Kondisi Perumnas Balaroa pascagempa dan tsunami Palu.

Musibah Minus Muhasabah

Adalah Bapak Salihin warga desa Balaroa Palu Barat, di hari Jumat 4 Oktober mendatangi tim relawan IGI di Palu. Beliau menuturkan yang intinya “Beliau dan para pengungsi banyak di atas gunung belum makan sejak senin. Persediaan habis, bensin habis. Ada anak bayi dan korban luka. Beliau datang meminta beras. Kebetulan stock beras tim relawan juga habis. Dengan lemah beliau memohon agar diberikan walau hanya sebungkus mie. Bibirnya kering dan badan kekarnya lemas. Sedang stock tidak ada” (Seperti dituturkan oleh tim relawan IGI).

Kisah diatas hanyalah satu diantara ribuan kisah pilu yang terjadi di palu yang mencerminkan kurang optimalnya peran penguasa dalam menangani korban pasca terjadi gempa dan tsunami di Palu.

Di sisi lain, dalam rangka menyambut para tamu pertemuan IMF dan World Bank pada tanggal 8 hingga 18 Oktober 2018, Pemerintah telah semakin matang mempersiapkan segala sarana dan prasarana yang diperlukan. Mulai dari helikopter sebanyak 30 unit hingga kapal selam. (https://m.merdeka.com/uang/30-helikopter-kapal-pesiar-mewah-disiapkan-untuk-kepala-negara-pertemuan-imf.html).

Bahkan PT Pelindo III akan menghabiskan anggaran hingga 700 milyar rupiah untuk pendalaman alur dan kolam di pelabuhan Banoa Bali agar kapal pesiar raksasa MV Genting Dream bisa sandar. Selain itu Pemerintah juga telah menganggarkan anggaran multiyears sebesar 855,5 milyar.(https://m.liputan6.com/amp/3601137/kapal-pesiar-raksasa-bakal-meriahkan,pertemuan-imf-worl-bank-di-bali)

Semua itu adalah bukti bahwa Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan sangat serius dalam menyambut dan melayani tamunya. Hal ini sangat kontras dengan keseriusan pemerintah dalam menolong rakyatnya sendiri di Palu, Sigi dan Donggala. Sudah berapa helikopter dan hercules yang disiapkan?. Ada berapa kapal perang yang disiapkan untuk mengangkut bantuan? Berapa dana yang sudah dianggarkan?

Lima hari pasca gempa, penyaluran bantuan logistik ke sejumlah titik pengungsian belum merata. Bahkan ada yang belum terjangkau bantuan sama sekali sehingga mereka kelaparan. (http://makasar.tribunnews.com/amp/2018/10/02/kekurangan-bantuan-makanan-korban-gempa-di-donggala-mulai-kelaparan)

Ciri khas sistem sekuler

Dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dri kehidupan, musibah baik berupa bencana maupun gempa hanya dimaknai sebagai fenomena alam yang tidak ada dampak sama sekali dalam proses koreksi diri terhadap kelalaian, kemudian bertaubat seraya mengingat kemaksiatan apa yang dilakukan hingga Allah menurunkan bencana.

Sistem kapitalis sekuler hanya mementingkan para pemilik modal agar dapat meraup keuntungan sebesar-besarnya. Ironisnya kepentingan para pemilik modal ini justru difasilisasi oleh negara. Sementara yang terkait dengan urusan pengurusan rakyat negara hanya bertindak sebagai regulator, bukan pengurus urusan rakyat.

Sebagai contoh saat Lombok dijadikan satu dari empat destinasi wisata internasional, maka konsekwensi dari kebijakan ini adalah terjadinya liberalisasi budaya yang menimbulkan dampak a-moral di Lombok dan sekitarnya, yang kemudian mengundang bencana. Tidak adanya kesadaran hubungan dengan Allah ini membuat semakin jauh dari peringatan Allah. Pasca bencana, alih-alih mengoreksi kebijakan pariwisata, malah justru mendahulukan pemulihan pariwisata agar turis segera datang kembali ke Lombok, ketimbang penanganan serius terhadap korban gempa.

Padahal Rasulullah menjelaskan peristiwa bencana ini. Terkait dengan gempa misalnya, suatu kali terjadi gempa di Madinah. Rasulullah SAW lalu meletakkan tangannya di atas tanah seraya berkata, “Tenanglah…belum datang saatnya bagimu.” Rasulullah lalu menoleh pada para sahabat “ Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian.. maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian — dengan meninggalkan maksiat–)”.

Demikianpun dengan Umar bin Khatab ketika terjadi gempa pada masa kekhilafahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah) Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi. Kisah ini menegaskan bahwa gempa terjadi karena maksiat yang dilakukan manusia.

Demikianpun musibah yang terjadi di Palu. Hilangnya ribuan nyawa, hancurnya sarana, prasarana, tenggelamnya satu perkampungan, tidak dijadikan sarana muhasabah diri. Pemerintah justru akan menfasilitasi pertemuan pelaku riba raksasa yaitu bank Dunia dan IMF pada 8-18 Oktober 2018 mendatang di Bali. Perhelatan ini tentu menghabiskan dana tidak sedikit.

Padahal, terkait dengan riba, Rasulullah saw mengingatkan “Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diazab oleh Allah” (HR. al Hakim).

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina 36 kali” (HR Ahmad dan al Baihaqi).

Maka berkumpulnya ribuan pelaku riba di Bali pada 8-14 Oktober 2018 merupakan “ pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapat azab dari Allah SWT.

Kembali ke Islam

Sistem kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan dan negara, yang diadopsi oleh negeri ini sesungguhnya tidak layak digunakan untuk mengatur negara. Ketidak layakan itu terletak pada ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia yang butuh pada aturan Allah. Konsep materialisme yang menonjol dari sistem ini telah menjerumuskan manusia ke jurang kehancuran.

Karenanya jika negeri ini ingin berkah jauh dari bencana, tidak ada jalan lain kecuali harus mencampakkan ideologi sekuler dan menggantinya dengan Islam. Realitas buruk yang terjadi di negeri ini hendaknya menjadi bahan renungan setiap mukmin. Allah SWT mengingatkan “Perbandingan keduan golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin, seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (dari perbandingan itu)” (TQS Hud ayat 24).

Kita sebagai muslim harus meyakini bahwa kebaikan umat hanya bisa dicapai dengan menjalankan aturan Sang Pencipta jagat raya pemegang kekuasaan mutlak. Allah Yang Maha memerintah semesta mengikuti kehendakNya. Sudah saatnya kita kembali menegakkan aturanNya, dan tidak memberi ruang sedikitpun bagi supermasi hukum manusia. Wallahu a’lam bi showab. [Irianti Aminatun]

BACA JUGA!

Saat Gempa Kembali Melanda

Tahun 2018 Indonesia kembali berduka, pasalnya pada tahun ini telah terjadi beberapa kali gempa yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *