Ilustrasi: Petugas Densus 88.

Lagu Lama Berjudul “Terorisme”

Episode terorisme telah kembali merebak, sungguh menyentil perhatian publik rakyat Indonesia. Terlebih lagi isu tersebut dimunculkan menjelang momen natal dan tahun baru, sepertinya isu terorisme tersebut memang selalu ambil peran untuk memeriahkan hiruk-pikuk isu di negeri ini.

Beberapa pekan yang lalu seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia, Tim Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri menangkap terduga teroris sejumlah 21 orang di sejumlah beberapa wilayah di Indonesia. Mereka diduga akan mengadakan persiapan teror pada perayaan natal dan tahun baru.

Menariknya, dalam penangkapan tersebut tidak ada satupun kasus pidana yang mengindikasikan “serangan teroris”, juga tidak ditemukan bahan peledak apapun selama penggeledahan. Hal ini menjadi jelas bahwa pernyataan tentang berita ‘persiapan serangan teroris selama natal dan tahun baru’, semua hanya informasi palsu intelijen, dan ini hal yang biasa terjadi di Indonesia.

Sedikit mundur ke belakang, terorisme sendiri kembali populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001, terjadi peristiwa serangan di gedung World Trade Center (WTC) di Washington DC Amerika Serikat. Meski peristiwa tersebut belum pasti kebenarannya, akan tetapi barat telah sukses menghembuskan Islamophobia di dunia. Islamopobhia sendiri merupakan pemikiran barat yang menyudutkan sekelompok minoritas kaum muslimin yang diopinikan secara negatif, karena kebencian dan ketakutan yang berlebihan tanpa didasarkan pada sumber yang benar tentang Islam.

Media barat memberikan label yang mengerikan bagi muslim. Mereka diberi gelar teroris, Islam garis keras, ekstrimis, radikalis, dan sebangsanya, sebagai upaya pembentukan opini publik yang salah pada dunia. Semua itu dilakukan sebagi bagian dari peperangan yang mereka lakukan untuk menghadang kebangkitan Islam dan menjauhkan umat muslim dari islam yang sebenarnya.

Lebih anehnya lagi ide barat yang memojokkan umat islam ini juga menjangkiti pemikiran negeri-negeri muslim di dunia, termasuk di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Mereka selalu memberikan opini bahwa ciri-ciri khas seorang teroris adalah: yang laki laki berjenggot, berdahi hitam, bercelana cingkrang, dan yang perempuan berjilbab dan berkerudung lebar, bercadar, mempunyai banyak anak. Pekerjaan merekapun disoroti, mulai dari penjual herbal, terapis bekam, dll. Bahkan mereka juga menggunakan al-qur’an dan bendera tauhid sebagai barang bukti perbuatan teroris. Padalah yang disebutkan semua itu adalah ciri-ciri islam yang lurus dan benar.

Namun sayangnya kaum kapitalis ini tidak seterusnya bisa mengelabuhi dunia, isu terorisme yang menciptakan islamophobia tidak seterusnya menimbulkan rasa takut kepada islam, akan tetapi mereka malah penasaran dan berusaha mencari kebenaran tentang islam itu sendiri. Kaum kapitalis pembenci Islam itu hendaknya harus cepat sadar, bahwa rakyat sekarang sudah semakin pintar dan mulai tersadarkan, bahwa isu-isu terorisme tersebut hanyalah produk barat yang sarat dana dan mempunyai tujuan memfitnah Islam.

BACA JUGA!

Mengapa Kita Pilih Prabowo

Untuk saudara-saudara kami yang masih belum memastikan pilihan presiden, bapak-ibu sekalian, para guru dan kiai …