi bahan renungan kita bersama, benarkah ini semata-mata hanya bencana alam biasa? Atau mungkinkah ini teguran dari Sang Khaliq atas kemaksiatan dan akibat yang ditimbulkan dari ulah tangan-tangan manusia?.
Pariwisata Dan Kemaksiatan

Allah SWT sudah sangat dengan terang memperingatkan manusia akan hal ini. Ketika perzinahan dan riba menjadi hal yang biasa maka Rasululloh saw telah menyatakan bahwa Allah akan menimpakan azab yang pedih tak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Azab di dunia adalah teguran Allah melalui alam berupa guncangan dan bencana yang tentunya tidak hanya menimpa para pelaku kemaksiatan saja tapi kemudian termasuk orang-orang yang beriman di dalamnya sebagaimana kita saksikan bencana yang menimpa Lombok, Palu dan Donggala. Belakangan terungkap bahwa ternyata begitu banyak kemaksiatan yang dilakukan manusia berupa perilaku seks bebas, membuka aurat sebebas-bebasnya, berpesta miras dan berbagai perhelatan ritual penuh kesyirikan.

Memang sangat ironis, hal tersebut diadakan demi terpenuhinya kenikmatan berpariwisata. Atas nama pariwisata dan demi meraup untung dari para wisatawan baik lokal maupun mancanegara perkara-perkara kemaksiatan seolah menjadi sah untuk dilakukan. Mirisnya justru kemaksiatan tersebut difasilitasi pemerintah setempat. Dalih demi menambah pemasukan devisa negara maupun demi peningkatan perekonomian daerah kemudian dimunculkan untuk membenarkan kemaksiatan. Rusaknya kehidupan sosial masyarakat seperti maraknya LGBT, eksploitasi seks anak pun terjadi karena pembiaran masuknya budaya asing yang merusak yang secara tidak langsung ditularkan para wisatawan terutama wisatawan mancanegara. Gaya hidup sekuler dan serba bebas yang turut mereka bawa ke negeri ini telah menular dan mendarah daging terhadap masyarakat lokal. Hukum agama tak lagi dijadikan landasan berpikir dan berbuat apalagi diterapkan sebagai kebijakan. Klaim untuk menghormati dan melayani tamu dengan baik pun seolah menjadi justifikasi diperbolehkannya para wisman menikmati makanan dan minuman haram serta berbuat sesuka hati mereka demi kepuasan berwisata. Inikah hasil yang diharapkan dari peningkatan perekonomian rakyat dalam pengembangan pariwisata?. Bukankah justru ini adalah perkara yang diciptakan yang akan mengundang malapetaka. Jika saja masih ada sedikit iman dihati tentunya kita tidak akan dengan sukarela hidup dalam kubangan lumpur kemaksiatan dan berakhir dengan kehinaan.

Pariwisata dalam Islam

Sebuah paradigma keliru jika pariwisata dianggap sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi demi kesenangan jiwa. Hal apapun yang mampu menyenangkan dan memuaskan hati meski sebenarnya hal itu terlarang secara syariat malah tetap dilakukan. Padahal di dalam Islam pariwisata hanyalah sebagai wasilah untuk lebih mentadaburi kebesaran Allah SWT atas segala keindahan ciptaan-Nya disamping sebagai sarana dakwah untuk lebih mengenalkan kebudayaan dan peradaban Islam yang dengannya akan mendorong umat lain di kalangan umat Islam tertarik terhadap Islam, mempelajarinya bahkan mengantarkan kepada hidayah untuk masuk ke dalam Islam. Artinya tidak satupun fasilitas yang mengantarkan kepada kemaksiatan akan disediakan bagi para wisatawan. Bahkan dengan syariat yang diterapkan oleh negara maka seorang kepala negara akan membuat regulasi bagi para wisatawan yang akan mencegah terjadinya peluang kemaksiatan di tempat-tempat wisata. Para wisatawan asing diluar kalangan umat Islam justru harus tunduk, taat dan menghormati akan ketentuan negara. Contoh kecil kebijakan negara terhadap bidang pariwisata seperti: tidak akan pernah dibenarkan bagi para wisatawan untuk membuka aurat dengan bebas, tidak membiarkan wisatawan bebas menenggak miras bahkan menghapuskannya, mencegah terjadinya campur baur (ikhtilat) antara pria dan wanita yang bukan mahrom yang akan menghantarkan kepada terjadinya seks bebas.

Dari beberapa bencana yang terus berkelanjutan menimpa negeri ini sudah semestinya kita belajar dari kesalahan besar karena tiada menghiraukan peringatan Allah SWT. Sudah saatnya kita mengembalikan kehidupan kita kepada kehidupan yang penuh dengan kebaikan. Kebaikan yang hanya akan diciptakan oleh sistem kehidupan dari Yang Maha Baik, Allah SWT. Dengan syariat-Nya yang diterapkan atas umat dalam seluruh aspek kehidupan hal itulah yang akan menyelamatkan umat ini di dunia dan akhirat. Kematian adalah hal yang pasti, ada ataupun tidak ada bencana. Namun kehidupan seperti apakah yang kita kehendaki segala kematian itu. Tentunya kita menginginkan kehidupan penuh kenikmatan melebihi kenikmatan duniawi yang hanya diperoleh dengan berwisata saja tapi yang kita harapkan dan kita cita-citakan adalah kehidupan abadi bernama surga.

Kartika Linggawati, S.Pd
(Sekretaris Komunitas Ibu Pecinta Ilmu Kota Tasikmalaya)

BACA JUGA!

Pertemuan IMF-WB di Bali, Heroisme yang Antiklimaks

“Jokowi Sebut Asia-Afrika Tak Butuh Bank Dunia dan IMF” demikian judul yang dibuat Tempo.co, pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *