Mitigasi Bencana Tanggung Jawab Siapa?

Duka masih dirasakan oleh para korban tsunami di Selat Sunda, khususnya di kabupaten Pndeglang, Serang, dan Lampung Selatan yang terjadi pada Sabtu, 22 Desember 2018 malam. Sampai saat ini mereka masih belum dapat kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. Hal tersebut tentu dikarenakan rumah-rumah mereka yang masih rusak karena terkena tsunami. Tsunami tersebut terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya peringatan. Selain itu, pasalnya setelah beberapa hari terjadinya bencana pun, penyebabnya masih dipertanyakan oleh beberapa pihak lantaran tidak adanya peringatan tsunami.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Wawan Irawan mengatakan, untuk sementara ini pihaknya masih belum dapat menyimpulkan tsunami tersebut disebabkan gunung Anak Krakatau atau bukan. Dilihat dari sisi kegempaan, menurutnya tsunami tersebut bukan disebabkan oleh letusan Anak Gunung Krakatau. Apabila tsunami tersebut disebabkan oleh Anak Gunung Krakatau, maka seharusnya terjadi longsoran dan ada letusan yang besar.

Wawan mengatakan bahwa, jika Anak Gunung Krakatau dapat menimbulkan tsunami maka perlu beberapa alasan. Pertama, saat rekaman getaran tremor tertinggi yang selama ini terjadi sejak bulan Juni 2018 tidak menimbulkan gelombang terhadap air laut, bahkan hingga tsunami. Kedua, material lontaran yang jatuh di sekitar tubuh gunung tersebut masih bersifat lepas dan sudah turun saat letusaan ketika itu. Ketiga, untuk meninmbulkan tsunami sebesar itu diperlukan runtuhan yang cukup masive (besar) yang masuk ke dalam air laut. Keempat, untuk merontokkan longsor ke bagian laut diperlukan energi yang besar. Hal ini tidak terdeteksi oleh seismograph di pos pengamatan gunung api. Jadi menurutnya masih diperlukan data-data untuk mengkorelasikan antara letusan gunung api dengan tsunami.(Republika 23/12/2018)

Direktur Pusat Penelitian Tsunami Universitas Calivornia Selatan, Costas Synolakis menyebutkan tsunami yang terjadi bukan merupakan tsunami pada umumnya. Tsunami tersebut diketahui disebabkan karena Anak Gunung Krakatau yang aktif sejak Juni. Sehingga terdapat dua teori penyebab tsunami tersebut, yaitu disebabkan tanah longsor di bawah air atau semburan lava cair yang menyebabkan perpindahan. Tapi para ahli menyebutkan kemungkinan besar penyebab terjadinya adalah tanah longsor.

Menurutnya, ini adalah tsunami vulkanik, sehingga tidak memicu adanya peringatan. Dari sudut pandang itu, Pusat Peringatan Tsunami pada dasarnya tidak berguna.

Profesor emeritus ilmu bumi di Universitas Northwetern, Emile Okal mengatakan bahwa untuk mendeteksi tsunami dengan benar Indonesia membutuhkan sekitar satu miliar dolar untuk teknologi dan tenaga sepanjang waktu di sepanjang pesisirnya. Bahkan pada saat itu juga bukan merupakan jaminan peringatan akan datang pada waktunya. Ia juga menanggapi pernyataan salah satu pendiri Pusat Penelitian Tsunami di Indonesia, Gegar Prasetyo yang mengatakan bahwa tsunami tidak terlalu besar. Masalahnya adalah orang cenderung membangun di dekat garis pantai. Synolakis mengatakan tidak realistis jika mengharapkan semua orang meninggalkan pantai. Ia menekankan bahwa mereka yang berada di daerah berisiko tinggi harus menyadari potensi serius akan adanya bencana. (Republika 24/12/2018)

Ahli ekologi dan evolusi Krakatau dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Tukirin menjelaskan kemungkinan terjadinya tsunami tersebut adalah karena longsoran tebing bawah laut. Selain itu juga dipengaruhi kondisi pasang air laut yang disebabkan gravitasi bulan saat terjadi purnama. Sehingga air laut naik dan terjadi gelombang yang cukup besar. (Republika 24/12/2018)

BACA JUGA!

Saldo Moralitas Menag Lukman Hakim Menjadi Nol

Setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang tunai 180 juta plus 30 ribu USD dari …