Khilafah Kebutuhan Mendesak Dunia

Sejak Daulah Islam pertama di Madinah, hingga Daulah Khilafah Utsmaniah yang terakhir, kaum Muslimin senantiasa hidup dalam naungan sistem Islam. Sepanjang 14 abad lamanya, aturan Islam diterapkan secara kaffah di tengah kaum Muslimin. Pada masa itulah Islam mencapai puncak kejayaannya. Hingga keruntuhan Daulah Khilafah Utsmaniah yang merupakan Daulah Khilafah yang terakhir pada 3 Maret 1924.

Sejak saat itu tidak banyak kaum Muslimin yang mengetahui. Bahwa mereka pernah memiliki institusi politik Islam yang agung dan mumpuni yaitu Khilafah. Selain bahwa semua kebesaran Khilafah hanyalah romantisme sejarah. Padahal telah 95 tahun lamanya, kaum Muslimin hidup tanpa naungan Khilafah.

Tidak sedikit pula yang tak paham bahwa keruntuhan Khilafah bukanlah kejadian “alami”. Tetapi sebuah peristiwa yang memang sudah direkayasa oleh musuh-musuh Islam beberapa puluh tahun sebelumnya. Dengan berbagai intrik politik dan konspirasi negara-negara Barat, khususnya Inggris. Di samping keterlibatan beberapa kalangan dalam tubuh daulah yang menjadi pengkhianat, terutama Mustafa Kemal Attartuk. (Malapetaka Runtuhnya Khilafah, Abdul Qadim Zalim, Al-Azhar Press, 2017).

Masuknya pemikiran dan budaya Barat telah berhasil meruntuhkan bangunan Islam. Di satu sisi nasionalisme semu ala Barat telah membuat Daulah Khilafah Utsmaniah terpecah belah menjadi 50 negara bangsa. Alhasil hingga hari ini kaum Muslimin menjadi tercerai berai. Tak lagi ada institusi Khilafah yang menaunginya. Menjadikan kaum Muslimin buruan penjajah Barat.

95 tahun tanpa Khilafah, kaum Muslimin ibarat ayam kehilangan induknya. Kaum Muslimin dan Islam menjadi goyah dan goyang. Tiada lagi perisai yang mengayomi dan melindunginya. Diterapkannya sekularisme kapitalisme di tengah kaum Muslimin semakin menambah derita umat.

Runtuhnya Khilafah mengakibatkan malapetaka di berbagai bidang kehidupan. Menimbulkan problematika tak berujung bagi umat. Di sisi lain penerapan sistem sekularisme telah berhasil menjauhkan kaum Muslimin dari ajaran Islam yang mulia. Menempatkan kaum Muslimin kembali pada masa kemundurannya. Sekaligus menimbulkan berbagai macam masalah sosial dan masyarakat yang kian pelik.

Sistem kapitalisme yang rakus juga telah membuat dunia diambang kemusnahan. Sebab kekayaan dan sumber daya alam hanya dikuasai segelintir orang. Ketimpangan ekonomi begitu nyata terasa akibat distribusi kekayaan yang tidak merata. Kapitalisme telah berhasil membuat Si Kaya semakin kaya. Sedangkan Si Miskin semakin miris dalam kemiskinannya.

Buasnya syahwat kapitalis penjajah juga telah membawa Palestina, Suriah, Rohingya dan Uighur ke dalam neraka dunia. Setiap hari ribuan kaum Muslimin menjadi syuhada. Menjadi martil demi mempertahankan agama, harta, keluarga, kehormatan dan tanah mereka. Gaza terus bergejolak. Suriah dilanda kelaparan. Sementara jutaan Muslim Uighur menghadapi siksaan tak terkira dari Komunis China.

BACA JUGA!

FPI dalam Sorotan, Akankah Ada Keadilan?

20 Juni 2019 adalah tanggal habisnya masa SKT (Surat Keterangan Terdaftar) milik FPI (Front Pembela …