Narasi Terorisme di Balik Polemik Pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir

“Silakan tentukan nasib saya di dunia.
Kelak saya akan bersaksi menentukan nasib kalian di akhirat.”
(Ustaz Abu Bakar Ba’asyir)

Merinding. Itulah yang penulis rasakan membaca kutipan di atas. Begitu dalam makna kutipan di atas hingga menyentuh kalbu terdalam. Tergambar betapa teguh dan istiqamahnya beliau dalam menempuhi jalan kebenaran. Hingga tiada yang tersisa kecuali keberanian dan kenikmatan menetapi indahnya jalan dakwah.

Sebagaimana publik mengetahui Ustaz Ba’asyir menjadi korban PHP rezim ini. Pembebasan Ustaz Ba’asyir hingga kini masih menuai polemik. Sebelumnya viral pernyataan Jokowi bahwa pembebasan tersebut Ustaz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) atas dasar kemanusiaan. Namun, beberapa hari berlalu sejak pernyataan tersebut, Menkopolhukam, Wiranto merilis pernyataan resmi bahwa pembebasan Ustadz Ba’asyir masih dikaji ulang. (viva.vo.id, 21/1/2019).

Perbedaan pernyataan antara presiden dan menterinya tentu menimbulkan pertanyaan publik. Di satu sisi memperlihatkan inkonsistensi pemerintah menyikapi pembebasan Ustaz ABB. Bahkan kini pembebasan tersebut terancam batal.

Sikap labil juga diperlihatkan oleh Jokowi. Pasca rilis resmi dari Menkopolhukam terhadap pembebasan tersebut. Jokowi kembali mengeluarkan pernyataan yang berbeda di hadapan wartawan. Menurutnya, ada mekanisme hukum yang harus dilalui. Sebab pembebasan ini bukan pembebasan murni, tapi pembebasan bersyarat. Maka syaratnya harus dipenuhi. (republika.co.id, 22/1/2019).

Padahal menurut Ketua Dewan Pembina Tim Pengacara Muslim (TPM) dan kuasa hukum Ustaz Abu Bakar Baasyir, Mahendradatta, mengatakan pada tanggal 23 Desember 2018, Ustaz Baasyir sebenarnya berhak atas pelepasan bersyarat. Karena telah menjalani 2/3 masa hukuman dan mendapat banyak remisi. Seperti yang sudah diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan Pasal 14 poin k. (republika.co.id, 18/1/2019).

Alotnya pembebasan Ustadz ABB juga disinyalir bahwa Ustaz ABB menolak menandatangani pernyataan setia pada NKRI. Sebab menurutnya kesetiaan hanya untuk Islam saja. Menyikapi hal ini, menurut Prof. Yusril, pernyataan setia kepada Islam sejatinya menunjukan setia kepada NKRI. Namun, banyak pihak yang meragukan dan mengatakan bahwa syarat tersebut belum dipenuhi. Sehingga menimbulkan polemik baru di tengah publik. Padahal pembebasan Ustaz ABB tinggal proses akhir saja.

Tarik ulur pembebasan Ustadz ABB mendulang kritik dari banyak pihak. Jagat maya pun diramaikan dengan tagar #NgurusNegaraKokAmatiran, sebagai sindiran labilnya sikap Jokowi. Sebab bagaimana bisa selevel presiden mengeluarkan pernyataan yang dinilai oleh menterinya sendiri grusa grusu. Bahkan mengarah pada penyebaran berita hoax di tengah publik.

BACA JUGA!

Liberalisasi, Generasi Semakin Rusak

Baru-baru ini ada pemberitaan yang membuat miris yakni MT, mantan Kepala Sekolah di Kabupaten Soppeng, …