Memaknai Idul Adha

Ahad, 11 Agustus 2019 bertepatan dengan10 Dzulhijah 1440 H, kaum Muslimin merayakan Hari Raya Idul Adha. Pada Hari Raya Idul Adha ini kita mendapatkan momen berkurban. Kaum Muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rakaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu.

Anjuran berkurban bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim as kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail as. Peristiwa ini memberi kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak, Nabi Ibrahim as yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Allah untuk menyembelih putranya sendiri.

Nabi Ibrahim as dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Allah atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak taat pada perintah-Nya. Sebuah keputusan yang sulit, namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Allah pun dilaksanakan. Pada akhirnya, Nabi Ismail as disembelih tapi kemudian Allah gantikan dengan seekor kambing.

Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail di atas, bagi kita harus dimaknai dengan agung, ada pembelajaran yang kita dapat, yaitu: Pertama, ketakwaan. Takwa terkait dengan ketaatan seorang hamba pada Sang Khalik dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Menyadari bahwa hidup semata untuk beribadah kepada Allah dan hidup di dunia merupakan ladang untuk memperbanyak kebaikan sebagai bekal di akhirat. Sehingga kehidupan di dunia tidak akan terpisah dari upaya meraih kehidupan yang baik di akhirat nanti.

Namun pada kenyataan sekarang, manusia hanya meraih kesenangan di dunia saja tanpa berpikir halal dan haram, kemaksiatan bak air mengalir. Begitu juga penguasa pun belum menyadari bahwa ketaatannya dalam menerapkan aturan Allah secara sempurna di dunia.

Kedua, hubungan antar manusia. Ibadah-ibadah umat Islam yang diperintahkan Allah mengandung dua aspek tak terpisahkan yakni kaitannya dengan hubungan kepada Allah (hablumminnalah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas).

Islam sangat memperhatikan solidaritas sosial dan sikap kepekaan sosialnya, berempati terhadap sesama melalui media ritual tersebut. Dengan menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada orang tak berpunya merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial seorang Muslim kepada sesamanya yang tidak mampu. Kehidupan saling tolong menolong dan gotong royong dalam kebaikan merupakan ciri ajaran Islam.

Hikmah yang dapat dipetik dalam hal ini adalah seorang Muslim diingatkan untuk siap sedia berkurban demi kebahagiaan orang lain, selalu mawas diri atas godaan dunia agar tidak terjerembab perilaku tidak terpuji seperti keserakahan, mementingkan diri sendiri.

Begitulah sekiranya makna dari pelaksanaan Idul Adha yakni hakikatnya manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah takwanya, sehingga tidak ada kesombongan yang menguasai diri. Selalu menyadari sebagai hamba yang lemah sehingga ketundukan kepada Allah dapat mengalahkan hawa nafsu.

Ayyuhanna Widowati, S. E. I.
Guru, tinggal di Depok

BACA JUGA!

Mengagumi Skenario Allah Melumpuhkan Musuh

Rasanya susah untuk tidak berdecak kagum pada setiap skenario Allah. Dan terasa semakin kuat keyakinan …