Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon.

Kritik Pertemuan IMF-Bank Dunia, Fadli: Tak Ada Urgensinya

Jakarta (PIKIRANUMAT)-Rencana Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 yang akan berlangsung di Bali awal Oktober nanti terus mendapat sorotan. Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menyebut sejauh ini pemerintah telah gagal menjawab pertanyaan publik atas urgensi Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan event mahal tersebut.

“Pemilihan Indonesia sebagai tuan rumah Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 bukanlah bentuk penghargaan, karena kita mengajukan diri melalui bidding proposal. Masalahnya, apa urgensinya kita mengajukan diri jadi tuan rumah event mahal tersebut? Ini agak berbeda dengan penyelenggaraan Asian Games atau Olimpiade yang jelas manfaatnya,” ungkap Fadli dalam pernyataan tertulisnya, Senin 1 Oktober 2018.

Menurut Fadli, sejauh ini pemerintah hanya bicara tentang dampak terhadap pariwisata Bali dan sekitarnya saat berbicara tentang acara tersebut.

“Menurut saya itu jawaban yang dangkal. Biaya teknis event tersebut menyedot anggaran sekitar Rp.1 triliun, sementara biaya yang harus dikeluarkan negara untuk membangun infrastruktur pendukung mencapai Rp4,9 triliun. Kalau hanya untuk mempromosikan pariwisata Bali, atau Indonesia, itu jelas biaya promosi yang sangat mahal dan tak masuk akal,” kata Fadli.

Fadli menilai, kecuali untuk kepentingan prestise beberapa elite di pemerintahan, pemerintah sebenarnya tak punya target yang jelas atas event yang menyedot anggaran hampir Rp6 triliun tersebut.

“Memang, Menko Kemaritiman menyebut ada potensi investasi sebesar US$2-3 miliar atau sekitar Rp43,5 triliun bisa masuk ke Indonesia melalui pertemuan tersebut. Tapi saya kira proyeksi itu tidak akan efektif. Namanya saja cuma potensi, ujungnya biasanya tak terjadi apa-apa,” ungkap dia.

Menurut Waketum Partai Gerindra itu, sana sebesar itu jauh lebih bermanfaat jika dialihkan untuk rehabilitasi Lombok dan Sumbawa atau hal-hal lain yang baik bagi masyarakat secara langsung.

Fadli mengingatkan, Indonesia pernah punya pengalaman tidak menyenangkan dengan IMF saat penanganan krisis 1997/1998. Dengan pengalaman itu harusnya Indonesia punya sikap yang lebih kritis terhadap lembaga internasional tersebut, bukan sebaliknya. “IMF adalah lembaga yang menyiram bensin di tengah api ketika krisis 1997/1998 di Indonesia,” pungkasnya. [MS]

BACA JUGA!

Klaim sebagai Ketum Bakomubin, Ngabalin Dilaporkan ke Polisi

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Pengurus Pusat Badan Koordinasi Mubaligh Seluruh Indonesia (Bakomubin) melaporkan Tenaga Ahli …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *