Mewaspadai Penyebaran Kaum LGBT

Beredarnya komik muslim gay menggemparkan dunia maya. Akun tersebut telah memiliki lebih dari 3.000 followers. Dengan deskripsi gambar profil pria bermata cokelat memakai kopiah. Akun tersebut mengunggah komik yang materinya adalah kehidupan seorang pria muslim dengan orientasi seksual sejenis. Tentu banyak netizen yang bereaksi, tidak sedikit dari mereka yang mengutuk.

“Tidak ada tempat bagi LGBT di Indonesia, sebab negara kita memang bukan negara agama, tapi negara yang memiliki agama. Semua kitab yang dibaca, Alquran bagi muslim, Injil bagi Nasrani, Taurat bagi Yahudi dan lain-lain melarang perkawinan sejenis,” kata anggota Komisi I DPR dari Fraksi PPP Syaifullah Tamliha (m.detik.com, 10/2/2019).

Sungguh penyesatan secara masif, semakin hari semakin berani unjuk gigi. Menyebarkan penyimpangan yang mereka agungkan. Terlebih menggunakan ciri-ciri muslim sebagai pelaku pencinta sesama jenis. Sehingga menampakkan kesan ajaran Islam menerima kelainan orientasi sex ini. Padahal dalam Islam tidak dibenarkan sama sekali. Justru dilarang secara jelas dan tegas.

Perilaku kaum nabi Luth tidak layak mendapat dukungan. Pada dasarnya manusia diciptakan berpasangan yaitu lelaki dan perempuan dengan tujuan menjaga kelestarian manusia itu sendiri. Jadi, tidak bisa dibenarkan apabila kaum LGBT dibiarkan begitu saja. Ketertarikan terhadap sesama jenis merupakan penyakit serius bagi masyarakat. LGBT sendiri terjadi akibat faktor lingkungan dan sosial. Penyimpangan yang bisa menjadi virus apabila tidak ditangani dengan tepat sehingga dapat menyebar dan menjadi endemik. Apalagi jika fasilitas media sosial juga memberikan jalan untuk menyebarluaskan. Apa yang akan terjadi pada penerus bangsa ini?

Maraknya penyebaran LGBT tak lepas dari sistem demokrasi. Dimana sistem ini menjunjung tinggi kebebasan yakni gaya hidup liberal. Termasuk kebebasan orientasi sex dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM). Bagi negara sekuler penyimpangan orientasi sex bukan suatu masalah, selama tidak mengganggu dan merugikan orang lain. Bahkan mereka diberi ruang kebebasan dengan mengatas namakan HAM dan saat ini mereka sedang gencar mempromosikan diri melalui berbagai media, baik media cetak maupun elektronik. Agar banyak pasang mata terbiasa melihat dan akhirnya menerima kondisi mereka secara utuh.

Tentu pemahaman seperti ini tidak dapat dibiarkan. Pasalnya bukan hanya penularan penyakit berbahaya saja yang akan mengintai, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Jika terus dibiarkan bisa dipastikan manusia akan punah dan yang lebih mengerikan adalah azab dari Allah SWT.

Beginilah ketika hidup menerapkan hukum sekuler, hukum hasil buatan manusia. Sejenius apa pun IQnya tak akan mampu menandingi aturan sang pencipta. Sebaik apa pun hukum yang berusaha disajikan akan tetap ada yang namanya cela.

Sudah seharusnya negeri ini bertindak tegas, bukan hanya menutup akun penyebar paham LGBT. Tetapi juga menutup seluruh pintu celah menuju kemaksiatan lainnya. Hanya saja selama sistem yang digunakan adalah sistem rusak ini, tak akan pernah selesai seluruh persoalan negeri ini. Mari campakkan hukum rusak ini dan beralih pada syariat Allah Swt. Sehingga pemeliharaan keturunan manusia dan nasabnya terjaga.

BACA JUGA!

Liberalisasi, Generasi Semakin Rusak

Baru-baru ini ada pemberitaan yang membuat miris yakni MT, mantan Kepala Sekolah di Kabupaten Soppeng, …