Media Sosial

Media Sosial sebagai Poros Eksistensi Diri

Menurut penelitian yang dilakukan We Are Social, perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite, rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial. (kompas.com)

Masih dilansir dari kompas.com, dari laporan berjudul “Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World” yang diterbitkan tanggal 30 Januari 2018, dari total populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 130 juta dengan penetrasi 49 persen.

Sebanyak 120 juta orang Indonesia menggunakan perangkat mobile, seperti smartphone atau tablet untuk mengakses media sosial, dengan penetrasi 45 persen. Dalam sepekan, aktivitas online di media sosial melalui smartphone mencapai 37 persen.

Data diatas menunjukkan besarnya penggunaan media sosial di Indonesia. Bagaimana tidak, di zaman milenial ini teknologi dan media dosial sebagai penunjang banyak aktivitas. Bahkan sudah menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Gadget, signyal dan kuota menjadi list kebutuhan pokok masyarakat milenial. Bahkan menjadi syarat dasar eksistensinya di dunia maya.

Pengaruh di sosial media sangat kuat. Bahkan pengaruh ini mengubah kebiasaan dan cara pandangan masyarakat. Muncul pula istilah-istilah baru seperti netizens, citizen journalis, selebgram, endorse, Instagramable dll.

Tidak hanya pengaruhnya yang besar, kelebihannya pun tak kalah besar, sebab aktivitas masyarakat saat ini banyak yang menggantungkan hidup dari media sosial. Pada akhirnya media sosial menjadi poros eksistensinya. Kita ambil contoh jual beli online. Mulai dari marketing dan transaksinya, semua bisa dilakukan di media sosial.

Ada juga selebriti yang menggantungkan penghasilannya dari eksistensinya sebagai Vlogers atau YouTubers, yang mana akan mendatangkan pundi-pundi rupiah dari iklan dan endorsement. Masih banyak lagi contoh ketergantungan masyarakat akan kebutuhan sosial media.

Tidak hanya dari sisi penghasilan saja yang digantungkan dari sosial media, dari sisi kebiasaan masyarakat pun juga menggantungkan sosial media juga. Kita ambil contoh, dulu ketika sosial media belum ada, biasanya orang yang pergi ke restoran, kebutuhannya kalau tidak makan ya untuk sekadar nongkrong, tapi sekarang jika orang hendak makan di Restoran, kebutuhan mereka tidak hanya urusan perut, tapi juga masalah eksistensi.

Masuk restoran Selfi, sebelum makan instastory dulu, setelah makan buat Boomerang. Akhirnya menjamurlah restoran yang berkonsep unik agar Instagramable. Ini adalah salah satu cara pemilik Restauran untuk menarik pengunjung. Baik di dunia maya atau dunia nyata.

Tidak hanya itu, saat masyarakat kota hendak pergi ke taman kota, tidak hanya untuk bersosialisasi saja, tapi juga bentuk eksistensi terhadap sosial media. Akhirnya menjamurlah taman-taman di pusat kota-kota di Indonesia, yang dipercantik agar Instagramable. Hal ini bertujuan agar kota-kota kecil bisa dikenal di seluruh Indonesia.

Tidak hanya masyarakat awam saja yang menggantungkan aktivitasnya di sosial media, para pengemban dakwah ideologis pun tak kalah unjuk diri dalam aktifitas dakwahnya di media sosial. Sebab saat ini masyarakat tak lagi mencari-cari berita lagi, bahkan berita itu akan datang dengan sendirinya lewat media sosial.

Kesempatan inilah yang juga digunakan para pengemban dakwah ideologis untuk mengopinikan Islam di media sosial. Maka menjamur pula kajian-kajian Islam yang bertema menarik, berkonsep unik yang instagramable, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikutinya dan agar dikenal di seluruh Indonesia.

Bahkan uniknya para pesertanya banyak yang mengetahui info kajian dari media sosial. Transaksi infaq serta pendaftaran pun dilakukan via media sosial pula. Ajang selfie saat kajian juga terjadi, bahkan yang bernilai positif dan insyaallah mendatangkan pahala. Sebab menunjukkan bahwa kajian Islam mampu mempererat tali ukhuwah Islamiyyah.

Bukankah aktivitas ini lebih bermanfaat dari sekadar selfie di restoran atau di taman? Bahkan sangat selaras antara aktivitas dunia maya dan dunia nyata. Jadi poros kehidupan ada pada dakwah itu sendiri, bukan eksistensi diri di sosial media. Ketika hanya berporos pada eksistensi di dunia Maya saja, dikhawatirkan akan melupakan kewajiban dan hak di dunia nyata. Sebab segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Wallahu a’lam bishowab

[Tari Ummu Hamzah]

BACA JUGA!

Dakwah? Siapa Takuut!

Sobat, coba deh kamu cermati teman di sekolah maupun di rumah, terutama remaja di zaman …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *