Kondisi Perumnas Balaroa pascagempa dan tsunami Palu.

Maksiat Undang Musibah

Akhir-akhir ini, bencana terus melanda bumi kita. Entah karena bumi yang semakin menua. Atau Allah Ta’ala sudah jengah melihat tingkah pola hambanya yang terlalu sering lupa ketimbang berdzikir menyebut asma-Nya. Dan sepertinya memang manusia telah lupa akan kodratnya untuk beribadah kepada Allah, dan sibuk dengan aktifitas dunia yang tiada berujung.

Dari Abu Hurairah ra berkata; bersabda Rasulullah Saw: “Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, beiajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran, membenci ayah, bersuara keras (menjerit jerit) di masjid, orang fasig menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhiaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minum keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa,longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat). (HR. Tirmidzi)

Faktanya segala bencana yang terjadi selalu berkaitan degan dosa yang telah kita perbuat. Sebab kemaksiatan sudah menjadi kebanggaan baik di tingkat pemimpin maupun sebagian rakyatnya, perintah atau ajaran agama banyak yang tidak diindahkan, orang-orang miskin ditelantarkan.

Bahwasannya Allah telah memberitahukan kepada kita didalam Al-Qur’an: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (TQS. Asy-Syura: 30).

Na’udzu billah, jika kita melihat keburukan-keburukan yang ada di kalangan umat sekarang ini, alangkah banyaknya kesyirikan, perang saudara, penindasan kaum lemah, perpecahan, kedzaliman, kemaksiatan, jauhnya tuntunan ajaran al-Qur’an dan sunnah, banyaknya taklid buta, fanatik golongan, mengikuti ajaran dan tradisi orang-orang kafir, dan lain sebagainya.

Kondisi hari ini dimana sistem sekularisme merajalela, melahirkan generasi minim aqidah dan akhlak mulia. Membuahkan hasil remaja dan generasi lanjut usia yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Bertindak sesukanya, berbuat semaunya tanpa peduli mana hak dan bathil, mana halal mana haram. Bercampur baur antara laki-laki dengan perempuan tanpa pandang batasan-batasan aurat, mereka anggap sudah biasa.

Masalah kepemimpinan, amanah dan penguasa. Jika suatu bangsa memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat, baik (shalih), cakap/cerdas dan kompeten dan amanah, maka kebangkrutan dan kehancuran sebuah bangsa tinggal menunggu waktu saja. Sebab, pemimpin seperti itu menganggap kekuasaan bukan sebagai amanah untuk menciptakan kesejahteraan dan ketentraman bagi rakyatnya, tetapi sebagai sarana dan kesempatan untuk memperkaya diri dan bersenang-senang. Menjauhkan Islam dari mayarakat dan menganti menjadi sistem sekuler yang sangat nyata.

Sudah terlalu banyak kemaksiatan yang terjadi di bumi Allah sebab manusia sombong dan mencampakan aturan Ilahi. Maka memanglah benar kembali pada syariat-Nya dengan berislam kaffah adaalah satu-satunya jalan keluar untuk segala problematika hidup. Sampai kapan kita akan terus terbodohi oleh penguasa dengan dalih kesejahteraan umat. Siapapun penguasanya, seberapa kalipun berganti pemimpin. Jika sistemnya masih sama maka tidak akan ada perubahan. Sadarlah dengan sistem yang sedang menjerat bahkan mencekik ini. Sadarlah akibat dari kekufuran yang merajalela di bumi Indonesia. Memang tidaklah mudah dalam perjuangan dalam menegakkan Islam kaffah. Namun janji Allah itu pasti. Wa’allahu’alam bishshawwab.

Fajrina Laeli
(Mahasiswi STIE Insan Pembangunan)

BACA JUGA!

Pertemuan IMF-WB di Bali, Heroisme yang Antiklimaks

“Jokowi Sebut Asia-Afrika Tak Butuh Bank Dunia dan IMF” demikian judul yang dibuat Tempo.co, pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *