Massa Aksi Bela Islam 3, Jumat 2 Desember 2016, di kawasan Bunderan BI tampak dari udara.

Menggapai Kebangkitan Hakiki

Wacana perubahan, menjadi topik hangat belakangan ini. Masyarakat menginginkan perubahan yang lebih baik. Kehidupan sulit dan sempit yang melibas mereka, membuat masyarakat semakin kritis melihat arah pandang politik. Berbagai fakta buruk yang berkelindan di seputar mereka, pun membuat masyarakat akhirnya mencari jalan untuk ke luar dari persoalan hidup.

Tanggal 20 Mei 1948 ditetapkan oleh Presiden Sukarno sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pertama kali disebut sebagai Hari Kebangunan Nasional. Hal ini sebagai penanda, mengawali jalan menuju proklamasi. Saat masyarakat kala itu ingin lepas dari belenggu penjajahan.

Berdirinya organisasi Budi Utomo, dianggap sebagai titik balik bangkitnya rasa persatuan dan kesatuan di kalangan cendekiawan. Perjuangan melawan penjajah yang semula sporadis, kedaerahan, menjadi lebih teratur saat didirikannya Budi Utomo. Menggunakan strategi baru, yaitu membentuk organisasi.

Awalnya organisasi ini bergerak di bidang sosial, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan, bersifat lokal hanya untuk kalangan priyayi Jawa dan Madura. Namun sejak tahun 1915 Budi Utomo mulai bergerak di bidang politik. Peristiwa Perang Dunia I (1914-1918) memaksa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda memberlakukan milisi, wajib militer bagi warga pribumi.

Kebangkitan nasional pada masa itu adalah suatu keadaan di mana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang sebelumnya tidak pernah muncul selama masa penjajahan. Sekelompok kaum terpelajar menggagas perlunya perubahan akibat penindasan dan penjajahan.

Beberapa hal yang kemudian membuat organisasi ini bubar, adalah ketika masyarakat mulai berpaling darinya. Sedikit demi sedikit simpatisan mundur, terutama dari kalangan pelajar itu sendiri. Alasan yang mencuat kala itu karena gerak organisasi lebih banyak berpihak pada Belanda. Bahasa yang disampaikan juga Bahasa Belanda. Pendidikan yang diajarkan pun ala Belanda.

Pendidikan untuk priyayi lebih diutamakan daripada rakyat jelata. Sementara para priyayi lebih mementingkan menjaga status quo mereka ketimbang kemerdekaan. Selain itu juga, karena Budi Utomo tidak pernah mendapat dukungan massa, kedudukannya secara politik kurang begitu penting, sehingga pada tahun 1935 organisasi ini resmi dibubarkan. (M.C.Ricklefs : 1998 : 251)

Akhirnya perjuangan kebangkitan ini laksana jalan di tempat. Lebih dari 1 abad, tapi negeri ini belum menunjukkan tanda-tanda bangkit. Pantas saja, sebab masih berkiblat pada Barat. Menganggap mereka mulia, dan segala yang datang dari mereka adalah kebaikan. Maka selamanya masyarakat berada di lantai dasar. Menuju peradaban tinggi dengan segala beban kebangkitannya, tidak akan pernah mampu dicapai.


Realitas Indonesia saat ini masih mengalami keterpurukan dengan jumlah hutang yang tinggi. Berita seputar kemiskinan, kekerasan, kriminalitas, korupsi, dan berbagai ketidakadilan menghiasi berbagai media. Penjajahan terhadap negeri ini pun sesungguhnya masih terus berjalan, hanya tidak dalam bentuk penjajahan fisik.

Napak tilas kebangkitan nasional, kebangkitan yang salah arah. Mengulangi kegagalan pendahulunya, akhirnya Indonesia masuk di lubang yang sama. Sistem rusak yang masih diemban penguasa dan masyarakat, justru menjadi akar penyebab sulitnya negeri ini bangkit. Ketika penjajahan berganti kostum, anak-anak bangsa tak mampu mengidentifikasi.

BACA JUGA!

Save FPI!

Kezaliman itu makin menjadi. Tak puas dengan HTI, mereka menarget FPI. Ya, target pembubaran ormas …