Ilustrasi

Khutbah Idul Fitri 1440 H: Islam Membangun Peradaban Manusia Terbaik, Unggul Dunia Akhirat

الله أكبر لااله الاّ الله و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Kaum muslimin jamaah sholat Iedul Fitri yang dirahmati Allah

Ada tiga unsur karakter dari peradaban manusia terbaik (khairu ummah), yakni pertama, mereka memiliki tradisi Amar ma’ruf, aktif dan otomatis selalu menyuruh perbuatan yang ma’ruf, yakni yang dikenal sebagai perbuatan baik menurut Al Quran dan As Sunnah. Baik yang bersifat wajib maupun yang bersifat sunnah, minimal adalah suatu perbuatan yang boleh dilakukan.

Perbuatan wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan, dipuji pelakunya dan dikecam yang meninggalkannya, bahkan dalam perspektif hukum Allah, pelakunya diberi balasan pahala, sebaliknya yang meninggalkan terkena sanksi dosa yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Dalam pelaksanaan sistem hukum syariah, untuk menjaga ketertiban umum, orang yang tidak melaksanakan kewajiban syariat diberikan sanksi hukum berupa ta’zir, berupa hukum cambuk atau tahanan kurungan. Sehingga disiplin penerapan hukum bisa ditegakkan. Misalnya terhadap muslim yang sengaja tidak berpuasa di siang Ramadhan, yang bersangkutan ditangkap dan diadili sesuai dengan kadar pelangggarannya sejauhmana tidakannya tidak melaksanakan kewajiban yang jelas merupakan rukun Islam itu. Demikian juga orang-orang yang tidak sholat, yang tidak mau pergi haji padahal mampu, juga yang tidak mau membayar zakat. Khalifah Abu Bakar r.a. pernah mengancam orang-orang Arab yang minta dispensasi untuk tidak membayar zakat sepeninggal Baginda Nabi Saw. Kepala Negara pengganti Rasulullah saw. Itu berkata:

وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عِقَالًا أَوْ عِنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا

Kalau sekiranya mereka menolak membayar zakat senilai tali kekang onta yang biasanya mereka bayar kepada Rasulullah Saw., sungguh akan kuperangi mereka atas tindakan pembangkangan itu.” (Lihat Taariikhul Khulafa halaman 60).

Jadi amar ma’ruf adalah perintah untuk berbuat baik sesuai standar syariat Allah dan Rasul-Nya, baik yang wajib maupun yang sunnah. Umat diminta untuk menyibukkan diri dalam perkara yang menghasilkan pahala tersebut, bahkan bila perlu diambil tindakan tegas untuk menghindari kelalaian.

Kedua, umat terbaik memiliki tradisi nahi mungkar. Melarang perbuatan yang mungkat, yakni yang diingkari oleh agama Islam. Yakni perbuatan yang haram atau paling tidak syubhat. Perbuatan haram adalah perbuatan yang pelakunya dicela dan diberi sanksi hukum berupa dosa di akhirat. Dalam perspektif penegakan hukum syariat untuk menjaga ketertiban umum, diberikan ancaman hukuman, berupa hudud, jinayah, ataupun ta’zir dan mukhalafat. Sebagai contoh, orang yang minum khamer diberikan hukuman hudud berupa cambukan 40 atau 80 kali. Pencuri dihukum potong tangan, pembegal jalanan dihukum potong tangan dan kaki saling silang, bahkan disalib hingga mati bila dia membunuh korbannya. Koruptor dihukum ta’zir sesuai tingkat kesalahannya, dari yang paling ringan seperti dipenjara atau dicambuk hingga hukuman mati. Membunuh dihukum qishash atau hukum diyat. Dalam penerapan sanksi ini, hukum hudud, kalau sudah masuk ke pengadilan, maka tidak bisa dimintakan dispensasi. Pernah permintaan dispensasi atas seorang wanita bangsawan Quraisy yang dikenai hukum potong tangan, Rasulullah saw. menolak.

Beliau bersabda: “Kalau saja Fatimah putriku mencuri, pasti kupotong tangannya”. Semua pelarangan dan pencegahan segala bentuk kemungkaran secara disiplin akan menimbulkan ketertiban umum yang luar biasa. Hanya saja Islam tidak hendak berlaku bengis kepada manusia. Pelaksanaan hukum itu bila mana menimbulkan gangguan keteriban umum dan masalahnya diajukan kepada hakim. Nabi Saw, bersabda: “Jika seseorang melakukan pelanggaran hukum dan dia tidak menemukan Imam yang akan memberikan sanksi kepadanya, maka urusannya kembali kepada Allah, mungkin Allah akan menghukumnya di akhirat atau akan memaafkannya.” (Al Hadits).

Ketiga, last but not least, umat terbaik itu beriman kepada Allah. Makna iman kepada Allah adalah iman kepada seluruh yang bersumber dari Allah, beriman kepada Al Quran kitabullah, beriman kepada Nabi Muhammad saw. utusan Allah, dan seluruh risalah Allah, halal dan haramnya Allah, yakni beriman kepada kebenaran seluruh syariat Islam. Karena tidak mungkin orang akan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar kalau tidak beriman kepada syariat Islam. Tidak mungkin orang menyuruh sholat, shaum, haji, baca Al Quran, berbuat baik kepada kedua orang tua, menyuruh mengangkat ulil amri atau pemimpin dari kalangan kaum muslim sendiri kalau tidak beriman kepada syariat Islam yang memerintahkan melakukan itu semua.

Sebaliknya tidak mungkin orang melakukan nahi mungkar, tidak mungkin orang melarang kemaksiatan, tidak mungkin orang melarang orang kafir berkuasa atas kaum muslimin, tidak mungkin orang melarang pria non muslim menikahi anak perempuan atau saudara perempuannya dan lain-lain kalau dia tidak beriman bahwa Islam melarang itu semua. Oleh karena itu, beriman kepada syariat Islam sebagai ajaran Allah SWT adalah yang pertama dan utama bagi umat Islam sebagai umat terbaik.

BACA JUGA!

People Power dan Perubahan Masyarakat

Tanggal 21 – 22 Mei 2019 menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia …