Lucu Juga, Wereng Coklat Buat Survei Elektabilitas Jokowi

Benar-benar edan dan sulit dipercaya. Di satu daerah di Sumatera, Wereng Coklat (WC) melakukan survei elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin (Ko-Ruf). Tetapi, survai yang dilakukan Pak Coklat memang tidak sama seperti yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei semisal LSI Denny JA, SMRC, Indikator Politik, Cyrus, dll.

Mengapa Wereng Coklat melakukan survei dan bagaimana caranya?

Begini cerita yang disampaikan oleh seorang calon anggota legislatif (caleg) DPRD dari partai pendukung petahana. Tentu tidak bisa saya sebutkan nama beliau. Caleg ini sudah sangat saya kenal. Menurut pengakuan beliau, partainya mendukung petahana tetapi untuk urusan pilpres dia mendukung Prabowo-Sandi.

Suatu hari, belum lama ini, kepala WC di kabupaten itu mengumpulkan sejumlah kepala desa. Mereka disuruh membagi-bagikan dana PKH (Program Keluarga Harapan). Beberapa hari setelah dibagikan, Pak Coklat ingin memastikan siapa pilihan warga di desa-desa yang banyak menerima uang PKH.

Dia bersama anak-buahnya turun langsung ke desa-desa tempat para penerima dana PKH itu bermukim. Pak Coklat dan para ‘researcher’-nya menanyai satu-satu warga desa-desa tsb tentang pilihan di pilpres April nanti. Hampir seratus persen menjawab Prabowo-Sandi.

Tentunya Pak WC mengharapkan agar warga menyebut nama Jokowi. Ternyata, para emak desa juga berani-berani sekarang. Mereka menyebut Prabowo.

Setelah selesai melakukan survai, akhirnya Wereng menyimpulkan elektabilitas Jokowi di desa-desa dimaksud. Di satu desa ditemukan 0.7 persen. Di desa lain ada yang 0.5 persen, dan ada yang hanya 0.3 persen, dst. Tidak ada hasil survai mereka yang di atas 1%.

Singkat cerita, Kepala Wereng Coklat kabupaten merasa kecewa. Kecewa terhadap ‘kepintaran’ warga dalam berpolitik. Semula mereka ingin mendengar Jokowi adalah pilihan warga penerima PKH. Karena mereka menjual PKH itu sebagai program Jokowi. Namun, akhirnya dipermalukan sekalian. Mereka dengan lantang menyebut pilihan mereka adalah Prabowo.

Survei itu dilakukan oleh Pak Coklat, seadanya. Jangan pula Anda bayangkan survei serius dengan istilah-istilah canggih seperti “multi-staged sampling”, “margin of error”, dlsb. Tetapi, mereka langsung bertanya ke warga di kampung-kampung yang banyak mereka suguhi dana PKH.

Rupanya, sampai begitulah militansi Wereng Coklat mendukung Jokowi. Padahal, semua ini melanggar sejumlah peraturan-perundangan.

Asyari Usman
(Penulis adalah wartwan senior)

BACA JUGA!

Narasi Radikalisme; Absurd dan Tendensius

Di dalam sebuah forum diskusi, Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD menyatakan bahwa ada Ulama …