Kota Gaza dibom Israel.

Mengakhiri Arogansi Israel

Kecongkakan Israel dalam mencaplok wilayah bumi Palestina kian menjadi-jadi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji, dirinya akan mencaplok permukiman Israel di Tepi Barat jika menang dalam pemilihan umum (pemilu) yang akan dilangsungkan pada 9 April 2019. Sontak keputusan sesumbarnya tersebut langsung membuat para pemimpin Palestina beraksi dengan keras.

Kepala negosiator Palestina dan pembantu dekat Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Saeb Erekat mengatakan, Israel tidak akan berhenti melanggar hukum internasional selama mendapatkan dukungan terutama dari Amerika Serikat (AS).

Bahkan arogansi Israel akan tetap mencuat dalam sejumlah pelanggaran hukum Internasional selama masyarakat internasional terus memberikan penghargaan kepada Israel, terutama dengan dukungan Administrasi Donald Trump dan dukungan pelanggaran Israel terhadap hal nasional dan hak asasi manusia rakyat Palestina (republika.com/7/4/2019).

Palestina merupakan sasaran utama dari kecongkakkan Israel. Keinginannya mencaplok Tepi Barat tak lain, tak bukan untuk memperluas permukimannya. Bahasan permukiman pun merupakan salah satu masalah paling krusial dalam upaya untuk memulai kembali perundingan damai Israel-Palestina.

Setelah puluhan tahun membangun permukiman, lebih dari 400 ribu warga Israel kini tinggal di Tepi Barat. Sementara, menurut Biro Statistik Palestina, terdapat 2,9 juta warga Palestina yang juga berdomisili di Tepi Barat.

Sementara itu, Koordinasi Urusan Kemanusian PBB menyebut sekitar 212 ribu permukiman Israel tinggal di Yerusalem Timur. Palestina dan banyak negara menyatakan bahwa konvensi Jenewa melarang permukiman dibangun di atas tanah yang direbut dalam perang.

Namun, apa boleh dikata Israel dengan percaya dirinya mampu menangkis hal tersebut, mereka menyebut pembangunan permukiman dengan dalih kebutuhan keamanan, historis, dan politis. Seolah memiliki posisi sakti, apa yang dinyatakan Israel selalu diamini masyarakat internasional. Ditambah lagi dengan kebijakan Presiden AS, Donald Trump yang jelas membenci Islam dan mem-backing kuat Israel. Sampai-sampai mengatakan bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel sehingga kantor kedutaan besarnya ke kota tersebut (Desember 2017). Jadilah arogansi Sang Laknatullaah kian menjadi, merasa di atas angin.

Berbicara bumi Palestina, adanya merupakan tanah milik kaum Muslim. Sifatnya kharajiah, sebagai tanah yang telah ditaklukkan oleh kaum Muslim di bawah komando Umar bin Khattab (638) dan berlaku abadi sampai kiamat nanti.

Saat itu seluruh wilayah Palestina dimerdekakan dari penjajah Romawi. Seterusnya seluruh penduduk Palestina, muslim maupun non muslim, hidup aman di bawah kepemimpinan Islam. Kebebasan beragama pun dijamin.

Namun, kekisruhan dirasa kentara saat kepemimpinan Islam mulai melemah dan akhirnya runtuh. Barat memperalat Zionis Yahudi untuk semakin mempersempit area Palestina dan membuat nestapa penduduknya. Sampai benar-benar dirasa bahwa ketiadaan kepemimpinan Islam terakhir di Turki Utsmani (1924) menjadi gerbang kearogansian Israel dan Penjajah Barat. Penjajah meraja, sementara kaum Muslim dibuat semakin merana.

Israel adalah kombinasi dari sedang lemahnya umat Islam, oportunisme Zionis Yahudi serta rencana Barat untuk mengontrol bumi dan umat Islam.

Dengan sangat disayangkan, akhirnya di Palestina berhasil didirikan negara Yahudi setelah sebelumnya umat Islam berhasil diracuni dengan pemikiran-pemikiran liar yang tidak islami, sebut saja nasionalisme, sehingga dapat dipecah belah bahkan sampai dilenyapkan khilafah-nya.

Nabi berkata: Kunci Timur dan Barat telah ditunjukkan Allah untukku dan kekuasaan ummatku akan mencapai kedua ujungnya. Telah kumohon kepada Rabb-ku agar umatku tidak dihancurkan oleh kelaparan maupun oleh musuh-musuhnya. Rabbku berkata: Apa yang telah Ku-putuskan tak ada yang bisa mengubahnya. Aku menjamin bahwa umatmu tak akan hancur oleh kelaparan atau oleh musuh-musuhnya, bahkan jika seluruh manusia dari segala penjuru dunia bekerja bersama-sama untuk itu. Namun di antara umatmu akan ada yang saling membunuh atau memenjarakan. (HR Muslim no. 6904)

Oleh sebab itu, tak heran jika strategi Zionis maupun Barat adalah meruncingkan permusuhan di kalangan umat Islam sendiri dengan mengoyak ukhuwahnya. Namun, sesungguhnya Zionis atau Barat pun, pada fakta saling bersaing demi kepentingannya. Karena yang terhunjam dalam benak-benak mereka adalah sebuah kepentingan egonya. Yang kelak akan mencurangi satu dengan yang lainnya.

Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (QS. 59:14)

Jika arogansi Israel menguat karena faktor kombinasi melemahnya umat Islam dalam ukhuwah dan kepemimpinan, dipadu-padan dengan oportunis Zionis dan Imperialis, ini menjadi kunci untuk mengetahui formulasi agar kita dapat menentukan amunisi jitu untuk segera mengakhirinya.

Kaum Muslim dan para pemimpin negeri Muslim, marilah rapatkan barisan, satukan pemikiran kita dengan ideologi Islam. Satukan visi misi untuk berjuang menegakkan Islam dan kepemimpinannya.

Niscaya zionis dan Imperialis Barat akan gentar melihat umat Islam bersatu kembali. Sesungguhnya persatuan umat di bawah kepemimpinan Islamlah yang akan membuat umat kuat tak mudah dicerai-beraikan Israel dan Imperialis Barat seperti Amerika Serikat. Wallahu’alam bishowab.

Ammylia Rostikasari, S.S.
(Komunitas Penulis Bela Islam)

BACA JUGA!

Narasi Radikalisme; Absurd dan Tendensius

Di dalam sebuah forum diskusi, Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD menyatakan bahwa ada Ulama …