Prabowo saat mengunjungi Ratna Sarumpaet di rumahnya.

Minta Maaf Soal Ratna Sarumpaet, Begini Curhatan Prabowo

Jakarta (PIKIRAN UMAT)-Calon Presiden Prabowo Subianto secara terbuka telah meminta maaf kepada masyarakat Indonesia melalui konferensi pers di rumahnya, Kamis malam 3 Oktober 2018. Permintaan maaf itu terkait dengan pengakuan kebohongan yang dilakukan oleh aktivis Ratna Sarumpaet. Ratna mengakui dirinya tidak menjadi korban penganiayaan sebagaimana pengakuan dirinya kepada Prabowo sehari sebelumnya.

Bukan hanya melalui konferensi pers, yang disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi nasional dan dimuat oleh hampir seluruh media massa, Prabowo juga menyampaikan permohonan maafnya melalui akun facebook.

Dikutip Pikiranumat.com dari fanspage Prabowo Subianto, Kamis (04/10/2018) begini curahan hati dari Ketua Umum Partai Gerindra tersebut:

Saya mungkin termasuk pribadi yang sentimentil. Mudah tersentuh karena sebuah kabar. Cepat tergerak karena riak. Dan kadang-kadang gampang bergegas karena tidak bisa sekedar bersimpati. Dengan sikap seperti itulah saya berbagi empati dengan saudara-saudara yang lain. Setiap kemalangan menimpa salah seorang saudara kita, menimbulkan kegelisahan yang sangat pada diri saya. Tidak ada obat gelisah yang lebih mujarab selain bertemu langsung dan coba memecahkan persoalan yang ada.

Hal itu pula lah yang saya rasakan saat mendengar simpang siur kabar mengenai kondisi Ibu Ratna Sarumpaet (RS). Foto-foto beredar dengan cepat disertai kronologis peristiwa yang meyakinkan. Tidak hanya saya, sahabat-sahabat yang lain juga langsung tergerak hatinya begitu mendengar kabar duka yang menimpa beliau. Ibu RS adalah seorang sahabat, tokoh inspiratif yang konsisten berdiri memunggungi kekuasaan. Teladan yang sudah dibangunnya jauh sebelum era reformasi. Seorang seniman yang menunjukkan bahwa seni mengabdi pada kemanusiaan bukan pada kekuasaan.

Saya terluka begitu mendengar kabar tentang beliau. Asumsi-asumsi cepat berkembang mengenai peristiwa yang menimpa Ibu RS. Saya cepat mengambil sikap, apapun latar peristiwanya maka hukum harus ditegakkan.

Lewat berbagai cara, akhirnya saya bisa dipertemukan dengan beliau. Sayangnya, pertemuan itu tidak jua membuka kotak pandora peristiwa. Pengakuan yang disampaikan Ibu RS langsung kepada saya malahan memperkuat sinyalemen-sinyalemen yang berkembang.

Baru belakangan, Ibu RS membuka pengakuan mengejutkan yang sudah kita ketahui semua, bahwa fakta sesungguhnya jauh menyimpang dari cerita sebelumnya.

Saya sadar, sebagai manusia saya tidak luput dari kesalahan. Sikap sentimentil yang bersumber dari empati dan peduli sejenak membuat kita lupa untuk mawas diri. Tetapi apa daya, mulut sudah melontarkan kata dan ingatan merangkumnya jadi peristiwa. Riak sehari menjadi gelombang yang menimbulkan kegelisahan di tengah duka yang menimpa bangsa.

Sebagaimana manusia biasa, saya menghaturkan maaf atas kekhilafan yang terjadi. Tidak sedikit pun terbersit niat untuk menimbulkan kegaduhan dari peristiwa ini, hanya naluri kemanusiaan. Sebagai seorang pemimpin, tentu kata maaf saja tidak cukup. Sebab bukan kata tetapi tindakan yang akan membuat perbedaan. Karena itu saya memutuskan untuk memberhentikan Ibu RS dari jabatan beliau di Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto – Sandi Uno. Sebagai teman, saya akan terus menunjukkan kepedulian tetapi sebagai pemimpin saya tidak bisa mentolelir kebohongan.

Saya berharap kita bisa belajar banyak dari peristwa ini. Bahwa itikad baik saja tidak cukup tetapi harus dilandasi kejujuran hati. Semoga hari-hari ke depan, kejujuran menjadi sikap hidup kita agar tidak ada lagi itikad baik yang dibunuh oleh kebohongan.

– PSD –

BACA JUGA!

Camat Taman Tamansari Dicopot, Status Tunggu Hasil Pemeriksaan

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan status final Camat Tamansari Firmanudin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *