Mengagumi Skenario Allah Melumpuhkan Musuh

Rasanya susah untuk tidak berdecak kagum pada setiap skenario Allah. Dan terasa semakin kuat keyakinan akan ayat-ayat Allah. Al-Qur’an itu benar, firman Allah itu mewujud nyata. Dalam surah Ali Imron ayat 54, Allah SWT berfirman: “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” Ayat ini membayar tuntas aksi terorisme di Selandia Baru.

Jumat, 15 Maret 2019 lalu adalah hari paling kelabu di New Zeland. Sekelompok teroris bersenjata menembaki umat muslim yang sedang melaksanakan shalat Jumat. 50 korban tewas di dua masjid Christchurch yang menjadi sasaran tembak Brenton Tarrant dan kawan-kawan.

Suatu respon dan rasa simpatik yang sangat tinggi ditampilkan oleh Perdana Menteri New Zeland, Jacinda Ardern. Sesaat setelah aksi penembakan brutal, Ardern dengan tegas mengatakan bahwa aksi tersebut adalah sebuah terorisme. Dan mengumumkan secara langsung larangan senjata otomatis dan semi-otomatis.

Seminggu setelah aksi terorisme itu, Ardern bergabung bersama 20.000 orang berdiri dengan tenang di Hagley Park, di depan masjid Al Noor. “Selandia Baru berduka bersamamu. Kami adalah satu,” katanya dalam sebuah pidato singkat, diikuti oleh mengheningkan cipta selama dua menit. (detik.com, 23/03/2019).

Warga New Zeland ramai-ramai membentuk rantai manusia untuk melindungi umat muslim yang sedang melaksanakan shalat jum’at. Bahkan para perempuan New Zeland mengenakan kerudung sebagai aksi simpatik kepada warga muslim (detik.com, 22/03/2019). Dan untuk pertama kalinya azan disiarkan langsung ke seluruh antero New Zeland.

Teroris pikir, dia bisa menimbulkan ketakutan pada umat muslim, ternyata sebaliknya. Aksinya justru mempertebal keimanan warga muslim New Zeland, menambah rasa persaudaraan sesama muslim, memperkuat rasa persatuan seluruh rakyat New Zeland. Lihatlah bagaimana skenario Allah bekerja.

Menengok kembali pada tragedi runtuhnya gedung WTC di Amerika pada tanggal 11 September 2001. Pasca peristiwa tersebut, AS mengumumkan perang melawan terorisme sembari mengirimkan pasukan ke Afghanistan yang notabene negeri muslim. Dengan kata lain, AS menggiring opini bahwa terorisme diproduksi oleh orang Islam.

Islam pun seketika menjadi pusat perhatian dunia. Apapun bentuknya, AS harus melihat kenyataan bahwa jumlah penduduk muslim di Amerika terus meningkat. 13 tahun pasca tragedi, ada 20.000 warga Amerika memeluk Islam. 3.000 diantaranha mengucap syahadat di Masjid New York Islamic Center. Jumlah masjid pun meningkat. Tingkat pengetahuan agama Islam yang tadinya rendah pun mengalami peningkatan (republika.coid, 08/10/2014).

Meskipun label teroris ini sangat merugikan umat muslim di seluruh dunia. Namun kita tak bisa pungkiri, label ini justru menambah motivasi kita untuk mengkaji Islam yang sesungguhnya. Mempelajari Islam dan menemukan bahwa ada skenario menjegal kebangkitan Islam dari WOT (war on terorism) tersebut. Hingga bangkitlah daya juang kita, mendakwahkan Islam ideologis yang rahmatan lil alamin. Dampaknya, geliat persatuan umat menuju kebangkitan semakin nyata. Lagi-lagi, skenario Allah lebih baik dari makar musuh Islam.

Bagaimana negeri kita? Masih ingat dengan aksi pembakaran bendera tauhid? Pelaku dan pendukungnya kekeuh bahwa yang dibakar adalah bendera HTI. Aksi mereka justru dibalas dengan pengibaran jutaan bendera tauhid di reuni aksi bela Islam (ABI) 212 tahun 2018. Meskipun banyak terjadi perdebatan tentang jumlah peserta reuni 212 2018 tadi, namun semua sepakat bahwa jumlahnya melebihi ABI 212 2016.

Aksi pembakaran bendera tauhid itu menjadi momen kembalinya bendera warisan Rasulullah ke tangan pemiliknya, yaitu umat muslim. Umat sudah mencintai bendera tauhid tanpa pernah berpikir ada HTI d ibalik bendera itu. Dakwah bertahun-tahun yang dilakukan oleh HTI untuk mengenalkan panji Rasulullah pun lunas oleh aksi pembakaran tersebut. Indahnya skenario Allah.

Jelang pemilu 17 April 2019 ini pun semakin terlihat cantiknya skenario Allah. Konflik internal partai-partai pendukung petahana, PSI dan PDIP, Golkar vs Nasdem, PPP lawan PKB, menunjukkan kerapuhan koalisi mereka.

Black campaign dilakukan ketua PPP, Romahurmuziy kepada capres 02. Rommy, sapaan akrab Romahurmuzy, menuduh HTI di belakang Prabowo. Dia juga memonsterisasi ide Khilafah, padahal Khilafah adalah ajaran Islam. Aksi Rommy dibayar kontan dengan OTT KPK atas dirinya. Cantiknya skenario Allah.

Kubu 01 dihuni oleh para pendukung pembela penista agama. Ulama pun mereka kriminalisasi. Mereka juga mendukung perppu ormas menjadi UU Ormas. Dengan UU Ormas tersebut, rezim ini bisa mencabut BHP suatu ormas tanpa melalui proses persidangan. Hal yang sebenarnya melanggar konstitusi. Dan HTI adalah korban pertamanya. Karena HTI dalam dakwahnya sering membongkar persekongkolan penguasa dan pengusaha yang merugikan rakyat jelata.

Partai-partai pendukungnya mengaku paling nasionalis. Mereka anti syariat Islam dan ingin menghapus semua perda berbau Islam. Para ketua partainya mengaku paling Pancasila dan NKRI, namun ternyata nyaris semua ketua partai ditangkap KPK atas kasus korupsi.

Perang mereka terhadap umat muslim dibalas Allah dengan menelanjangi kebobrokan mereka. Berubahnya hasil survei dari Kompas.com menjadi sinyal keruntuhan rezim. Rezim yang telah terbukti gagal, ingkar janji, dan pembohong, namun masih ngotot mempertahankan kekuasaan.

Mari mengagumi skenario Allah sambil terus melangitkan sholawat Asyghilil.

[Mahrita Julia Hapsari]

BACA JUGA!

Belajar Adil dari Khalifah Umar

Model kepemimpinan Amirul Mukminin Umar dalam menegakkan keadilan harus menjadi teladan seluruh pemimpin Islam.